Pengangguran Perempuan Gen Z Meningkat: Bukan Karena Malas, Ini Penyebabnya

Mar 10, 2026 - 13:51
 0  3
Pengangguran Perempuan Gen Z Meningkat: Bukan Karena Malas, Ini Penyebabnya

Perempuan dari generasi Z kini menghadapi tantangan signifikan dalam pasar kerja global. Berdasarkan laporan Women in Work 2026 yang dirilis oleh PwC di Inggris, tingkat pengangguran perempuan muda, khususnya yang berusia 16 hingga 24 tahun, mengalami peningkatan cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kenaikan ini bukan disebabkan oleh kemalasan seperti yang sering diasumsikan masyarakat.

Ad
Ad

Tingkat Pengangguran Perempuan Gen Z Melonjak

Data dalam laporan menunjukkan bahwa tingkat pengangguran perempuan naik dari 3,5% pada 2023 menjadi 4,2% pada 2024. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah perempuan muda yang termasuk dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) — yaitu mereka yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Fenomena ini menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan masa depan ekonomi generasi muda perempuan.

"Tingkat pengangguran perempuan naik dari 3,5% pada 2023 menjadi 4,2% pada 2024. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah perempuan muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan," tulis laporan studi tersebut.

Faktor Penyebab Utama: Pendidikan, Kesehatan, dan Teknologi

Menurut para peneliti, perempuan Gen Z yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan masalah kesehatan memiliki risiko jauh lebih tinggi menjadi NEET. Data menunjukkan bahwa kemungkinan mereka menjadi NEET bisa mencapai 48%, dibandingkan dengan rata-rata perempuan muda lainnya yang hanya 12,2%. Ini menandakan bahwa kondisi kesehatan dan pendidikan menjadi faktor krusial.

Selain itu, perkembangan teknologi yang pesat juga memperlebar kesenjangan. Banyak perempuan muda belum memiliki keterampilan memadai untuk mengikuti kemajuan teknologi terbaru, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan tradisional yang sebelumnya didominasi perempuan.

Keterbatasan Jalur Karier bagi Perempuan Gen Z

CEO perusahaan rekrutmen global, Bentley Lewis, Lewis Maleh, menyoroti bahwa perempuan Gen Z menghadapi keterbatasan jalur karier dibanding laki-laki seusianya. Laki-laki muda dengan nilai sekolah biasa masih banyak peluang di sektor seperti konstruksi, logistik, dan pekerjaan teknis yang sedang berkembang pesat.

Sementara itu, perempuan dengan tingkat pendidikan serupa cenderung bekerja di sektor ritel, perawatan, atau perhotelan yang justru sedang mengalami penyusutan dan menawarkan peluang pengembangan karier terbatas.

"Sektor-sektor ini justru sedang menyusut dan memiliki peluang pengembangan karier yang terbatas," ujar Maleh.

Strategi Meningkatkan Peluang Kerja Perempuan Gen Z

Menurut Maleh, masalah utama bukan pada kurangnya kemampuan perempuan muda, melainkan pada minimnya jalur karier yang tersedia. Oleh karena itu, ia mendorong perempuan muda untuk mengembangkan keterampilan di bidang teknologi, khususnya yang terkait dengan AI dan robotika.

Pelatihan praktis AI tidak selalu memerlukan gelar formal, namun sangat dibutuhkan oleh perusahaan saat ini. Program magang dan pelatihan di sektor digital, energi hijau, dan teknologi kesehatan juga sangat potensial, meskipun saat ini masih kurang diminati oleh perempuan muda.

  • Pelajari dan kuasai alat-alat AI secara praktis
  • Ikuti program magang di sektor teknologi dan energi hijau
  • Kembangkan portofolio dan jaringan profesional secara aktif
  • Jangan hanya mengandalkan nilai akademik, tapi juga adaptasi dan rasa ingin tahu

Maleh menegaskan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari nilai akademik terbaik, melainkan mereka yang memiliki kemauan belajar tinggi, kemampuan adaptasi, serta aktif membangun jaringan profesional.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, data ini mengungkap tantangan struktural yang dihadapi perempuan Gen Z di pasar kerja, yang tidak bisa disederhanakan sebagai akibat kemalasan. Kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan perempuan muda, terutama dalam menghadapi era digital yang semakin mendominasi.

Minimnya jalur karier yang tersedia untuk perempuan serta kurangnya keterampilan teknologi menjadi hambatan utama yang harus diatasi. Jika dibiarkan, fenomena NEET yang tinggi pada perempuan Gen Z berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di masa depan. Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi untuk menyediakan pelatihan keterampilan digital dan mendorong partisipasi perempuan dalam industri teknologi yang tengah berkembang pesat.

Ke depan, kita harus memantau bagaimana program pelatihan dan kebijakan ketenagakerjaan beradaptasi untuk mengatasi masalah ini. Perempuan Gen Z bukan hanya korban keadaan, tetapi juga potensi besar yang harus diberdayakan agar masa depan tenaga kerja Indonesia dan dunia tidak kehilangan talenta penting.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad