Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan Lalu Lintas Ubah Tatanan Sosial-Ekonomi Keluarga
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menegaskan bahwa kecelakaan lalu lintas tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang besar terhadap keluarga korban. Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan berbagai unsur Penta Helix di Makassar, Sulawesi Selatan.
Dampak Sosial-Ekonomi Kecelakaan Lalu Lintas
Menurut Awaluddin, sebagian besar korban kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga. Kondisi ini menyebabkan perubahan tatanan sosial dan ekonomi keluarga, terutama karena kehilangan sumber pendapatan utama. Akibatnya, beban hidup anggota keluarga lain meningkat secara drastis.
"Sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga ada perubahan tatanan sosial-ekonomi yang berdampak pada keluarga yang ditinggalkan," ujar Awaluddin.
Perubahan tatanan ini tidak hanya berpengaruh pada aspek ekonomi, tetapi juga memengaruhi pola sosial dalam keluarga, sehingga Jasa Raharja mendorong pergeseran penanganan kecelakaan dari yang bersifat responsif menjadi preventif.
Pergeseran Pendekatan dari Responsif ke Preventif
Awaluddin menegaskan bahwa selama ini pendekatan yang dominan adalah penanganan pasca kecelakaan, namun pola kecelakaan yang terus berulang menunjukkan perlunya sistem pencegahan yang terintegrasi.
"Pendekatan saat ini masih sangat dominan pada penanganan, sementara pola kecelakaan terus berulang. Kami ingin mendorong pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi," tegasnya.
Untuk itu, Jasa Raharja memperkuat pendekatan pencegahan berbasis data dengan melibatkan kolaborasi multipihak guna menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas korban serta mengurangi dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.
Data Kecelakaan dan Santunan di Sulawesi Selatan
Berdasarkan data Triwulan I 2026, nilai santunan di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara jumlah kecelakaan lalu lintas naik sekitar 8 persen menjadi lebih dari 2.000 kasus.
Secara nasional, data dari Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban setiap tahunnya, dengan tren yang terus meningkat.
Jasa Raharja berperan tidak hanya dalam penyaluran santunan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan melalui:
- Pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot)
- Edukasi keselamatan berkendara secara tersegmentasi
- Peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan
Upaya dan Kolaborasi Penanganan Keselamatan Transportasi
Forum diskusi tersebut menjadi ruang penting untuk memperkuat upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu, khususnya di Sulawesi Selatan. Selain Jasa Raharja, hadir pula berbagai instansi seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Polda Sulsel, komunitas ojek online, serta akademisi dari universitas-universitas lokal.
Direktur Lalu Lintas Polda Sulsel, Kombes Pol. Pria Budi, menyampaikan meskipun terjadi peningkatan kecelakaan sebesar 8 persen, angka fatalitas justru berhasil ditekan sebesar 24 persen dari 234 orang menjadi 179 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, tetapi juga pada kualitas penanganan pada saat dan sesaat setelah kecelakaan terjadi," tegas Pria Budi.
Dari data Polda, 74 persen kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal dan 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling sering terjadi pada pukul 15.00–18.00 Wita dengan kondisi cuaca cerah dan jalan yang baik.
Polda Sulsel sudah memetakan titik rawan kecelakaan dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE yang terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.
Kesepakatan Forum dan Langkah Ke Depan
Forum ini menghasilkan sejumlah kesepakatan penting untuk menekan angka kecelakaan dan fatalitas, di antaranya:
- Penguatan edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan kecelakaan
- Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder
Langkah ini diharapkan dapat menekan fatalitas korban pada masa penanganan awal kecelakaan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pernyataan Dirut Jasa Raharja Muhammad Awaluddin menggarisbawahi pentingnya memahami kecelakaan lalu lintas bukan sekadar persoalan kematian, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap keluarga dan struktur sosial-ekonomi masyarakat. Langkah yang dinilai strategis adalah pergeseran dari penanganan responsif ke pendekatan preventif berbasis data dan kolaborasi multipihak.
Penting untuk dicermati bahwa peningkatan angka kecelakaan di Sulawesi Selatan sekaligus penurunan fatalitas menunjukkan efektivitas intervensi yang sedang berjalan, seperti pemetaan titik rawan dan penggunaan teknologi ETLE. Namun, penurunan fatalitas ini harus diimbangi dengan upaya pencegahan yang lebih agresif agar angka kecelakaan tidak terus meningkat.
Ke depan, masyarakat dan pemerintah perlu terus meningkatkan koordinasi dalam membangun sistem keselamatan transportasi yang holistik. Edukasi keselamatan yang menyasar komunitas pengemudi dan pelatihan PPGD merupakan contoh konkret yang harus diperluas cakupannya. Laporan resmi Jasa Raharja menjadi sumber data penting yang dapat membantu pengambilan kebijakan berbasis bukti di masa mendatang.
Dengan meningkatnya angka kecelakaan, upaya preventif yang terintegrasi dan berbasis data bukan hanya menjadi kebutuhan, melainkan suatu keharusan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa sekaligus mengurangi dampak sosial ekonomi yang luas bagi keluarga di Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0