Menteri Pertahanan AS Klaim Mojtaba Khamenei Terluka dan Cacat Setelah Serangan
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengklaim bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka parah dan kemungkinan cacat fisik akibat serangkaian serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak hampir dua pekan terakhir. Pernyataan ini disampaikan Hegseth pada konferensi pers di Washington, Jumat (13/3/2026).
Luka dan Kondisi Mojtaba Khamenei Pasca Serangan
Dalam konferensi pers, Hegseth menegaskan bahwa pihaknya meyakini Mojtaba Khamenei terluka dan cacat. Ia menyebut bahwa pernyataan tertulis yang dirilis Khamenei pada Kamis (12/3) terkesan lemah dan tidak disertai bukti suara atau video, yang menurut Hegseth menunjukkan kondisi pemimpin Iran yang kurang baik.
"Kami tahu pemimpin baru yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan cacat. Ia merilis pernyataan kemarin. Sebenarnya pernyataan yang lemah, dan tidak ada suara maupun video. Itu hanya pernyataan tertulis," tutur Hegseth.
Serangan awal yang terjadi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah ini, menurut laporan Reuters, menewaskan sejumlah anggota keluarga Mojtaba, termasuk ayahnya Ali Khamenei dan istrinya. Namun, hingga kini belum ada gambar terbaru yang menunjukkan kondisi fisik Mojtaba ke publik.
Pernyataan Mojtaba Khamenei dan Respons Iran
Pernyataan pertama Mojtaba sejak meningkatnya konflik disampaikan melalui pembawa acara televisi yang membacakan teks tertulis. Dalam pernyataan itu, Mojtaba berjanji akan mempertahankan penutupan Strait of Hormuz serta meminta negara-negara tetangga menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka, mengancam akan menyerang jika tidak diindahkan.
Hegseth mempertanyakan alasan Khamenei tidak tampil langsung di depan publik, mengingat Iran dikenal memiliki teknologi kamera dan rekaman suara yang memadai. Menurutnya, ini adalah indikasi bahwa Mojtaba ketakutan, terluka, dan sedang melarikan diri.
"Iran punya banyak kamera dan banyak alat perekam suara. Mengapa hanya pernyataan tertulis? Saya rasa Anda tahu alasannya. Ayahnya sudah meninggal. Dia ketakutan, terluka, sedang melarikan diri, dan tidak memiliki legitimasi," kata Hegseth.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengakui Mojtaba mengalami luka, namun seorang pejabat menyatakan bahwa luka tersebut tergolong ringan. Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, juga membantah klaim bahwa Mojtaba tidak mampu memimpin.
"Yang kami ketahui adalah ia mengalami luka akibat perang saat pemimpin tertinggi kami dibunuh. Namun tidak sampai menghalangi (Mojtaba Khamenei) untuk menjalankan tugasnya. Ia adalah pemimpin yang berfungsi. Tidak ada yang terganggu, untungnya," ujar Saadat.
Operasi Militer AS dan Eskalasi Konflik
Dalam kesempatan yang sama, Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan militer AS, Dan Caine, menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan rudal, drone, dan kekuatan angkatan laut Iran. Hegseth menegaskan bahwa AS tidak akan menunjukkan belas kasihan dalam konflik ini.
"Kami akan terus menekan, terus mendorong, terus maju. Tidak ada ampun, tidak ada belas kasihan bagi musuh kami," tegas Hegseth.
Sejak 28 Februari 2026, militer AS telah menyerang lebih dari 6.000 target di Iran, dengan korban tewas sekitar 2.000 orang. Selain itu, Pentagon mengirimkan tambahan kekuatan militer, termasuk kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) dan sekitar 2.500 marinir ke kawasan tersebut.
Laporan juga menyebutkan adanya drone Iran yang terdeteksi memasuki wilayah negara-negara tetangga seperti Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Di saat bersamaan, enam personel militer AS meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar militer di Irak barat pada Jumat (13/3).
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, klaim Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengenai kondisi Mojtaba Khamenei yang terluka dan cacat merupakan bagian dari strategi perang informasi yang sengaja diperkuat untuk melemahkan moral dan legitimasi pemimpin baru Iran. Mengingat Iran belum merilis bukti visual secara resmi, pernyataan Hegseth harus dilihat dalam konteks politik dan militer yang sangat kompleks.
Di sisi lain, penegasan Iran bahwa Mojtaba tetap menjalankan tugasnya dengan baik menunjukkan keteguhan rezim dalam menghadapi tekanan internasional. Konflik yang terus meningkat di kawasan ini berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut, apalagi dengan pengiriman tambahan pasukan AS dan serangan drone yang sudah meluas ke wilayah tetangga.
Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu mengawasi perkembangan terbaru, terutama bagaimana Iran merespons tekanan militer dan apakah klaim luka Mojtaba akan berdampak pada stabilitas politik di dalam negeri Iran. Situasi ini juga akan menjadi indikator penting bagi dinamika geopolitik Timur Tengah dan hubungan AS-Iran yang selama ini tegang.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, semua pihak diharapkan menjaga kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi yang terus diperbarui.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0