Mengapa Israel Sangat Ingin Membangun Hubungan Diplomatik dengan Arab Saudi?
Israel sangat ingin membangun hubungan diplomatik dengan Arab Saudi karena sejumlah keuntungan strategis yang dapat mengubah peta politik Timur Tengah secara signifikan. Presiden Israel, Isaac Herzog, menyatakan impiannya untuk melihat perdamaian antara kedua negara dalam wawancara langka bersama saluran Al Arabiya yang berbasis di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Ia juga menyampaikan rasa hormatnya kepada Putra Mahkota Mohammed Bin Salman sebagai pemimpin yang berperan penting dalam dinamika kawasan.
Keinginan Israel tersebut tidak lepas dari konteks geopolitik yang melibatkan kesepakatan nuklir Amerika Serikat dengan Arab Saudi, yang salah satu syaratnya adalah pengakuan Arab Saudi terhadap Israel. Meskipun Arab Saudi selama ini belum bergabung dengan Perjanjian Abraham Accord yang telah menormalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel, persyaratan ini menandai perubahan signifikan dalam hubungan diplomatik di kawasan.
Sikap Arab Saudi Terhadap Palestina dan Israel
Arab Saudi menegaskan bahwa pengakuan negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, adalah syarat mutlak untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Pernyataan ini ditegaskan oleh Arab Saudi kepada Washington dan dikutip oleh Reuters pada tahun 2024.
Sikap ini menunjukkan bahwa masalah Palestina masih menjadi isu sentral dalam hubungan Israel dan Arab Saudi. Namun, di sisi lain, Israel melihat pembukaan hubungan resmi ini sebagai kesempatan besar untuk mengakhiri isolasi politiknya di Timur Tengah dan mendapatkan legitimasi internasional yang lebih luas.
Keuntungan Strategis bagi Israel
Menurut laporan dari Brookings, hubungan resmi dengan Arab Saudi akan menjadi langkah terbesar dalam legitimasi politik Israel di kawasan. Selain itu, ini dapat mengubah paradigma bahwa integrasi Israel di Timur Tengah tidak harus menunggu penyelesaian penuh atas kemerdekaan Palestina.
Sejarah menunjukkan bahwa Israel dan Arab Saudi sebenarnya telah bekerja sama secara rahasia sejak 1960-an. Kedua negara pernah mendukung kaum Royalis di Yaman melawan pemerintah Republik yang didukung oleh Mesir dan Uni Soviet. Kerja sama ini bahkan melibatkan dinas intelijen kedua negara yang mengoordinasikan pengiriman senjata dan keahlian militer.
Kepala Mossad Israel dan intelijen Arab Saudi pernah bertemu di Hotel Dorchester, London, menandai hubungan yang erat di balik layar. Kesepakatan Oslo tahun 1993 antara Israel dan Palestina juga memfasilitasi lebih banyak kontak di tingkat intelijen antara Israel dan Arab Saudi.
Penurunan Dukungan Publik Arab Saudi terhadap Israel
Meskipun hubungan diplomatik menjadi incaran elit politik, dukungan publik Arab Saudi terhadap Israel menurun drastis, terutama sejak serangan Israel ke Gaza. Survei Arab Barometer pada 2023-2024 menunjukkan bahwa dukungan publik tidak pernah melebihi 13 persen di tujuh negara Arab yang disurvei.
Di Maroko, yang sudah menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, dukungan publik turun dari 31 persen pada 2022 menjadi 13 persen pasca 7 Oktober 2023. Survei dari Washington Institute for Near East Policy pada Agustus 2025 bahkan menunjukkan bahwa 99 persen warga Saudi melihat pembangunan hubungan normal dan perdamaian dengan Israel sebagai langkah negatif.
Angka dukungan terhadap Abraham Accord di Arab Saudi menurun tajam dari 41 persen pada 2020 menjadi 13 persen pada 2025, menurut data dari The Institute National Security Studies (INSIS). Hal ini mencerminkan ketegangan antara kepentingan elit politik dan sentimen publik di negara itu.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keinginan Israel untuk membuka hubungan dengan Arab Saudi merupakan bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Legitimasi politik dan integrasi Israel di Timur Tengah melalui Arab Saudi akan mengubah keseimbangan kekuatan regional dan dapat membuka pintu bagi normalisasi lebih luas di kawasan yang selama ini sarat konflik.
Namun, realitas politik domestik di Arab Saudi dan sentimen publik yang menolak normalisasi tanpa penyelesaian isu Palestina menunjukkan bahwa hubungan ini tidak akan mudah dan cepat terwujud. Arab Saudi masih harus menyeimbangkan tekanan internasional dan aspirasi rakyatnya.
Ke depan, penting untuk mengawasi perkembangan kebijakan Arab Saudi terkait pengakuan Israel serta reaksi negara-negara Arab lain yang selama ini menjadi pendukung kuat Palestina. Perubahan ini juga berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan dan ekonomi di Timur Tengah secara signifikan.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca sumber aslinya di CNN Indonesia dan analisis terkait dari Brookings Institution.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0