IHSG Turun 15% Selama Ramadan 2026, Kesabaran Investor Meningkat Signifikan

Mar 17, 2026 - 10:21
 0  4
IHSG Turun 15% Selama Ramadan 2026, Kesabaran Investor Meningkat Signifikan

Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan seiring berakhirnya bulan Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 15% selama Ramadan, yang merupakan catatan terburuk dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini didorong oleh kombinasi sentimen negatif dari kebijakan suku bunga, perkembangan perang Timur Tengah, hingga ancaman libur panjang Lebaran yang membayangi pasar.

Ad
Ad

IHSG Turun Drastis, Investor Menghadapi Tekanan Berkepanjangan

Pada perdagangan Senin (16/3/2026), IHSG ditutup melemah 1,61% ke level 7.022,29 atau turun 114,92 poin. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 542 saham mengalami penurunan, sementara hanya 180 saham yang naik dan 98 tidak bergerak. Nilai transaksi harian mencapai Rp 16 triliun dengan 32,1 miliar saham yang berpindah tangan.

Sektor utilitas menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 3,99%, diikuti sektor properti (-3,89%) dan bahan baku (-3,79%). Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Amman Mineral Internasional (AMMN) menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi penurunan indeks masing-masing sebesar -19,02, -17,18, dan -13,35 poin.

Investor asing pun melakukan net buy sebesar Rp 1,02 triliun, namun hal ini belum mampu mengangkat pasar dari tekanan yang makin berat. Kapitalisasi pasar terkikis menjadi Rp 12.413 triliun.

Tekanan Nilai Tukar Rupiah dan Imbal Hasil Surat Berharga Negara

Nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan ditutup di level Rp16.985/US$ pada perdagangan Senin, mengalami pelemahan 0,30%. Rupiah bahkan sempat dibuka lebih lemah sebesar 0,03% di posisi Rp16.940/US$ dan bergerak dalam rentang Rp16.940 hingga Rp16.995/US$.

Pelemahan ini didorong oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,09% pada 15.00 WIB ke level 100,446. Kuatnya dolar AS merupakan respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya permintaan aset aman di tengah konflik Timur Tengah serta tingginya harga energi.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga meningkat ke posisi 6,93%, naik dari 6,82% pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil ini menandakan adanya tekanan jual dari investor terhadap SBN sebagai respons atas risiko pasar yang memburuk.

Perang Timur Tengah dan Gejolak Harga Minyak Dunia

Kondisi pasar global turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan AS menyebabkan harga minyak Brent crude menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Meskipun harga minyak sempat turun setelah pernyataan dari pejabat AS terkait izin pengiriman tanker minyak Iran melalui Selat Hormuz, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi sumber risiko utama. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan kesiapan untuk tindakan militer lebih lanjut jika konflik berlanjut, menambah ketegangan pasar.

Menurut David Krakauer, wakil presiden manajemen portofolio Mercer Advisors, "Pasar benar-benar merasa bahwa Trump memikirkan kepentingan pasar dalam jangka panjang". Namun, ketidakpastian yang tinggi membuat para investor cenderung bertahan dan menunggu perkembangan lebih lanjut.

Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia dan Pemerintah

Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026 dengan keputusan yang diumumkan hari ini, Selasa (17/3). Konsensus dari 13 lembaga menunjukkan bahwa BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% untuk keenam kalinya berturut-turut, guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai bahwa tekanan pada rupiah dan ketegangan geopolitik menjadi alasan utama BI belum melakukan penurunan suku bunga. Inflasi tahunan yang mencapai 4,76% pada Februari 2026, di atas target BI, juga menjadi pertimbangan penting.

Di sisi lain, pemerintah memilih untuk melakukan efisiensi anggaran daripada menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dapat memberatkan masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM meskipun harga minyak dunia melambung tinggi akibat perang.

Efisiensi anggaran dilakukan dengan memotong pos-pos pengeluaran kementerian/lembaga dan menunda program tambahan yang tidak prioritas, termasuk program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Libur Panjang Lebaran dan Prospek Pasar Keuangan

Pasar keuangan Indonesia akan memasuki jeda panjang mulai Rabu (18/3) hingga Selasa pekan depan, bertepatan dengan rangkaian hari libur nasional Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Libur panjang ini diharapkan dapat mendorong permintaan dan aktivitas ekonomi domestik.

Namun, pelaku pasar akan tetap mencermati perkembangan keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada Kamis mendatang serta perkembangan geopolitik yang bisa berdampak pada sentimen pasar secara global.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan tajam IHSG selama Ramadan 2026 mencerminkan tingkat kesabaran investor yang diuji pada level baru. Banyak faktor eksternal dan internal yang secara simultan menekan pasar, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga kebijakan moneter yang cenderung konservatif. Investor harus siap menghadapi volatilitas tinggi dalam jangka pendek, terutama menjelang libur panjang yang biasanya menurunkan likuiditas pasar.

Kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga adalah langkah tepat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali. Namun, ruang gerak untuk penurunan suku bunga masih terbuka jika tekanan inflasi mulai mereda. Pemerintah juga menunjukkan sikap bijak dengan menolak menaikkan harga BBM saat ini, menghindari beban tambahan di tengah gejolak harga energi dunia.

Ke depan, pasar harus terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi harga minyak dan stabilitas ekonomi global. Selain itu, keputusan The Fed dan kebijakan fiskal domestik akan menjadi penentu utama arah pasar saham dan nilai tukar rupiah. Investor disarankan untuk memperkuat strategi mitigasi risiko dan menunggu momentum pasar yang lebih stabil setelah libur panjang.

Dengan berbagai dinamika ini, menjaga kesabaran dan kewaspadaan menjadi kunci bagi pelaku pasar untuk menghadapi tantangan di semester pertama 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad