Cara Belanda Tingkatkan Partisipasi Perempuan di Politik dengan Sistem Pilkada Preferensial
- Sistem Pemilihan Preferensial: Kunci Kesuksesan Fatuma Muhumed
- Representasi Perempuan di Politik Lokal dan Nasional Belanda
- Perbedaan Partai dan Hambatan Kesetaraan Gender
- Hambatan Sosial dan Budaya dalam Politik Perempuan
- Perempuan Lebih Cepat Meninggalkan Dunia Politik
- Upaya Memutus Siklus dan Membangun Jaringan
- Analisis Redaksi
Belanda menjadi sorotan dunia karena sistem pemilihan preferensial yang efektif meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik lokal. Contohnya adalah Fatuma Muhumed, pengacara yang berhasil terpilih sebagai anggota dewan kota Apeldoorn meski berada di posisi ke-15 daftar calon partainya, GroenLinks-PvdA.
Sistem Pemilihan Preferensial: Kunci Kesuksesan Fatuma Muhumed
Di Belanda, pemilih tidak hanya memilih partai, tetapi juga dapat memilih calon tertentu dalam daftar partai. Sistem ini memungkinkan pemilih untuk memberikan suara langsung kepada kandidat yang mereka dukung, bahkan jika calon tersebut berada di peringkat bawah daftar. Fatuma Muhumed adalah salah satu contoh sukses dari sistem ini, yang juga dikenal sebagai "pemilihan cerdas" dalam kampanye Stem op een Vrouw (Pilih Seorang Perempuan).
"Dalam daftar kandidat parpol, kami melihat lebih banyak pria, kemudian perempuan berada di urutan bawah," ujar Zahra Runderkamp, ilmuwan politik dan peneliti utama Stem op een Vrouw.
Kampanye tersebut mendorong pemilih untuk memilih perempuan yang posisinya tepat di bawah ambang batas kursi yang diperkirakan, sehingga mengakibatkan 503 perempuan terpilih dalam pemilu terbaru, termasuk Fatuma.
Representasi Perempuan di Politik Lokal dan Nasional Belanda
Walaupun tingkat keterwakilan perempuan di parlemen nasional Belanda mencapai 43,3%, angka ini jauh lebih rendah di tingkat lokal, yakni hanya 36,9% berdasarkan pemilihan umum bulan Maret 2026. Tanpa strategi pemilihan preferensial, persentase ini bahkan bisa turun menjadi 32,7%.
Perbedaan signifikan ini menunjukkan adanya tantangan yang lebih besar dalam meningkatkan keterwakilan perempuan di pemerintahan daerah. Kampanye seperti Stem op een Vrouw berperan penting dalam memecahkan hambatan tersebut.
Perbedaan Partai dan Hambatan Kesetaraan Gender
Kesetaraan gender di politik Belanda juga sangat bervariasi antarpartai. Partai untuk Hewan (kiri) adalah satu-satunya partai dengan mayoritas calon perempuan. Sebaliknya, Partai Politik Reformasi (SGP) yang konservatif hanya memiliki 2% calon perempuan, meskipun sebelumnya mereka melarang perempuan mencalonkan diri hingga 2013.
"Anda tidak bisa menyangkal bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar pemilih yang cerdas untuk sedikit 'mengakali' sistem," jelas Runderkamp.
Artinya, partai politik harus melakukan perubahan mendasar dalam menyusun daftar calon agar dapat mendorong kesetaraan gender secara signifikan.
Hambatan Sosial dan Budaya dalam Politik Perempuan
Penelitian menunjukkan bahwa persepsi politik sebagai ruang yang didominasi laki-laki membuat perempuan muda kurang tertarik untuk terjun ke dunia politik. Kurangnya panutan perempuan juga memperkuat siklus keterasingan ini, di mana kebijakan yang dihasilkan kurang mencerminkan kebutuhan perempuan.
Selain itu, politisi perempuan di Belanda sering menghadapi tantangan tambahan, seperti beban tugas perawatan yang lebih besar di rumah dan ancaman agresi. Laporan Ipsos I&O 2024 mengungkapkan bahwa 55% politisi perempuan mengalami agresi, dibandingkan 37% pria.
Fatuma Muhumed mengaku, "Saya mulai menggunakan TikTok untuk kampanye saya dan mendapat banyak komentar yang terkadang sangat rasis."
Perempuan Lebih Cepat Meninggalkan Dunia Politik
Ancaman dan pelecehan menjadi salah satu alasan mengapa perempuan cenderung lebih cepat meninggalkan dunia politik dibanding laki-laki. Penelitian dari organisasi nirlaba Inggris HateAid menemukan perempuan mengalami pelecehan jauh lebih banyak. Meskipun belum ada bukti statistik yang tegas, faktor-faktor ini secara kumulatif menghambat perempuan untuk mencalonkan diri dan bertahan dalam jabatan.
Upaya Memutus Siklus dan Membangun Jaringan
Organisasi Stem op een Vrouw tidak hanya mengkampanyekan pemilihan perempuan, tetapi juga menghubungkan kandidat dengan politikus berpengalaman untuk membangun jaringan dan meningkatkan pemahaman sistem politik. Fatuma Muhumed sendiri mengikuti pelatihan tentang cara melamar jabatan dan berkampanye.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keberhasilan Belanda dalam meningkatkan partisipasi perempuan di politik melalui sistem pemilihan preferensial adalah langkah yang sangat strategis dan inovatif. Sistem ini tidak hanya mengandalkan perubahan kebijakan, tetapi juga pemberdayaan pemilih agar lebih aktif mendukung calon perempuan, terutama yang berada di posisi kurang menguntungkan dalam daftar calon partai.
Namun, tantangan struktural seperti budaya patriarki, beban ganda perempuan, dan agresi politik masih menjadi hambatan signifikan yang harus diatasi secara menyeluruh. Tanpa reformasi internal partai dan perlindungan lebih kuat terhadap politisi perempuan dari kekerasan verbal maupun fisik, kemajuan ini bisa terhambat.
Ke depan, penting untuk memantau apakah upaya seperti Stem op een Vrouw mampu memutus siklus keterasingan perempuan dalam politik dan memperkuat representasi mereka secara berkelanjutan. Negara lain dapat belajar dari model ini untuk memperbaiki kesetaraan gender dalam politik mereka.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada sumber asli berita ini di Liputan6.com dan laporan politik terkait di DW Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0