Perang Iran Melarat, Nasib Politik Netanyahu Kian Terancam
Lebih dari enam pekan berjalan, perang Israel melawan Iran yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan hasil yang diharapkan. Alih-alih meraih kemenangan strategis, konflik ini justru menghadirkan kegagalan politik dan risiko keamanan yang kian membayangi Israel.
Popularitas Netanyahu Anjlok, Risiko Politik Meningkat
Perang yang awalnya dianggap sebagai momentum emas bagi Netanyahu untuk mengukuhkan kekuasaannya kini malah menimbulkan masalah. Dukungan publik terhadap Netanyahu turun drastis dari 40% menjadi 34% menurut survei terbaru Agam Labs pada 11 April 2026. Bahkan, lebih dari separuh warga Israel menilai kepemimpinan Netanyahu buruk atau sangat buruk.
Netanyahu, yang kini berusia 76 tahun, belum memberikan komentar resmi terkait penurunan dukungan ini. Namun, ia tetap bersikukuh bahwa operasi militer telah mencapai "pencapaian besar" dengan menghancurkan program nuklir dan rudal Iran. Meski demikian, para analis menilai klaim tersebut jauh dari kenyataan di lapangan.
Kekuatan Udara Israel Belum Mampu Menentukan Kemenangan
Israel mengerahkan kekuatan udara yang masif dengan pesawat tempur F-15 dan F-35, tetapi strategi ini belum menghasilkan kemenangan akhir yang jelas. Menurut Danny Citrinowicz, peneliti senior di Institute for National Security Studies, asumsi bahwa eliminasi sejumlah pemimpin Iran akan melumpuhkan rezim terbukti keliru.
"Perang ini adalah kegagalan strategis. Ada kesenjangan antara janji awal Netanyahu dan kondisi akhir yang kita alami," ujarnya.
Strategi pembunuhan terarah juga tidak efektif. Meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei termasuk yang gugur dalam serangan, selalu ada pengganti yang siap melanjutkan perjuangan, yang membuat konflik justru berkepanjangan dan semakin mahal.
Ketegangan Diplomatik dan Biaya Perang yang Membengkak
Selain tekanan militer, Netanyahu menghadapi dilema diplomatik. Ia dikabarkan tidak dilibatkan dalam proses mediasi gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, yang membuatnya merasa tersisih dan marah. Meski kemudian Wakil Presiden AS JD Vance memberi pengarahan langsung, ketegangan diplomatik tetap menjadi beban.
Biaya perang juga sangat besar. Pemerintah Israel mengungkapkan bahwa perang telah menghabiskan sekitar US$11,5 miliar, terutama untuk kebutuhan pertahanan. Hal ini menambah tekanan ekonomi di tengah ketidakpastian hasil konflik.
Dilema Strategis dan Risiko Regional yang Meningkat
Konflik yang melebar ke berbagai front membuat Israel terus menghadapi ancaman keamanan. Hamas di Gaza belum dilumpuhkan, Hizbullah dari Lebanon masih meluncurkan roket ke wilayah utara Israel, dan Iran tetap mempertahankan kemampuan misil serta pengaruhnya di Selat Hormuz yang vital bagi minyak dunia.
Para diplomat menilai Netanyahu menghadapi dilema besar. Jika tidak ada kemenangan militer yang menentukan, posisinya di dalam negeri akan makin goyah, sementara risiko eskalasi regional terus meningkat. Kesepakatan dengan Iran yang membatasi program nuklir dan misil masih berpeluang, tetapi negosiasi tersebut berpotensi memperburuk situasi politik Netanyahu.
Menurut Aaron David Miller, mantan negosiator AS, negara-negara Teluk Arab menjadi pihak yang paling dirugikan karena kemungkinan munculnya kepemimpinan Iran yang lebih keras dan penuh dendam. Sementara itu, negara-negara Teluk siap menghadapi risiko eskalasi demi menjaga jalur pelayaran tetap aman.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kondisi perang yang jauh dari harapan ini mengindikasikan kegagalan strategis yang berpotensi mengguncang stabilitas politik Israel. Penurunan dukungan publik terhadap Netanyahu tidak hanya soal hasil militer, tetapi juga mencerminkan kelelahan masyarakat terhadap konflik berkepanjangan yang belum menunjukkan akhir.
Lebih jauh, konflik ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika kekuatan regional. Iran yang tetap kuat dan berani menantang tekanan militer AS dan sekutu, serta keberadaan kelompok militan yang aktif, mengindikasikan bahwa solusi militer semata tidak cukup. Pendekatan diplomatik yang inklusif dan strategis sangat dibutuhkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Ke depan, publik harus mengawasi perkembangan politik Israel menjelang pemilu legislatif Oktober mendatang, serta dinamika negosiasi internasional yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk. Perang ini bukan hanya soal militer, tapi juga menentukan masa depan geopolitik kawasan dan keamanan global.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, simak laporan mendalam dari CNBC Indonesia serta analisis dari media internasional terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0