Kader NasDem Murka ke Tempo: Kritik soal Sampul Surya Paloh dan Isu Merger

Apr 15, 2026 - 10:40
 0  4
Kader NasDem Murka ke Tempo: Kritik soal Sampul Surya Paloh dan Isu Merger

Sejumlah elit dan kader Partai NasDem menunjukkan reaksi keras terhadap cover Majalah Tempo yang menampilkan Ketua Umum Surya Paloh dalam konteks laporan wacana merger antara NasDem dan Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Reaksi ini tidak hanya terbatas pada keberatan terhadap sampul majalah, tetapi juga kritik terhadap isi laporan serta penggunaan istilah "merger" yang dinilai tidak tepat.

Ad
Ad

Protes Keras Kader NasDem terhadap Istilah Merger

Ketua DPW Partai NasDem DKI Jakarta, Wibi Andrino, menyatakan bahwa sampul majalah tersebut merendahkan martabat Ketua Umum NasDem. Menurutnya, Surya Paloh merupakan sosok yang terbuka terhadap kritik, namun kritik harus disampaikan dengan substansi yang jelas, bukan framing visual yang dapat merusak citra.

"Kritik boleh keras. Tapi etika tetap harus jadi batas. Jangan sampai kebebasan berubah menjadi kehilangan arah," ujar Wibi.

Sementara itu, Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, secara tegas menolak istilah merger dalam laporan Tempo. Menurut Willy, Surya Paloh hanya menawarkan konsep blok politik, bukan penggabungan partai secara struktural.

"Pemahamannya jangan merger dong. Ini orang yang nggak baca, orang yang nggak memiliki literatur politik," tegas Willy, mengkritik kurangnya pemahaman dalam laporan tersebut.

Willy juga menekankan bahwa sejarah politik Indonesia sudah lama mengenal konsep fusi dan blok politik sejak era Orde Lama hingga Orde Baru, sehingga istilah merger tidak tepat digunakan dalam konteks ini.

Desakan Keterlibatan Dewan Pers dan Aksi Unjuk Rasa

Wakil Ketua Baleg DPR dari Fraksi NasDem, Martin Manurung, menganggap laporan Tempo sebagai bentuk kebebasan pers yang berlebihan. Ia meminta Dewan Pers segera turun tangan karena laporan tersebut dianggap melanggar kode etik jurnalistik dan tidak melakukan verifikasi secara ketat.

"Dewan Pers, sebagai wasit di lapangan jurnalistik, sangat penting untuk masuk tanpa harus menunggu adanya pelaporan," kata Martin.

Buntut dari kontroversi ini, sejumlah kader NasDem menggelar unjuk rasa di depan kantor Majalah Tempo pada Selasa (14/4). Mereka mendesak majalah tersebut untuk menyampaikan permintaan maaf atas penggunaan sampul dan isi laporan yang dianggap merendahkan Ketua Umum NasDem.

Penolakan Keras dari Kader NasDem di Daerah

Reaksi keras juga datang dari tingkat daerah. Ketua DPW NasDem Sumatera Utara, Iskandar ST, menolak penggunaan istilah merger dan membantah wacana penggabungan NasDem dengan Gerindra.

"NasDem didirikan bukan untuk dijual, tapi memperjuangkan rakyat Indonesia melalui seluruh kader yang ada di Partai NasDem," tegas Iskandar.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pembahasan resmi tentang peleburuan atau akuisisi NasDem dengan partai lain, termasuk Gerindra. Penolakan ini juga disampaikan oleh perwakilan kader dari berbagai daerah yang datang ke Medan sebagai bentuk aspirasi kolektif.

Sejarah dan Konteks Blok Politik di Indonesia

Penolakan istilah merger yang disuarakan kader NasDem mencerminkan pemahaman politik yang mendalam. Dalam sejarah politik Indonesia, konsep blok politik atau fusi partai sudah lama dikenal, terutama pada masa Orde Lama hingga Orde Baru, di mana partai-partai menggabungkan kekuatan politik tanpa harus melebur secara struktural.

Konsep ini berbeda dengan merger yang biasanya mengarah pada penggabungan struktural dan administratif partai. Oleh karena itu, istilah blok politik lebih tepat digunakan dalam konteks wacana yang sedang berkembang antara NasDem dan Gerindra.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, reaksi keras kader NasDem terhadap Majalah Tempo mengungkapkan sensitivitas tinggi partai terhadap citra dan posisi Ketua Umum Surya Paloh di mata publik. Penggunaan istilah "merger" yang kontroversial ini sebenarnya menyentuh isu besar tentang bagaimana media mengemas berita politik yang kompleks sehingga dapat menimbulkan persepsi yang keliru.

Selain itu, tuntutan permintaan maaf dan desakan keterlibatan Dewan Pers menandakan bahwa partai ini ingin menegakkan standar etik jurnalistik yang lebih ketat dalam pemberitaan politik. Namun, hal ini juga membuka perdebatan tentang batasan kebebasan pers dan peran media dalam mengawal demokrasi.

Ke depan, publik perlu mengawasi bagaimana perkembangan wacana blok politik ini akan memengaruhi dinamika politik nasional, terutama menjelang pemilu mendatang. Keterbukaan dan klarifikasi dari semua pihak, termasuk media dan elite partai, sangat diperlukan agar tidak muncul kesalahpahaman yang bisa memperkeruh suasana politik.

Untuk informasi lebih lanjut tentang dinamika politik serupa, Anda bisa membaca langsung pada sumbernya di CNN Indonesia serta berita politik terkini di Kompas Politik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad