Korea Selatan Pasang Status Siaga Tertinggi Hadapi 3 Penyakit Ternak Mematikan

Mar 17, 2026 - 11:09
 0  2
Korea Selatan Pasang Status Siaga Tertinggi Hadapi 3 Penyakit Ternak Mematikan

Korea Selatan resmi menetapkan status siaga tertinggi setelah terjadi penyebaran tiga penyakit ternak berbahaya secara bersamaan di berbagai wilayah negara. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi gangguan besar terhadap pasokan pangan domestik dan kenaikan harga produk peternakan yang sudah mulai dirasakan masyarakat.

Ad
Ad

Tiga Penyakit Ternak Mematikan yang Menyerang Korea Selatan

Ketiga penyakit yang kini mewabah di Korea Selatan adalah flu burung patogen tinggi (HPAI), demam babi Afrika (ASF), dan penyakit mulut dan kuku (FMD). Penyebaran ketiganya secara bersamaan merupakan situasi yang sangat langka dan berpotensi membawa dampak besar bagi industri peternakan serta ekonomi nasional.

Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan pada 16 Maret 2026 menyatakan bahwa ketiga penyakit tersebut masih dalam level kewaspadaan tertinggi dari empat tingkat peringatan yang ada. Selain itu, masa karantina khusus diperpanjang hingga akhir Maret guna mengendalikan penyebaran lebih luas.

Ketiga penyakit ini diklasifikasikan sebagai penyakit menular ternak Tipe 1, kategori paling serius yang menandakan penyebaran sangat cepat dan dampak ekonomi yang signifikan. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) pun memasukkan ketiganya dalam penyakit kategori A, yang dapat mengganggu perdagangan internasional secara besar-besaran.

Data Wabah dan Dampak Terhadap Industri Peternakan

Menurut data pemerintah, situasi wabah ternak ini terus memburuk, terutama pada musim dingin 2025-2026. Berikut data terkini yang mengkhawatirkan:

  • Flu burung patogen tinggi terdeteksi di 56 peternakan unggas, meningkat signifikan dari 32 kasus di musim 2022-2023 dan 49 pada musim 2024-2025.
  • Demam babi Afrika menyebar cepat dengan 22 kasus baru dalam dua bulan, hampir tiga kali lipat rata-rata tahunan 7,9 kasus antara 2019-2025.
  • Penyakit mulut dan kuku sudah dikonfirmasi tiga kasus sepanjang tahun 2026.

Wabah ini berimbas langsung pada pasokan pangan. Lebih dari 9,8 juta ayam petelur dimusnahkan selama musim dingin, jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir. Produksi telur harian di bulan Maret diperkirakan turun sekitar 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, pemusnahan babi akibat ASF melonjak drastis dengan lebih dari 150.000 ekor babi dimusnahkan, naik lebih dari empat kali lipat dari sekitar 34.000 ekor pada 2025. Proyeksi menunjukkan harga grosir daging babi akan naik sekitar 3,3% sepanjang 2026 akibat menurunnya pasokan.

Sejarah dan Uniknya Wabah Bersamaan di Korea Selatan

Wabah ketiga penyakit ini tak pernah terjadi bersamaan sebelumnya sejak ASF pertama kali terdeteksi di Korea Selatan pada 2019 hingga 2024. Namun, kini untuk tahun kedua berturut-turut, ketiganya muncul secara bersamaan, menimbulkan kekhawatiran dari para pakar veteriner dan peternak.

Menurut para ahli, Korea Selatan kemungkinan menjadi satu-satunya negara anggota Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang mengalami wabah tiga penyakit ternak berbahaya secara simultan. Hal ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan industri terkait untuk meningkatkan pengawasan dan penanganan lebih cepat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kejadian wabah tiga penyakit ternak ini di Korea Selatan bukan hanya soal tantangan kesehatan hewan, tetapi juga peringatan keras terhadap ketahanan pangan nasional dan stabilitas ekonomi. Kenaikan harga produk peternakan yang sudah mulai terlihat akan berpotensi memicu inflasi pangan yang berdampak langsung pada masyarakat luas, terutama kalangan menengah ke bawah.

Lebih jauh, wabah ini menguji sistem biosekuriti dan respons cepat pemerintah dalam menghadapi krisis kesehatan hewan. Jika tidak ditangani secara efektif, risiko penularan penyakit lintas wilayah dan bahkan lintas negara bisa meningkat, mengancam perdagangan internasional dan hubungan ekonomi.

Ke depan, publik perlu mencermati langkah-langkah preventif yang diambil oleh otoritas Korea Selatan, termasuk pengawasan ketat impor dan ekspor ternak serta produk peternakan. Kesiapsiagaan ini menjadi kunci agar wabah tidak semakin meluas dan berdampak lebih parah.

Kita juga harus mewaspadai potensi dampak serupa di negara lain, mengingat perdagangan hewan dan produk peternakan bersifat global. Informasi terbaru dan perkembangan kasus harus terus dipantau agar penanggulangan wabah dapat berjalan optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad