Harga Emas & Perak Terus Melemah, Apa Penyebab Gagal Bangkitnya Logam Mulia?
Harga emas dan perak terus menunjukkan tren pelemahan di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian akibat eskalasi konflik Iran dan antisipasi keputusan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini menciptakan dinamika menarik di pasar logam mulia yang biasanya menjadi aset safe haven.
Harga Emas Terus Melorot Meski Konflik Memanas
Merujuk data dari Refinitiv, harga emas ditutup pada posisi US$ 5004,38 per troy ons pada perdagangan Selasa (17/3/2026), melemah tipis 0,02%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif emas selama lima hari berturut-turut, dengan total penurunan mencapai 3,6%. Pada Rabu (18/3/2026) pagi, harga emas kembali turun 0,11% ke US$ 4998,97 per troy ons.
Menurut Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, pasar emas saat ini sedang mengalami tarik menarik antara permintaan sebagai aset lindung nilai dan tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Ketegangan geopolitik memang mendorong minat terhadap emas, tapi tekanan inflasi dan harapan suku bunga yang tinggi menahan kenaikan harga. Mungkin emas akan mencetak rekor baru, tapi sepertinya belum dalam waktu dekat karena tenaga investor bullish mulai habis," ujar Wyckoff kepada Reuters.
Emas biasanya diminati saat ketidakpastian tinggi dan inflasi melonjak. Namun, ketika suku bunga naik, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.
Perang Iran & Dampaknya Terhadap Harga Emas dan Minyak
Konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran kini memasuki pekan ketiga, mengganggu perdagangan energi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Israel mengklaim telah menewaskan kepala keamanan Iran, sementara Iran menolak tawaran de-eskalasi, menegaskan bahwa AS dan Israel harus "dipaksa bertekuk lutut." Hal ini menambah ketidakpastian geopolitik.
Harga minyak internasional pun naik lebih dari 2% pada Selasa (17/3/2026), yang semakin menekan inflasi global. Kenaikan harga minyak ini menjadi salah satu faktor yang membuat bank sentral AS diperkirakan akan berhati-hati dalam mengambil keputusan suku bunga.
Pasar tengah menunggu keputusan The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia, dengan ekspektasi suku bunga akan tetap dipertahankan. Menurut Commerzbank, bank Jerman, pertemuan ini kemungkinan tidak akan menjadi katalis besar bagi emas mengingat ketidakpastian perang dan pasokan minyak.
Mengapa Harga Emas Tidak Melonjak Drastis?
Pergerakan harga emas yang tidak naik tajam di tengah perang ini cukup mengejutkan. Biasanya, saat krisis global, harga emas melonjak signifikan sebagai aset safe haven. Contohnya saat invasi Rusia ke Ukraina, harga emas naik drastis karena kepanikan di kalangan bank sentral dan negara-negara yang memborong emas untuk mengurangi ketergantungan dolar AS.
Namun, situasi perang AS-Israel melawan Iran menunjukkan respons berbeda. James Meadway, mantan penasihat ekonomi Inggris, menjelaskan bahwa pasar mungkin mengantisipasi The Fed menghentikan pemangkasan suku bunga bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, sehingga aset berbasis dolar lebih menarik daripada emas yang tidak memberikan bunga.
Selain itu, harga emas sudah mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun, sehingga reaksi pasar terhadap perang sekarang menjadi lebih kecil. Rebecca Christie dari Bruegel menambahkan bahwa penguatan dolar AS juga menekan harga emas, karena emas diperdagangkan dalam dolar.
Bourgeot dari French Institute for International and Strategic Affairs mengatakan emas kini lebih dianggap sebagai aset spekulatif dan tidak lagi menjadi lindung nilai ketidakpastian sekuat dua tahun lalu.
Harga Perak Pun Tertekan Meski Defisit Pasokan
Sama halnya dengan emas, harga perak juga melemah. Pada perdagangan Selasa (17/3/2026), harga perak turun 1,83% ke posisi US$ 79,28 per troy ons dan kembali turun 0,25% ke US$ 79,09 pada Rabu pagi.
Berbeda dengan emas, harga perak tertekan meski pasar mencatat defisit pasokan sekitar 67 juta ounce untuk tahun keenam berturut-turut. Dalam empat sesi terakhir, harga perak turun hampir 10%, menunjukkan sentimen pasar lebih dominan dibandingkan fundamental pasokan.
Perak sangat sensitif terhadap sentimen pasar karena berfungsi sebagai logam moneter sekaligus komoditas industri. Aksi jual terbaru mencerminkan investor yang menghindari aset berisiko, sementara produksi tambang global diperkirakan mencapai 820 juta ounce pada 2026, tertinggi dalam satu dekade.
Permintaan industri perak sedikit melemah karena peningkatan efisiensi panel surya, sehingga harga perak lebih dipengaruhi sentimen dibandingkan kekurangan pasokan. Selama sentimen negatif bertahan, harga perak berpotensi berfluktuasi tajam setelah turun sekitar 30% dari puncaknya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, tren pelemahan harga emas dan perak ini mencerminkan situasi pasar yang sangat kompleks dan penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di Timur Tengah biasanya menjadi pemicu kenaikan emas sebagai aset safe haven, namun tekanan kebijakan moneter The Fed dan penguatan dolar AS saat ini menjadi faktor penghambat utama. Hal ini menunjukkan bahwa investor saat ini sangat memperhitungkan imbal hasil dan risiko inflasi dibanding hanya mengandalkan ketidakpastian geopolitik.
Kondisi ini juga menandakan bahwa pergeseran sentimen pasar terhadap logam mulia semakin nyata, dengan emas dan perak kini lebih dipandang sebagai aset spekulatif ketimbang lindung nilai sempurna terhadap risiko. Investor perlu mencermati perkembangan keputusan The Fed dan situasi geopolitik agar bisa mengambil posisi yang tepat di pasar logam mulia.
Ke depan, jika konflik Iran berlanjut dan inflasi global semakin memburuk, harga emas dan perak berpotensi kembali naik. Namun, jika The Fed menaikkan suku bunga lebih tinggi, tekanan pada harga logam mulia akan tetap kuat. Oleh karena itu, menjaga kewaspadaan dan mengikuti perkembangan secara dinamis adalah kunci bagi para pelaku pasar logam mulia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0