Penyintas Banjir Bandang Agam Kembali Bersihkan Rumah Sambut Lebaran
Penyintas banjir bandang di Jorong Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai kembali ke rumah mereka yang terdampak bencana untuk mempersiapkan rumah menyambut Lebaran. Setelah bencana yang melanda akhir November 2025 lalu, warga secara bertahap melakukan pembersihan terutama pada bagian halaman yang masih tertutup material lumpur dan longsoran.
Pembersihan Rumah Pasca Banjir Bandang
Sejumlah warga, seperti Maswar (64), tampak menyiram halaman rumah dengan selang air untuk membersihkan sisa tanah yang masih menumpuk. Maswar bersama lima anaknya berencana merayakan Lebaran di rumah tersebut meskipun kondisi rumah dan warungnya rusak parah akibat banjir bandang.
“Mau Lebaran di sini, beramai-ramai di sini. Kami bersihkan halaman dulu, sudah tiga hari ini,” ujar Maswar.
Warung milik Maswar yang berada di samping rumahnya habis tersapu banjir dan tidak menyisakan barang dagangan sama sekali. Tidak hanya itu, empang kecil yang dimilikinya juga tertutup material longsor sepenuhnya. Ia masih mengingat jelas bagaimana debit air sungai yang berada sekitar 200 meter dari rumahnya membawa material besar seperti batu dan kayu.
Meskipun bagian dalam rumah sudah dibersihkan oleh relawan, Maswar masih menyewa tenaga tambahan untuk mengangkat tanah setebal sekitar 10 sentimeter di halaman rumahnya. Ia juga berencana menggelar karpet di dalam rumah dan mengadakan doa bersama keluarga saat Lebaran. Keputusan untuk tetap merayakan Lebaran di rumah tersebut didasari oleh keinginan istrinya yang masih trauma pascabanjir dan mengalami stroke pada tangan kanan.
Upaya Warga Lain dan Kondisi Huntara
Tidak jauh dari rumah Maswar, warga lain juga terlihat memperbaiki saluran air secara manual menggunakan cangkul untuk mencegah genangan pada musim hujan. Salah satu penyintas, Yeni (44), yang kini tinggal di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, mengatakan bahwa rumahnya mengalami kerusakan, termasuk bagian depan yang kehilangan kaca akibat hantaman batang kayu saat banjir.
Di halaman rumah Yeni, perabotan seperti sofa sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Meski begitu, Yeni tetap mempersiapkan rumah lamanya untuk menyambut keluarga yang pulang dari perantauan dengan membersihkan bekas galodo dan membeli karpet plastik untuk dibentangkan di dalam rumah. Walaupun rumahnya berada di zona merah dan tidak diizinkan untuk ditempati pada malam hari, Yeni dan keluarganya berharap bisa berkumpul bersama saat Lebaran.
“Bekas galodo dibersihkan kalau ada yang di rantau mau pulang, katanya mau pulang ke kampung, kita bersih-bersih. Nanti ada kue untuk dimakan sama-sama,” ujar Yeni.
Dampak Bencana Banjir Bandang Agam 2025
Bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung yang melanda Agam pada akhir November 2025 mengakibatkan 165 orang meninggal dunia. Korban tersebar di beberapa kecamatan: Malalak (16 orang), Matur (1), Tanjung Raya (10), Palupuh (1), Palembayan (136), dan Ampek Nagari (1).
Selain korban jiwa, bencana ini menyebabkan 3.246 jiwa mengungsi, baik di fasilitas umum seperti masjid maupun di rumah saudara. Kondisi ini menuntut upaya pemulihan yang cukup panjang dan melibatkan berbagai pihak, terutama untuk membantu para penyintas agar bisa kembali ke kehidupan normal.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kepulangan penyintas banjir bandang Agam untuk membersihkan rumah dan menyambut Lebaran merupakan tanda kuat dari semangat kebersamaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana besar. Meski masih trauma dan menghadapi keterbatasan kondisi fisik serta kerusakan rumah yang cukup parah, upaya mereka untuk menghidupkan kembali tradisi Lebaran di kampung halaman menunjukkan nilai pentingnya identitas dan rasa memiliki terhadap tempat tinggal.
Namun, keputusan banyak warga untuk kembali ke rumah mereka yang berada di zona merah dan belum sepenuhnya aman juga mengindikasikan perlunya perhatian serius dari pemerintah dan lembaga terkait untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi. Jika dibiarkan, risiko dampak bencana susulan tetap mengancam keselamatan mereka. Selain itu, trauma psikologis yang dialami warga, khususnya lansia dan penyintas yang mengalami gangguan kesehatan, harus menjadi prioritas dalam program pemulihan pasca-bencana.
Ke depan, pemantauan kondisi rumah dan lingkungan yang terdampak, serta edukasi kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi sangat penting agar masyarakat dapat hidup lebih aman dan nyaman. Lebaran tahun ini menjadi momentum refleksi sekaligus harapan bagi pemulihan Agam yang lebih baik.
Terus ikuti perkembangan berita pemulihan bencana di Agam dan upaya masyarakat menyongsong masa depan yang lebih tangguh.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0