Rating Trump Anjlok Gegara Perang Iran dan Lonjakan Harga BBM di AS
Rating penerimaan warga Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump kembali mengalami penurunan signifikan akibat perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran, yang turut memicu melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan membebani biaya hidup masyarakat.
Penurunan Rating Trump Akibat Dampak Perang Iran
Berdasarkan hasil survei Reuters/Ipsos yang dirilis pada akhir Maret 2026, rating Trump turun dari 40 persen menjadi 36 persen. Survei ini dilakukan selama empat hari, mulai pekan lalu hingga Senin awal pekan ini, dan menunjukkan bahwa hanya 25 persen responden yang mendukung kebijakan Trump terkait penanganan biaya hidup.
Harga BBM yang meroket akibat konflik sejak 28 Februari antara AS, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama memburuknya persepsi publik terhadap kepemimpinan Trump. Lonjakan harga minyak dunia berdampak langsung pada kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri, memperberat beban ekonomi keluarga Amerika.
Dampak Sosial Ekonomi dan Kekhawatiran Publik
Para responden menyoroti peningkatan biaya hidup sebagai masalah utama yang memperburuk pandangan mereka terhadap Trump. Analis politik menilai hasil jajak pendapat ini mencerminkan kekecewaan dan penentangan signifikan dari masyarakat terhadap kebijakan luar negeri dan ekonomi Trump.
"Penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa presiden merasakan penderitaan mereka dan bantuan sedang dalam perjalanan," ujar Amanda Makki, ahli strategi politik dan pengacara dari Partai Republik.
Meskipun rating Trump turun, dukungan di kalangan Partai Republik masih relatif kuat. Hanya sekitar 20 persen anggota partai yang menyatakan tidak setuju dengan kinerja keseluruhan pemerintahan Trump. Namun, ketidaksetujuan terhadap penanganan masalah biaya hidup meningkat dari 27 persen menjadi 34 persen dalam waktu satu minggu.
Perbandingan dengan Presiden Sebelumnya dan Tren Rating
Angka 36 persen ini merupakan posisi terendah Trump selama periode kedua kepresidenannya dan bahkan lebih rendah dari rating Presiden Joe Biden saat ini. Pada awal masa kepresidenannya, Trump memiliki rating 47 persen, yang kemudian sempat stabil di kisaran 40 persen sejak musim panas tahun lalu.
Namun, rating tersebut masih sedikit lebih tinggi dari titik terendah masa jabatan pertama Trump sebesar 33 persen dan juga melebihi titik terendah Biden sebesar 35 persen.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penurunan rating Trump ini bukan hanya cerminan kekecewaan atas kebijakan perang, tetapi juga sinyal kuat adanya kegelisahan publik terhadap masalah ekonomi yang makin memburuk. Kenaikan harga BBM sebagai akibat langsung dari konflik militer telah memperbesar tekanan sosial dan ekonomi yang harus dihadapi warga AS, sehingga mempengaruhi persepsi terhadap kepemimpinan nasional.
Lebih jauh, meskipun dukungan internal Partai Republik masih kokoh, tren kenaikan ketidakpuasan terkait biaya hidup dapat memicu pergeseran politik yang signifikan jika tidak ditangani dengan kebijakan yang efektif dan responsif. Publik menginginkan bukti nyata bahwa pemerintah memahami dan berupaya meringankan beban mereka.
Ke depan, perhatian utama harus tertuju pada bagaimana Trump dan timnya mengelola dampak ekonomi dari konflik ini, serta langkah diplomasi yang dapat menurunkan ketegangan dengan Iran. Ini akan menjadi ujian besar bagi kelangsungan dukungan publik dan stabilitas politik di AS.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca laporan selengkapnya di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0