Harga Emas Ambruk Lebih dari 1% Usai Dolar AS Menguat Tajam
Harga emas merosot tajam lebih dari 1% pada perdagangan awal Maret 2026, terdampak oleh melonjaknya nilai dolar Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai musuh abadi emas. Penurunan ini juga diikuti oleh harga perak yang ambruk 1,7%, memperlihatkan tekanan kuat pada logam mulia akibat penguatan mata uang AS.
Harga Emas dan Perak Tertekan oleh Dolar AS
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (5/3/2026), harga emas ditutup pada posisi US$ 5.076,59 per troy ons, turun 1,14% dari penutupan sebelumnya. Angka ini merupakan titik terendah harga emas sejak 19 Februari 2026, atau dalam dua minggu terakhir. Penurunan harga ini bahkan membuat emas kembali turun di bawah level psikologis US$ 5.100 per troy ons, menghapus kenaikan 1% yang terjadi pada hari Rabu.
Sementara itu, harga perak juga mengalami tekanan signifikan. Pada Kamis, harga perak ditutup di posisi US$ 82 per troy ons, turun tajam 1,7%. Namun, pada Jumat pagi (6/3/2026) pukul 06.10 WIB, harga emas dan perak mulai sedikit menguat. Emas naik sekitar 0,25% ke US$ 5.089, sedangkan perak naik 0,29% ke US$ 82,24.
Penguatan Dolar Menjadi Faktor Utama
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama pelemahan harga emas dan perak. Indeks dolar AS ditutup di posisi 99,08 pada Kamis, level tertinggi sejak 19 Februari 2026. Dolar AS dikenal sebagai musuh abadi emas karena kenaikan nilai dolar membuat harga emas yang biasanya dikonversi ke dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga menurunkan permintaan.
Dua faktor utama menopang penguatan dolar:
- Kenaikan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam satu tahun akibat gangguan di Selat Hormuz dan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
- Data ketenagakerjaan AS yang solid, menunjukkan pasar tenaga kerja masih tangguh dengan pengumuman PHK turun drastis dan klaim tunjangan pengangguran stabil lebih rendah dari perkiraan.
Laporan Challenger Job Cuts mengindikasikan penurunan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebesar 55% di Februari dengan 48.307 PHK dibanding Januari yang mencapai 108.435. Klaim awal tunjangan pengangguran juga stabil di 213 ribu, lebih rendah dari perkiraan pasar 215 ribu.
Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja non-pertanian kuartal IV 2025 naik 2,8%, meskipun melambat dari kuartal sebelumnya yang naik 5,2%. Namun, biaya tenaga kerja per unit juga naik 2,8%, membalikkan tren penurunan sebelumnya.
Prospek Data Ekonomi dan Dampaknya pada Harga Emas
Investor emas kini menantikan data Nonfarm Payrolls (NFP) Februari yang akan dirilis hari ini. Proyeksi menunjukkan penambahan 59 ribu lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3%. Selain itu, data penjualan ritel Januari juga akan diumumkan, yang sebelumnya tertunda akibat penutupan sebagian pemerintah AS.
Walaupun harga emas melemah, potensi kenaikan masih ada karena faktor geopolitik. Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, termasuk serangan Israel ke Teheran yang menargetkan infrastruktur militer Iran, dapat mendorong permintaan aset safe haven seperti emas.
"Konflik di Timur Tengah bisa meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas. Namun risiko harga energi tinggi yang berkepanjangan dapat membuat pemangkasan suku bunga tidak mungkin, bahkan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga, membatasi kenaikan harga emas," ujar Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics.
Secara jangka panjang, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, emas cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah karena emas adalah aset non-yielding (tidak memberikan imbal hasil).
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pergerakan harga emas dan perak yang menurun tajam kali ini merupakan cerminan kuatnya pengaruh dolar AS terhadap pasar logam mulia. Penguatan dolar didorong oleh faktor fundamental yang solid, mulai dari kenaikan harga minyak hingga data ketenagakerjaan yang positif. Hal ini menandakan bahwa investor global lebih memilih aset berbasis dolar dengan ekspektasi suku bunga tetap atau naik dalam waktu dekat, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Namun, penting juga dicermati bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi bisa menjadi katalis jangka menengah bagi harga emas untuk kembali menguat. Ketidakpastian geopolitik sering kali mendorong investor beralih ke emas sebagai pelindung nilai. Oleh karena itu, pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan penguatan dolar dan eskalasi risiko geopolitik.
Untuk investor dan pengamat pasar, penting untuk terus memantau rilis data ekonomi AS serta perkembangan konflik global karena keduanya akan menjadi faktor utama dalam menentukan tren harga emas dan perak dalam waktu dekat.
Dengan volatilitas yang tinggi, strategi investasi emas harus lebih dinamis dan mempertimbangkan berbagai faktor makro dan geopolitik yang saling terkait.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0