Banjir di Kota Tangerang: Warga Dirikan Dapur Umum dan Sahur Mi Instan Bersama

Mar 8, 2026 - 07:40
 0  5
Banjir di Kota Tangerang: Warga Dirikan Dapur Umum dan Sahur Mi Instan Bersama

Banjir melanda permukiman RW 014, Kelurahan Peninggilan Utara, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, sehingga puluhan warga terpaksa mengungsi sementara dan melakukan sahur bersama di dapur umum darurat. Banjir dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter ini masih menggenangi lingkungan bahkan memasuki waktu sahur dan menjelang salat Subuh.

Ad
Ad

Banjir Rendam Permukiman dan Masjid Jami Al-Hidayah

Menurut laporan, genangan air setinggi sedengkul orang dewasa masih memenuhi halaman dan ruang Masjid Jami Al-Hidayah sekitar pukul 04.28 WIB. Kondisi ini membuat masjid tidak bisa digunakan untuk salat Subuh berjemaah, memaksa warga mencari alternatif ibadah lain.

Ketua RW 014 Peninggilan Utara, Rudin Sagitara, memaparkan, banjir ini disebabkan oleh hujan dengan curah biasa, namun dikarenakan permukiman berada di dataran rendah dan dikelilingi perumahan, air hujan langsung menggenangi wilayah tersebut.

"Ini sebenarnya hujan kategori biasa, curahnya tidak terlalu tinggi. Tapi karena wilayah kami rendah dan dikelilingi perumahan, begitu hujan turun air langsung mengalir ke sini," jelas Rudin.

Pengurus masjid juga menggunakan pengeras suara untuk mengingatkan warga agar tetap waspada karena air naik dengan cepat.

Dampak Banjir terhadap Aktivitas Warga dan Ibadah

Ketua RT 02 RW 014, Supri, menambahkan bahwa beberapa rumah warga bahkan mengalami genangan air lebih tinggi dari 50 sentimeter. Kondisi ini menyulitkan warga untuk keluar rumah dan membatalkan beberapa rencana pengecekan lingkungan.

"Tadi kami sempat mau turun ke warga, tapi tidak jadi karena airnya cukup dalam," ujarnya.

Banjir juga mengganggu pelaksanaan ibadah selama bulan puasa. Masjid Jami Al-Hidayah yang terendam air tidak bisa digunakan untuk salat Subuh berjemaah.

Rudin menjelaskan, proses pembersihan masjid biasanya memakan waktu hingga jam delapan pagi, sehingga salat Subuh berjemaah di masjid tersebut tidak memungkinkan.

Warga diarahkan untuk menggunakan masjid lain yang terletak di wilayah lebih tinggi seperti Masjid Al-Jihad, atau melaksanakan salat di rumah masing-masing terlebih dahulu.

Dapur Umum dan Sahur Bersama untuk Warga Terdampak

Saat banjir berlangsung, sekitar 35 warga mengungsi sementara dan berkumpul di lokasi yang lebih aman. Untuk mendukung kebutuhan sahur, warga mendirikan dapur umum dengan menu sederhana berupa mi instan.

"Kita bikin dapur umum supaya warga yang terdampak bisa sahur. Yang tidak bisa keluar rumah juga kita antar makanannya," kata Rudin.

Langkah ini menjadi solusi praktis agar warga tetap dapat menjalankan ibadah puasa meskipun dalam kondisi darurat dan terdampak banjir.

Apa Penyebab dan Cara Mengantisipasi Banjir di Tangerang?

Banjir ini terjadi akibat lokasi permukiman yang berada di dataran rendah dan curah hujan walaupun tidak terlalu tinggi, namun air cepat menggenangi wilayah karena aliran terhambat oleh perumahan di sekitarnya.

Fenomena ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan sistem drainase dan mitigasi banjir agar kejadian serupa tidak berulang, terutama saat musim hujan dan bulan puasa.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, banjir di Kota Tangerang yang menggenangi permukiman RW 014 ini bukan hanya soal bencana alam sesaat, melainkan juga cerminan dari masalah tata ruang dan infrastruktur perkotaan yang belum optimal. Genangan air hingga 50 sentimeter pada lokasi strategis seperti masjid memperlihatkan perlunya perencanaan lingkungan yang lebih baik dan peningkatan kapasitas drainase.

Selain itu, dampak sosial seperti pengungsian dan sahur bersama dengan menu seadanya menunjukkan ketahanan komunitas yang patut diapresiasi, namun juga mengindikasikan kebutuhan dukungan lebih besar dari pemerintah dalam hal logistik dan kesiapsiagaan bencana. Warga yang memilih mengungsi di dapur umum dan mengandalkan mi instan sebagai menu sahur menjadi simbol solidaritas sekaligus keterbatasan sumber daya di saat krisis.

Ke depan, penting untuk memantau respons pemerintah Kota Tangerang dalam memperbaiki sistem pengelolaan air hujan dan menyiapkan fasilitas pengungsian yang layak dan terpadu, terutama saat musim hujan dan bulan Ramadan. Pembaca juga harus terus mengikuti perkembangan kondisi banjir dan inisiatif mitigasi yang diterapkan agar dampak serupa dapat diminimalisir.

Banjir di Tangerang ini menjadi pengingat bahwa bencana alam memerlukan kesiapsiagaan komprehensif dan kolaborasi antarwarga serta pemerintah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad