Interpol Bongkar 45.000 IP Berbahaya dan Tangkap 94 Pelaku Kejahatan Siber Global

Mar 13, 2026 - 22:40
 0  6
Interpol Bongkar 45.000 IP Berbahaya dan Tangkap 94 Pelaku Kejahatan Siber Global

Interpol mengumumkan keberhasilan mereka dalam membongkar 45.000 alamat IP berbahaya dan server yang digunakan dalam kampanye phishing, malware, dan ransomware. Operasi ini merupakan bagian dari upaya global untuk melumpuhkan jaringan kriminal siber, mengganggu ancaman baru, dan melindungi korban dari penipuan online.

Ad
Ad

Operasi ini dilakukan dalam kerangka Operasi Synergia, sebuah aksi penegakan hukum internasional yang melibatkan 72 negara dan wilayah. Selain pemblokiran IP berbahaya, operasi ini berujung pada penangkapan 94 orang, sementara 110 individu lainnya masih dalam penyelidikan. Sebanyak 212 perangkat elektronik dan server juga disita dalam serangkaian penggerebekan di berbagai lokasi strategis.

Penangkapan dan Penggerebekan di Berbagai Negara

Di Bangladesh, operasi berhasil menangkap 40 tersangka dan menyita 134 perangkat elektronik yang terkait dengan berbagai jenis kejahatan siber, termasuk penipuan pinjaman, penipuan pekerjaan, pencurian identitas, dan penipuan kartu kredit.

Sementara itu, otoritas di Togo menangkap 10 tersangka yang menjalankan sindikat penipuan dari sebuah kawasan pemukiman. Para pelaku ini melakukan peretasan akun media sosial dan menjalankan skema rekayasa sosial, seperti penipuan asmara dan pemerasan melalui sextortion.

"Para penipu ini, setelah berhasil mengakses akun korban tanpa izin, menghubungi kontak online korban dengan berpura-pura menjadi pemilik akun untuk menjalin hubungan asmara palsu dan menipu teman serta keluarga mereka," jelas laporan resmi. Tujuan utama penipuan ini adalah mengelabui korban kedua agar mentransfer uang.

Di Macau, aparat keamanan mengidentifikasi lebih dari 33.000 situs phishing dan penipuan yang berkedok kasino palsu dan infrastruktur penting seperti bank, pemerintah, serta layanan pembayaran. Situs-situs ini dirancang untuk menipu korban dengan menginstruksikan mereka mengisi saldo atau memasukkan data pribadi.

Operasi Synergia: Fase Ketiga dan Dampak Global

Penindakan ini merupakan fase ketiga dari Operation Synergia, yang berlangsung antara 18 Juli 2025 hingga 31 Januari 2026. Dua fase sebelumnya, pada tahun 2023 dan 2024, juga berhasil mengidentifikasi ribuan server berbahaya dan melakukan sejumlah penangkapan.

CBI India Gempur Sindikat Penipuan Transnasional

Bersamaan dengan pengumuman Interpol, Biro Investigasi Sentral (CBI) India melaporkan penggerebekan terkoordinasi di 15 lokasi di Delhi, Rajasthan, Uttar Pradesh, dan Punjab. Penggerebekan ini terkait sindikat penipuan investasi online dan pekerjaan paruh waktu besar-besaran yang berpusat pada platform fintech Dubai bernama Pyypl.

"Diduga ribuan warga India telah ditipu hingga miliaran rupiah melalui skema online yang dijalankan oleh sindikat penipuan terorganisir transnasional," kata CBI.

Kelompok kriminal ini memanfaatkan media sosial, aplikasi mobile, dan layanan pesan terenkripsi untuk menarik korban dengan janji keuntungan tinggi dari investasi online dan peluang kerja paruh waktu. Menurut laporan Proofpoint pada Oktober 2024, skema ini mulai dengan meminta korban menyetor sejumlah kecil uang dan menampilkan keuntungan palsu di situs fiktif, lalu meyakinkan korban untuk menginvestasikan dana lebih besar.

Setelah dana masuk, uang langsung dipindahkan melalui berbagai rekening bank "mule" untuk menutup jejak dan kemudian dicairkan melalui penarikan ATM luar negeri dengan kartu debit yang mendukung transaksi internasional serta top-up dompet digital di platform fintech luar negeri seperti Pyypl menggunakan jaringan pembayaran Visa dan Mastercard.

Penarikan ini dicatat sebagai transaksi point-of-sale (PoS) di sistem perbankan agar sulit terdeteksi. Sebagian uang juga dikonversi menjadi mata uang kripto dan dikonsolidasikan dalam akun-akun yang terhubung ke 15 perusahaan cangkang dan disalurkan melalui dua entitas tertentu.

"Entitas ini mengubah hasil kejahatan menjadi USDT melalui bursa aset virtual di India dan mentransfer kripto tersebut ke dompet yang sudah terdaftar putih," tambah CBI.

CBI telah mengidentifikasi Ashok Kumar Sharma dan beberapa tersangka lainnya sebagai anggota kunci sindikat tersebut. Sharma sudah diamankan, berbagai rekening bank yang digunakan juga telah dibekukan, dan dokumen serta bukti digital terkait operasi sindikat telah disita.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, keberhasilan Interpol dan CBI ini bukan hanya sekadar angka besar penangkapan dan pemblokiran IP, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa kejahatan siber kini semakin terorganisir dan lintas negara dengan modus yang makin canggih. Operasi ini menunjukkan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman siber yang tidak mengenal batas geografis.

Selain itu, kasus di India mengungkap bagaimana sindikat memanfaatkan teknologi finansial dan jaringan pembayaran global untuk mencuci uang hasil kejahatan. Ini menjadi peringatan bagi regulator dan penegak hukum agar memperkuat pengawasan fintech dan aset digital, serta menerapkan regulasi yang adaptif terhadap inovasi teknologi.

Ke depan, publik harus waspada terhadap skema penipuan yang terus berkembang, terutama yang memanfaatkan media sosial dan aplikasi komunikasi terenkripsi. Kolaborasi global seperti Operasi Synergia wajib ditingkatkan agar kejahatan siber dapat dicegah lebih dini, dan korban dapat terlindungi dengan lebih efektif.

Terus ikuti perkembangan terbaru dari kami untuk informasi eksklusif seputar penegakan hukum siber dan keamanan digital.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad