DPR Desak Panglima TNI Bentuk Tim Khusus Bebaskan 4 WNI Disandera di Somalia

Jul 28, 2026 - 14:40
 0  2
DPR Desak Panglima TNI Bentuk Tim Khusus Bebaskan 4 WNI Disandera di Somalia

Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Daeng Ical, mendesak pemerintah segera membentuk satuan tugas khusus guna menyelamatkan empat warga negara Indonesia (WNI) yang kini disandera oleh perompak di Somalia bersama 15 awak kapal lainnya.

Ad
Ad

Permintaan ini disampaikan Daeng Ical pada Selasa (28/7) di Makassar, menegaskan bahwa pembebasan keempat WNI harus menjadi perhatian utama pemerintah, termasuk Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kementerian Luar Negeri, dan seluruh instansi terkait. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2026 tentang TNI, yang memberikan kewenangan kepada TNI untuk melindungi WNI di luar negeri melalui operasi militer selain perang (OMSP).

"Kita meminta Panglima TNI, Kementerian Luar Negeri, dan pihak terkait segera mengambil langkah terukur agar WNI yang disandera di Somalia bisa diselamatkan dan dipulangkan ke Indonesia," ujar Daeng Ical.

Urgensi Pembentukan Satuan Tugas dan Opsi Operasi Penyelamatan

Menurut Daeng Ical, opsi operasi penyelamatan perlu menjadi pertimbangan serius pemerintah. Indonesia sudah memiliki pengalaman dalam melakukan operasi penyelamatan warga negara di luar negeri yang dapat dijadikan acuan. Jika upaya diplomasi menemui jalan buntu, maka kemampuan TNI ini bisa menjadi alternatif efektif.

TNI juga telah mengaktifkan struktur pertahanan di luar negeri, termasuk atase pertahanan, guna memberikan masukan dan membantu proses pengambilan keputusan yang terukur untuk segera memulangkan atau menyelamatkan WNI yang disandera.

Kendala Negosiasi dan Informasi Simpang Siur Tuntutan Tebusan

Daeng Ical mengungkapkan, proses negosiasi hingga saat ini menghadapi sejumlah kendala. Berdasarkan laporan yang diterimanya, belum ada pihak yang jelas untuk diajak berunding karena identitas kelompok penyandera belum pasti. Selain itu, lokasi penyanderaan yang berpindah-pindah memperumit upaya pelacakan.

"Dari laporan agen pertahanan di Eropa, tidak jelasnya kontak person lembaga atau siapa yang bertanggung jawab untuk diajak bernegosiasi. Jadi para pihaknya yang tidak jelas," tambahnya.

Politikus PKB ini juga menyoroti simpang siurnya informasi terkait tuntutan uang tebusan. Nilai tebusan disebut berubah-ubah, mulai dari US$2 juta, meningkat menjadi US$5 juta, hingga kabar terakhir mencapai US$10 juta. Namun, informasi ini belum dapat diverifikasi secara resmi.

"Inilah yang kita minta supaya TNI, Menteri Luar Negeri, dan pihak terkait termasuk pekerja imigrasi Indonesia untuk berkoordinasi dan membentuk task force agar bisa secara terukur menyelamatkan WNI kita yang disandera perompak," katanya.

Upaya Pemerintah dan Komunikasi dengan Kelompok Perompak

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan komunikasi intensif dengan semua pihak, termasuk langsung dengan kelompok perompak, dalam upaya pembebasan empat WNI anak buah kapal (ABK) yang disandera di Somalia.

Menurut Sugiono, pemerintah terus mengupayakan langkah intensif agar pembebasan para sandera dapat berjalan dengan selamat.

"Kami sudah melakukan komunikasi, termasuk langsung dengan pembajaknya," ujar Sugiono usai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (20/5).

Keempat WNI yang menjadi sandera berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Selain mereka, di kapal yang dibajak juga terdapat 10 warga Pakistan, seorang warga India, dan seorang warga Myanmar.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, desakan DPR kepada Panglima TNI untuk membentuk satuan tugas khusus adalah langkah strategis dan krusial mengingat situasi penyanderaan yang dinamis dan kompleks. Dengan adanya kewenangan operasi militer selain perang, TNI memiliki potensi besar untuk menjalankan operasi penyelamatan yang cepat dan efektif, mengingat diplomasi saja belum membuahkan hasil konkret.

Selain itu, ketidakjelasan identitas penyandera dan lokasi sandera yang berpindah-pindah menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi antara intelijen, diplomasi, dan operasi militer. Jika pemerintah gagal mengatasi hambatan ini, risiko keselamatan WNI semakin tinggi.

Ke depan, publik perlu mengawasi perkembangan pembentukan task force ini dan bagaimana pemerintah mengelola komunikasi dengan kelompok perompak. Pengalaman Indonesia dalam operasi penyelamatan sebelumnya bisa menjadi modal penting, namun tantangan geografis dan politik di Somalia tetap menjadi faktor utama yang harus diperhitungkan secara matang.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kasus penyanderaan dan upaya pembebasan, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad