Penyintas Bencana Sekumur Manfaatkan Kayu Bekas Banjir untuk Bangun Perahu

Mar 17, 2026 - 19:30
 0  3
Penyintas Bencana Sekumur Manfaatkan Kayu Bekas Banjir untuk Bangun Perahu

Penyintas bencana di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, menunjukkan kreativitas dan ketangguhan dengan memanfaatkan kayu bekas banjir untuk membangun perahu. Langkah ini diambil guna mendukung aktivitas di sungai serta membantu warga setempat dalam berbagai kebutuhan, termasuk evakuasi saat banjir melanda.

Ad
Ad

Memanfaatkan Kayu Gelam Bekas Banjir untuk Perahu

Muktar Sulaiman, salah satu warga penyintas bencana di Desa Sekumur, menjelaskan bahwa kayu besar yang digunakan untuk pembuatan perahu tersebut merupakan kayu gelam, yang oleh warga setempat disebut juga kayu suling air. Kayu ini memiliki panjang sekitar 10 meter dan diameter lebih dari satu meter, tersangkut di depan rumahnya setelah banjir bandang yang terjadi pada November 2025.

"Kayu besar ini kebetulan tersangkut di depan rumah waktu banjir, jadi saya gunakan untuk membuat perahu," ujar Muktar saat ditemui di lokasi, Selasa (17/3/2026).

Penggunaan kayu bekas banjir sebagai bahan baku perahu merupakan cara yang efisien sekaligus simbol ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Kayu gelam dikenal kuat dan tahan air, sangat cocok untuk pembuatan perahu tradisional yang digunakan dalam aktivitas sungai.

Sejarah dan Proses Pembuatan Perahu di Keluarga Muktar

Muktar menjelaskan bahwa pembuatan perahu bukan hal baru bagi keluarganya. Ia sudah terbiasa membuat perahu sejak muda, meneruskan keahlian yang diwariskan oleh almarhum ayahnya.

Sebelum banjir besar terjadi, Muktar sudah memiliki empat perahu tanpa motor. Dua perahu disimpan di rumah, sementara dua lainnya terikat di tepi sungai dan dapat digunakan oleh warga sekitar.

Perahu-perahu ini juga berperan penting dalam mengevakuasi warga saat banjir, sehingga keberadaannya sangat vital bagi masyarakat Sekumur dan sekitarnya.

Pembuatan satu perahu membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Muktar berencana menjual perahu buatannya dengan harga sekitar Rp4 juta per unit. Namun, jika perahu tidak terjual, ia akan menyimpannya di tepi sungai untuk digunakan oleh masyarakat secara bebas, seperti untuk mencari ikan atau membantu evakuasi.

Dampak Banjir terhadap Mata Pencaharian dan Rencana Pemulihan

Meskipun perahu memiliki peranan penting, pembuatan perahu bukanlah mata pencaharian utama Muktar. Ia sebenarnya lebih fokus pada berkebun dengan menanam durian, duku, dan sawit. Namun, banjir yang terjadi telah merusak lahan garapannya sehingga perlu persiapan ulang sebelum bisa berkebun kembali.

"Setelah Lebaran baru bisa bersih-bersih lahan. Untuk saat ini, saya mau menyelesaikan perahu dulu," ungkap Muktar.

Hal ini menunjukkan bagaimana bencana banjir tidak hanya merusak infrastruktur fisik tetapi juga memukul mata pencaharian masyarakat secara langsung, sehingga pemulihan membutuhkan waktu dan usaha ekstra.

Peran Perahu dalam Kehidupan dan Pemulihan Masyarakat Sekumur

Perahu yang dibuat dari kayu bekas banjir ini menjadi simbol adaptasi dan kreativitas masyarakat penyintas bencana. Selain membantu aktivitas sehari-hari, seperti mencari ikan dan transportasi di sungai, perahu juga berfungsi sebagai alat evakuasi penting ketika banjir datang kembali.

  • Mendukung mobilitas warga di wilayah yang rawan banjir
  • Mempercepat proses evakuasi dan penyelamatan
  • Menghidupkan kembali perekonomian lokal melalui aktivitas perikanan dan transportasi

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, inisiatif Muktar Sulaiman dalam memanfaatkan kayu bekas banjir untuk membuat perahu merupakan contoh nyata ketangguhan dan inovasi masyarakat lokal dalam menghadapi bencana. Di tengah keterbatasan sumber daya dan kerusakan yang ditimbulkan bencana, tindakan ini tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan praktis tapi juga memperkuat solidaritas sosial.

Lebih jauh, perahu-perahu ini menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana yang bersifat lokal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan perhatian dan dukungan agar upaya pemulihan dan adaptasi masyarakat seperti ini bisa diperluas dan ditingkatkan, termasuk pelatihan pembuatan perahu dan penyediaan bahan baku.

Ke depan, penting juga untuk mengintegrasikan kearifan lokal seperti ini ke dalam rencana pengelolaan risiko bencana yang lebih luas. Masyarakat yang mampu mandiri dan adaptif akan mempercepat proses pemulihan pasca bencana serta mengurangi kerentanan di masa depan.

Terus ikuti perkembangan pemulihan pasca banjir di Aceh Tamiang untuk melihat bagaimana masyarakat dan pemerintah bekerja sama membangun masa depan yang lebih tangguh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad