Penyintas Banjir Aceh Tamiang Sulap Kayu Bekas Jadi Perahu Fungsional
Warga penyintas bencana di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, memanfaatkan kayu bekas banjir untuk membangun perahu yang mendukung aktivitas sehari-hari di sungai. Inisiatif ini muncul sebagai bentuk adaptasi sekaligus pemanfaatan sumber daya yang tersedia pasca-banjir bandang yang melanda daerah tersebut pada November 2025.
Kayu Gelam Bekas Banjir Jadi Material Utama Pembuatan Perahu
Kayu yang digunakan untuk membuat perahu berasal dari kayu gelam, yang dikenal warga setempat dengan sebutan kayu suling air. Kayu tersebut memiliki panjang sekitar 10 meter dan diameter lebih dari satu meter, yang tersangkut di depan rumah Muktar Sulaiman saat banjir melanda.
Muktar Sulaiman, salah satu warga Desa Sekumur, mengatakan, "Kayu besar ini kebetulan tersangkut di depan rumah waktu banjir, jadi saya gunakan untuk membuat perahu."
Pembuatan perahu dari kayu bekas banjir bukan hal baru bagi Muktar. Ia telah memiliki pengalaman membuat perahu sejak muda, meneruskan tradisi keluarganya yang diwariskan oleh almarhum ayahnya.
Peran Perahu dalam Mendukung Kehidupan dan Evakuasi
Sebelum bencana banjir November 2025, Muktar telah memiliki empat perahu tak bermotor yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk membantu evakuasi warga saat banjir. Dua perahu disimpan di rumah, sementara dua lainnya diparkir di tepi sungai untuk digunakan oleh warga setempat.
"Perahu-perahu ini juga digunakan untuk mengevakuasi warga saat banjir," ujar Muktar.
Proses pembuatan satu perahu memakan waktu sekitar 20 hari dengan harga jual yang direncanakan sebesar Rp4 juta per unit. Namun, jika perahu tidak terjual, Muktar akan menyimpannya di tepi sungai agar dapat digunakan siapa saja untuk berbagai aktivitas seperti mencari ikan atau membantu orang yang membutuhkan.
Aktivitas Berkebun Terhambat, Fokus pada Pembuatan Perahu
Muktar menjelaskan bahwa pembuatan perahu bukanlah mata pencaharian utama dirinya. Sebelumnya, ia lebih mengandalkan berkebun dengan tanaman durian, duku, dan sawit. Namun, lahan garapan tersebut mengalami kerusakan akibat banjir sehingga perlu dibersihkan dan disiapkan kembali.
"Setelah Lebaran baru bisa bersih-bersih lahan. Untuk saat ini, saya mau menyelesaikan perahu dulu," ungkap Muktar.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, inovasi pemanfaatan kayu bekas banjir untuk membuat perahu oleh warga Aceh Tamiang ini merupakan contoh nyata dari ketangguhan dan kreativitas masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Di tengah keterbatasan sumber daya dan kerusakan infrastruktur, warga mampu mengubah potensi kerugian menjadi solusi praktis yang bermanfaat untuk mobilitas dan keselamatan.
Langkah ini juga memiliki potensi untuk menjadi model pemulihan ekonomi lokal pasca-bencana. Dengan harga jual yang terjangkau dan peranan sosial yang penting, pembuatan perahu dari material bekas ini dapat mendukung aktivitas warga sekaligus memperkuat solidaritas komunitas. Namun, perhatian pemerintah dan lembaga terkait juga diperlukan untuk mendukung perbaikan lahan pertanian yang masih rusak agar mata pencaharian utama warga dapat pulih.
Ke depan, warga dan pemerintah hendaknya terus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal untuk membangun ketahanan bencana yang lebih baik, sambil mempersiapkan infrastruktur dan dukungan sosial yang memadai. Inisiatif seperti yang dilakukan Muktar tidak hanya membantu saat ini, tapi juga menjadi inspirasi untuk menghadapi tantangan bencana di masa mendatang.
Untuk update berita terbaru dan informasi seputar pemulihan pasca bencana di Aceh dan wilayah lain, terus ikuti kanal berita terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0