Warga Garoga Manfaatkan Kayu Sisa Banjir untuk Bangun Huntara Mandiri
Warga Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, memanfaatkan kayu gelondongan sisa banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu untuk membangun hunian tetap sementara (huntara) secara mandiri. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi sampah kayu yang berserakan pasca-bencana, tapi juga menjadi solusi hunian sekaligus sumber penghasilan.
Pemanfaatan Kayu Sisa Banjir untuk Huntara Mandiri
Indra Batubara, warga Desa Garoga, menjelaskan bahwa kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus banjir dimanfaatkan sebagai pondasi dan bahan utama bangunan huntara.
“Kita bangun Huntara ini memanfaatkan kayu gelondongan sisa-sia banjir waktu lalu. Karena memang ini kan bisa dimanfaatkan juga kan sebagai pondasi rumah ini,”ujarnya kepada ANTARA.
Huntara yang dibangun memiliki luas sekitar 35 meter persegi dengan satu ruang tamu dan kamar tidur. Pembangunan dimulai pada 10 Maret dan direncanakan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447. Menariknya, halaman depan huntara akan digunakan sebagai warung kopi guna membantu perekonomian keluarga pasca-banjir.
Dukungan Ekonomi dari Huntara
Indra mengungkapkan bahwa untuk membangun satu unit huntara, dibutuhkan sekitar 14 kayu gelondongan yang dipotong dan disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi. Meskipun dia sudah menerima huntara bantuan pemerintah, Indra memilih membangun versi mandirinya demi kenyamanan dan kemandirian.
Sementara itu, warga lain yang menempati huntara di Tapanuli Selatan merasa nyaman dengan fasilitas yang ada. Derma Siregar, salah satu penghuni, memanfaatkan huntara untuk berjualan kecil-kecilan seperti voucher pulsa, makanan ringan, dan minuman kopi serta teh.
“Kalau untuk tinggal sih, kami merasa nyaman ya. karena kan fasilitas udah ada semua ya, kamar mandi dan ruang terbukanya juga sudah ada,”katanya.
Tidak jauh dari Derma, Lina Hutabarat baru memulai usaha jualan sayur-mayur di huntara tersebut. Meski baru seminggu tinggal dan baru mulai berjualan, Lina mengaku bersyukur dengan hunian sementara yang disediakan pemerintah. Ia menilai huntara ini sebagai tempat berteduh yang layak sambil memperbaiki rumah mereka yang terdampak bencana.
Data dan Kondisi Huntara di Tapanuli Selatan
Saat ini sebanyak 245 keluarga telah menempati huntara di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum terus mempercepat pembangunan fasilitas penunjang seperti sumur air bersih di lokasi huntara guna meningkatkan kualitas hidup penyintas bencana.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, inisiatif warga Desa Garoga memanfaatkan kayu sisa banjir untuk membangun huntara mandiri adalah contoh nyata ketangguhan dan kreativitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi limbah kayu yang berpotensi menjadi masalah lingkungan, tetapi juga memberikan solusi hunian yang cepat dan berbiaya rendah.
Keputusan membangun huntara sendiri, meski sudah mendapat bantuan pemerintah, menunjukkan keinginan kuat warga untuk mandiri dan mengatur kondisi hidup mereka sesuai kebutuhan. Selain itu, pemanfaatan lahan huntara sebagai tempat usaha kecil, seperti warung kopi dan jualan sayur, menjadi strategi penting dalam mengembalikan ekonomi keluarga yang terdampak banjir bandang.
Ke depan, perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk mendukung program pembangunan huntara yang ramah lingkungan dan pemberdayaan ekonomi. Pengelolaan limbah pasca-bencana serta dukungan fasilitas pendukung akan sangat menentukan keberhasilan pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Dengan adanya inisiatif seperti ini, kita berharap ke depan semakin banyak komunitas terdampak bencana yang mampu bangkit secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal dan mempercepat proses rehabilitasi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0