3 Video Netanyahu Viral, Netizen Tetap Anggap Hoaks Pakai AI
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah beredar luas tiga video dirinya di media sosial yang menimbulkan kontroversi dan keraguan di kalangan netizen. Video-video tersebut dianggap hoaks yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), sehingga memicu spekulasi tentang kondisi sebenarnya dari sang pemimpin.
Video Netanyahu dan Keraguan Netizen
Salah satu video yang diunggah pada 13 Maret dengan latar belakang biru menampilkan Netanyahu sedang melakukan konferensi. Namun, sorotan netizen langsung tertuju pada tangan sang PM yang terlihat memiliki enam jari. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa video tersebut bukan rekaman asli melainkan hasil manipulasi AI atau deepfake.
"Video ini dihasilkan oleh AI. Pada detik ke 0:34, Anda dapat dengan jelas melihat Netanyahu memiliki 6 jari. Apa perlunya merilis video AI, apalagi melalui akun resmi?" tulis salah satu netizen.
Keraguan ini diperparah dengan rumor yang beredar bahwa Netanyahu sudah meninggal dunia, sehingga video-video tersebut diduga sebagai upaya menutupi kebenaran.
Upaya Netanyahu Tepis Rumor dengan Video Santai
Menanggapi spekulasi tersebut, Netanyahu mengunggah video berdurasi satu menit yang memperlihatkan dirinya santai membeli kopi di sebuah kedai. Dalam video itu, ia mengangkat kedua tangan untuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki sepuluh jari, sambil berkata, "Saya ingin sekali minum kopi" dalam bahasa Ibrani.
Namun, netizen kembali skeptis terhadap video ini. Mereka menyoroti keanehan pada kopi yang diseruput Netanyahu yang tidak berkurang sedikit pun, serta gambar latte art yang tetap sama setelah diseruput. Selain itu, keberadaan pelanggan yang memakai masker di belakang konter juga dianggap tidak alami.
"Serius bertanya soal validitas dari video yang jelas-jelas AI ini. Kantong ajaib. Kopi di gelas menentang gravitasi. Pelanggan dengan masker di belakang konter. Usaha yang bagus NOTenyahu," komentar salah satu netizen.
Video Ketiga dan Kejanggalan Detil
Video ketiga menampilkan Netanyahu sedang bercengkerama dengan penjaga keamanan dan beberapa warga di luar ruangan. Namun, kejanggalan kembali muncul ketika para netizen memperhatikan bentuk telinga yang tidak proporsional dan cincin yang tampak muncul dan hilang secara tiba-tiba.
"Cincinnya hilang di detik 0:26," tulis seorang warganet.
"Ada apa dengan little glitch ini juga?" tulis warganet lain, merujuk pada momen Netanyahu menyapa warga yang membawa anjing.
Respons Media dan Pemerintah Israel
Media internasional besar seperti Reuters, CNN, AFP, dan Asharq Al-Awsat, serta media Iran, hingga kini belum dapat memverifikasi keaslian video-video tersebut. Pemerintah Israel sendiri telah membantah rumor kematian Netanyahu beberapa kali melalui media, namun rumor tersebut tetap menyebar di tengah ketegangan perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 ini telah meluas ke beberapa negara Arab dan menewaskan ribuan orang. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menyatakan akan memburu Netanyahu seumur hidupnya sebagai pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan di Teheran.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, beredarnya video-video yang diduga deepfake Netanyahu ini merupakan bagian dari perang informasi yang sengit di tengah konflik panas Timur Tengah. Penggunaan teknologi AI untuk memanipulasi citra pemimpin dunia bukan hanya menimbulkan kebingungan publik, tetapi juga dapat menjadi senjata psikologis yang efektif dalam perang modern.
Keraguan netizen terhadap video-video tersebut memperlihatkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan potensi penyebaran misinformasi melalui teknologi canggih. Namun, hal ini juga memperbesar risiko ketidakpercayaan publik terhadap berita resmi dan dapat memperparah ketegangan politik.
Ke depan, penting bagi media dan pemerintah untuk meningkatkan transparansi dan verifikasi informasi secara cepat dan akurat agar publik tidak terjebak dalam spekulasi yang merugikan. Situasi ini juga menjadi peringatan bagi dunia bahwa teknologi AI harus dikendalikan dan digunakan secara bertanggung jawab untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat memicu gejolak sosial dan politik.
Dengan konflik yang masih berlanjut dan ketegangan yang tinggi, publik di seluruh dunia disarankan untuk selalu waspada terhadap konten yang beredar dan menunggu klarifikasi resmi sebelum menarik kesimpulan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0