IHSG dan Dampak Perang Iran: Seberapa Buruk Pengaruhnya pada Pasar Saham Indonesia?

Mar 2, 2026 - 04:04
 0  3
IHSG dan Dampak Perang Iran: Seberapa Buruk Pengaruhnya pada Pasar Saham Indonesia?

Bursa saham Indonesia atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi tekanan berat pada hari ini menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Konflik geopolitik terbaru ini kembali mengingatkan pelaku pasar tentang risiko volatilitas yang kerap menghantui pasar modal Indonesia ketika ketegangan internasional meningkat.

Ad
Ad

Gejolak Geopolitik dan Dampaknya pada IHSG

Sejarah mencatat, pasar saham Indonesia bukan kali ini saja menghadapi tantangan akibat perang atau konflik dunia. Sejak perang Rusia-Ukraina yang meletus pada Februari 2022, pasar mengalami fluktuasi tajam, namun pada akhirnya kembali pulih dan mencetak rekor harga tertinggi baru.

Berikut beberapa momen penting yang menggambarkan bagaimana IHSG bereaksi terhadap konflik geopolitik dalam lima tahun terakhir:

  • Februari 2022: Perang Rusia-Ukraina memicu penurunan IHSG hingga 1,48% dalam sehari, namun pasar segera rebound dan melonjak ke level tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) di kisaran 7.700.
  • Oktober 2023: Serangan Hamas ke Israel menyebabkan koreksi IHSG 0,04% pada hari pertama, yang terus berlanjut hingga menyusut 4% sampai November 2023 sebelum kembali pulih pada akhir tahun.
  • Juni 2025: Konflik Israel-Iran membuat IHSG terkoreksi 0,53% awalnya dan hingga 5% dalam beberapa hari, namun kemudian pasar bangkit kembali dan mencetak ATH baru di atas 7.900 pada 2024.
  • Januari 2026: Ketegangan AS-Venezuela tidak terlalu berdampak negatif, bahkan IHSG menguat 1,27%, didukung sentimen positif window dressing dan potensi MSCI.

Konflik Iran-AS: Faktor Risiko Baru untuk Pasar Saham 2026

Namun, pada awal Maret 2026, eskalasi konflik antara AS dan Israel melawan Iran menimbulkan ketidakpastian baru. Operasi militer "Operation Epic Fury" yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan pejabat seniornya telah memicu serangan balasan dan kekhawatiran global terhadap gangguan jalur energi utama seperti Selat Hormuz.

Gangguan energi ini berpotensi menaikkan harga minyak dunia secara signifikan, yang dapat memicu inflasi baru di saat bank sentral dunia sedang berusaha menurunkan suku bunga. Kondisi ini diperkirakan akan menekan IHSG, terutama saham-saham bluechip dengan eksposur asing besar yang bisa mengalami aksi jual dari investor global yang mencari keamanan.

Latar Belakang Ekonomi Global dan Pengaruhnya pada IHSG

Untuk memahami konteks saat ini, penting melihat tren ekonomi dan geopolitik sejak 2022:

  1. 2022: Perang Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga komoditas dan inflasi global, mengakibatkan kenaikan suku bunga tajam oleh bank sentral.
  2. 2023: Suku bunga tinggi menyebabkan perlambatan ekonomi global, krisis perbankan regional, dan sektor properti yang tertekan.
  3. 2024: Konflik Israel-Palestina kembali memanas, ketegangan dagang AS-China berlanjut, dan tahun politik besar menambah ketidakpastian.
  4. 2025: Inflasi mulai turun, pelonggaran suku bunga dimulai, namun konflik Israel-Iran menjalar dan memperpanjang ketegangan di Timur Tengah.
  5. 2026: Stabilitas ekonomi global rapuh dengan risiko geopolitik tetap tinggi, terutama setelah operasi militer AS-Israel ke Iran.

Pasar saham dan obligasi di negara berkembang mulai menunjukkan tanda pemulihan, namun ketidakpastian geopolitik tetap menjadi ancaman utama yang dapat merusak momentum ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, konflik Iran-AS yang terus memanas merupakan sinyal bahaya bagi stabilitas pasar saham Indonesia dan ekonomi global. Walaupun IHSG pernah menunjukkan resilien yang baik terhadap konflik sebelumnya, situasi kali ini lebih kompleks dengan ancaman langsung terhadap pasokan energi global yang sangat penting bagi perekonomian dunia.

Efek domino dari lonjakan harga minyak dan inflasi yang meningkat kembali dapat membuat upaya bank sentral menurunkan suku bunga menjadi sia-sia, memperpanjang periode ekonomi "high rate, low growth" yang merugikan. Investor asing yang sebelumnya mulai masuk ke pasar Indonesia bisa kembali menarik dana untuk mengamankan modalnya, sehingga IHSG berpotensi mengalami tekanan lebih besar dibandingkan konflik sebelumnya.

Namun, pengalaman masa lalu juga menunjukkan bahwa pasar selalu mencari titik keseimbangan baru setelah gejolak. Oleh karena itu, pelaku pasar dan investor perlu mencermati perkembangan geopolitik ini dengan hati-hati, sambil mempersiapkan strategi mitigasi risiko yang matang.

Kesimpulan dan Prospek ke Depan

Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel akan terus menjadi variabel risiko utama bagi IHSG dan perekonomian Indonesia tahun 2026. Tekanan pada harga minyak, inflasi, dan suku bunga akan menjadi tantangan berat bagi stabilitas pasar modal.

Pemantauan ketat terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global sangat penting agar investor dan pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif yang tepat. Pasar saham Indonesia diharapkan mampu bertahan, namun volatilitas tinggi dan risiko penurunan jangka pendek sulit dihindari.

Selalu ikuti perkembangan terbaru agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah ketidakpastian global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad