Iran Gempur Pangkalan Militer AS, Kerugian Capai Rp13,5 Triliun di Minggu Pertama

Mar 21, 2026 - 21:00
 0  5
Iran Gempur Pangkalan Militer AS, Kerugian Capai Rp13,5 Triliun di Minggu Pertama

Gelombang serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah telah menimbulkan kerusakan besar senilai sekitar US$800 juta atau setara dengan Rp13,5 triliun hanya dalam dua minggu pertama perang, menurut analisis terbaru oleh Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan BBC.

Ad
Ad

Kerusakan Signifikan di Pangkalan Militer AS

Menurut laporan CSIS yang dikaji bersama BBC Verify, sebagian besar kerusakan terjadi pada pekan pertama setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer terhadap Iran. Serangan balasan Teheran menargetkan sistem pertahanan udara dan fasilitas komunikasi satelit milik AS di beberapa negara Timur Tengah seperti Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.

Mark Cancian, penasihat senior CSIS sekaligus salah satu penulis laporan, menyatakan,

"Kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di kawasan ini selama ini kurang diberitakan. Meski tampaknya kerusakannya cukup besar, jumlah pastinya belum dapat diketahui hingga informasi lebih lengkap tersedia."

Sasaran Utama: Sistem Radar dan Pertahanan Rudal

Salah satu komponen yang mengalami kerusakan terbesar adalah sistem radar AN/TPY-2 yang merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal THAAD di pangkalan udara AS di Yordania. Sistem radar ini bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun) dan berfungsi mencegat rudal balistik jarak jauh.

Selain radar, serangan Iran juga menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas militer lain di pangkalan-pangkalan utama, termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Citra satelit yang dianalisis BBC Verify menunjukkan bahwa beberapa pangkalan udara seperti Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi mengalami serangan berulang yang menimbulkan kerusakan di berbagai fase konflik.

Dampak Serangan dan Biaya Perang yang Meningkat

Selain kerusakan infrastruktur senilai US$800 juta, serangan ini menambah beban biaya perang secara keseluruhan yang jauh lebih besar. Pejabat Departemen Pertahanan AS melaporkan kepada Kongres bahwa dalam enam hari pertama perang, biaya sudah mencapai US$11,3 miliar (Rp191,6 triliun) dan naik menjadi US$16,5 miliar (Rp279,7 triliun) pada hari ke-12.

Selain itu, Pentagon kini mengajukan permintaan tambahan dana sebesar US$200 miliar (Rp3.391 triliun) untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebutkan bahwa angka ini "masih dapat berubah" tergantung perkembangan situasi di lapangan.

Korban dan Dampak Konflik

Konflik juga menimbulkan korban jiwa. Sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel dalam operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari, AS kehilangan 13 personel militer. Lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) memperkirakan jumlah korban tewas total telah mendekati 3.200 orang, termasuk sekitar 1.400 warga sipil.

Selain dampak langsung di lapangan, perang ini juga mengguncang perekonomian global, terutama karena ketidakpastian yang menyelimuti masa depan konflik dan potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, serangan balasan Iran yang berhasil menimbulkan kerusakan miliaran dolar pada infrastruktur militer AS menunjukkan bahwa konflik ini jauh dari cepat selesai dan menandai eskalasi serius yang berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah. Fokus Iran pada sistem radar dan pertahanan udara AS adalah strategi cerdas untuk melemahkan kemampuan pengawasan dan pertahanan musuh, yang selama ini menjadi andalan AS dalam operasi militer regional.

Kendati biaya perang yang diperkirakan sudah mencapai ratusan triliun rupiah, belum terlihat tanda bahwa AS akan mengurangi intensitas militernya. Permintaan dana tambahan sebesar US$200 miliar mengindikasikan bahwa Washington mempersiapkan diri untuk konflik berkepanjangan, yang bisa berdampak pada stabilitas geopolitik dan ekonomi global.

Ke depan, publik dan pengamat harus mencermati bagaimana respons negara-negara Teluk dan komunitas internasional atas serangan Iran ini, apakah akan terjadi perluasan konflik, dan bagaimana dampaknya terhadap pasokan energi global. Perkembangan ini sangat krusial untuk diikuti karena tidak hanya menentukan masa depan keamanan regional, tapi juga berpengaruh pada perekonomian dunia secara luas.

Dengan situasi yang terus berkembang, penting bagi masyarakat untuk tetap mengikuti berita terkini agar memahami implikasi jangka panjang dari perang ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad