Idulfitri 1447H: Momentum Ihsan Jadi Gerakan Sosial Berkemajuan Muhammadiyah

Mar 22, 2026 - 12:50
 0  3
Idulfitri 1447H: Momentum Ihsan Jadi Gerakan Sosial Berkemajuan Muhammadiyah

Yogyakarta, Muhammadiyah.or.id – Suasana takbir, tahlil, dan tahmid menggema meriah menyambut datangnya 1 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Pada momentum istimewa Idulfitri ini, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan, memberikan khotbah yang mengangkat tema pentingnya pengamalan konsep "Ihsan" sebagai gaya hidup yang berkemajuan dan berorientasi sosial.

Ad
Ad

Transformasi Ihsan dalam Bingkai Kemajuan dan Kemanusiaan

Dalam khutbah Idulfitri di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Budi Setiawan menegaskan bahwa Ihsan bukan sekadar konsep spiritual, melainkan sebuah komitmen untuk melakukan segala hal dengan maksimal, indah, dan berkualitas tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Ihsan, yang disebut lebih dari 160 kali dalam Al-Qur'an, adalah puncak dari pengamalan agama yang menuntut umat untuk tidak bekerja secara "secukupnya" atau rutinitas biasa, melainkan terus-menerus berupaya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.

"Pasca-Ramadan, umat Islam harus menjadi Muhsin—orang yang selalu berbuat Ihsan," ujar Budi di hadapan jemaah.

Kalender Hijriah Global Tunggal: Langkah Progresif Muhammadiyah

Salah satu catatan penting dalam khutbah tersebut adalah pengumuman resmi Muhammadiyah yang untuk pertama kalinya menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem kalender ini mengusung prinsip satu tanggal dan satu hari yang sama untuk seluruh dunia, menyesuaikan dengan perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi yang memungkinkan akurasi astronomi sangat tinggi.

Budi menjelaskan, "Akurasi hitungan astronomi saat ini mengacu pada getaran atom sesium yang sangat presisi", sehingga KHGT dapat memberikan kepastian dalam beribadah yang sangat dibutuhkan umat.

Menurutnya, sosialisasi dan dialog ilmiah serta syar’i perlu terus dilakukan agar KHGT bisa diterima luas sebagai standar baru dalam penanggalan Islam.

Ihsan dalam Aksi Sosial dan Penanggulangan Bencana

Budi Setiawan juga menguraikan implementasi Ihsan dalam konteks sosial dan kemanusiaan, khususnya dalam penanganan kemiskinan dan bencana. Ia mengkritik pandangan fatalistik yang menganggap bencana hanya sebagai takdir atau amarah Tuhan, dan menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan mitigasi bencana yang terukur.

"Memberikan bantuan harus sesuai kebutuhan spesifik, jangan sampai anak-anak mendapat makanan orang dewasa, atau lansia dan ibu hamil tidak mendapatkan layanan yang proporsional," tegasnya, merujuk pada kerja relawan MDMC di lapangan.

Selain itu, Ihsan juga diwujudkan melalui semangat berinfak secara konsisten dan tidak hanya bersifat santunan sesaat. Penanganan kemiskinan menurut Budi harus melibatkan akses politik dan perlindungan hukum agar solusi yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan dan bermartabat.

Peran Perempuan dan Perlindungan Kelompok Rentan

Khutbah tersebut juga mengangkat isu sosial kontemporer, khususnya pentingnya memberikan ruang luas bagi perempuan dalam dunia publik dan kepemimpinan organisasi, termasuk dalam lembaga fatwa. Budi menegaskan bahwa peran perempuan harus diperkuat demi kemajuan bersama.

Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dan perlindungan anak sebagai amanat bangsa. Penyediaan fasilitas alat bantu dan layanan yang proporsional menjadi bagian dari implementasi Ihsan dalam kehidupan sosial.

Doa Penutup dan Harapan ke Depan

Menutup khutbahnya, Budi Setiawan memimpin doa yang menyentuh hati, memohon ampunan bagi kedua orang tua, kesehatan bagi yang sakit, dan keberkahan bagi para pemimpin bangsa agar dapat memimpin dengan bijaksana dan adil.

"Semoga semangat berkemajuan dalam bingkai iman yang kuat mampu menimbulkan harapan positif dan wujud Ihsan dalam kehidupan kita sehari-hari," tutupnya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, khutbah Budi Setiawan pada Idulfitri 1447H ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah call to action yang kuat untuk mentransformasikan nilai-nilai spiritual Ihsan menjadi gerakan sosial yang nyata dan progresif. Penekanan pada Kalender Hijriah Global Tunggal menunjukkan Muhammadiyah ingin membawa umat Islam Indonesia menuju praktik ibadah yang lebih konsisten dan terintegrasi secara global, mengurangi perbedaan yang selama ini memicu kebingungan.

Lebih jauh, implementasi Ihsan dalam penanggulangan bencana dan pemberdayaan sosial menandai langkah Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang tidak hanya peduli pada aspek ritual, tetapi juga pada aspek kemanusiaan dan keadilan sosial. Sikap kritis terhadap fatalisme bencana dan dorongan pemberdayaan perempuan menunjukkan kematangan perspektif Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Muhammadiyah dan seluruh umat Islam dapat menginternalisasi nilai Ihsan ini secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai momen Idulfitri, sehingga dapat mendorong terciptanya masyarakat yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad