Iran Beri Akses Kapal Thailand dan 5 Negara Lain Lewati Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Indonesia?

Mar 26, 2026 - 18:20
 0  6
Iran Beri Akses Kapal Thailand dan 5 Negara Lain Lewati Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Indonesia?

Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah pemerintah Iran memberikan izin pelayaran bagi kapal-kapal dari Thailand dan lima negara lainnya untuk melintasi jalur laut strategis tersebut. Namun, keadaan berbeda dialami kapal-kapal Indonesia yang hingga kini masih belum mendapat izin melintas, menimbulkan pertanyaan besar mengenai kelanjutan akses pelayaran Indonesia di kawasan ini.

Ad
Ad

Akses Kapal Thailand dan Negara Sahabat di Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker minyak Thailand milik Bangchak Corporation berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Senin (23/03), setelah adanya koordinasi diplomatik yang intens antara pemerintah Thailand dan Iran. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, yang menyebutkan bahwa permintaan izin pelayaran tersebut merupakan hasil pembicaraan dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.

"Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman," ujar Sihasak, seperti dikutip Bangkok Post. "Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas."

Keberhasilan pelayaran kapal Thailand ini terjadi dua minggu setelah insiden penyerangan proyektil terhadap kapal pengangkut berbendera Thailand, Mayuree Naree, yang menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Negara-Negara yang Diberi Akses Melintasi Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Menurutnya, banyak negara yang telah berkoordinasi dengan Iran untuk memastikan keselamatan pelayaran kapal-kapal mereka. Negara-negara yang mendapatkan akses pengawalan aman oleh angkatan bersenjata Iran meliputi:

  • China
  • Rusia
  • Pakistan
  • Irak
  • India
  • Bangladesh

Araghchi menambahkan bahwa koordinasi ini akan terus berlangsung bahkan setelah situasi perang berakhir. Meski begitu, kapal dari negara-negara yang dianggap musuh, seperti Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Teluk yang terlibat dalam konflik, tidak akan diizinkan melintas.

"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," tegas Araghchi.

Penurunan Volume Pelayaran dan Perubahan Rute Kapal

Data pelayaran dari Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati Selat Hormuz sepanjang Maret 2026, dengan rata-rata lima hingga enam kapal per hari. Angka ini jauh menurun dibandingkan sebelum perang yang mencapai sekitar 138 kapal per hari, menurut Joint Maritime Information Centre.

Selain itu, kapal-kapal yang melintas kini cenderung memilih rute yang lebih dekat ke perairan teritorial Iran, terutama di utara Pulau Larak, untuk memudahkan pengawasan dan pengendalian oleh otoritas Iran.

Kondisi Kapal Indonesia di Selat Hormuz

Sementara itu, kapal-kapal Indonesia masih menghadapi kendala. Hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Pertamina, yaitu PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Teluk Arab dan belum diizinkan melintas Selat Hormuz.

Berdasarkan data dari MarineTraffic, Pertamina Pride berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak.

Menurut pernyataan resmi dari Pertamina International Shipping, Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional, sementara Gamsunoro melayani pengangkutan mitra pihak ketiga.

"Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri," ujar Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping melalui akun Instagram resmi mereka.

Kementerian Luar Negeri Indonesia saat ini masih melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran untuk memastikan kedua kapal tersebut dapat segera melintasi Selat Hormuz.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah Iran membuka akses bagi kapal-kapal dari negara-negara tertentu merupakan strategi geopolitik penting yang sekaligus menjadi sinyal diplomasi serta kontrol ketat terhadap jalur pelayaran yang sangat vital bagi pasar energi global. Dengan memberikan izin khusus kepada negara yang mereka anggap bersahabat, Iran berhasil menjaga pengaruhnya sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap pasokan minyak dunia.

Namun, ketegangan yang masih berlangsung dan pembatasan akses bagi kapal dari negara lain, termasuk Indonesia, menimbulkan tantangan tersendiri. Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari jalur ini harus lebih intensif berupaya diplomasi agar kepentingan nasional tidak terganggu, mengingat peran Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor minyak global mencapai seperlima kebutuhan dunia.

Ke depan, kita perlu mengawasi bagaimana dinamika politik dan militer di kawasan ini berkembang, serta dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi dan perdagangan internasional. Upaya koordinasi multilateral dan diplomasi yang kuat menjadi kunci agar Selat Hormuz tetap aman dan terbuka bagi semua pihak yang tidak terlibat konflik.

Untuk informasi lebih lanjut dan perkembangan terkini, kunjungi situs BBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad