Diet GAPS: Pola Makan yang Diklaim Baik untuk Kesehatan Usus dan Otak

Mar 26, 2026 - 18:20
 0  5
Diet GAPS: Pola Makan yang Diklaim Baik untuk Kesehatan Usus dan Otak

Diet GAPS adalah pola makan yang diklaim memiliki manfaat untuk kesehatan usus dan otak. Diet ini menjadi sorotan karena konsepnya yang menghubungkan kondisi saluran pencernaan dengan fungsi dan gangguan otak tertentu, seperti autisme dan gangguan psikologis lainnya.

Ad
Ad

Apa Itu Diet GAPS dan Siapa yang Bisa Menjalani?

Diet GAPS merupakan singkatan dari Gut and Psychology Syndrome, sebuah diet eliminasi yang dikembangkan oleh Dr. Natasha Campbell-McBride, seorang dokter asal Inggris yang fokus pada nutrisi untuk gangguan pencernaan dan neurologis. Ia berteori bahwa kondisi usus yang "bocor" dapat menyebabkan berbagai gangguan otak dan psikologis.

"Diet GAPS adalah jenis diet eliminasi yang diciptakan pada tahun 2004 oleh Dr. Natasha Campbell-McBride. Ia berteori bahwa usus yang 'bocor' dapat menyebabkan beberapa kondisi yang memengaruhi otak, seperti gangguan spektrum autisme (ASD)," ujar Jared Meacham, PhD., RD, CSCS, dikutip dari Healthline.

Diet ini banyak dipromosikan sebagai pengobatan alami untuk berbagai kondisi neurologis dan kejiwaan, terutama pada anak-anak, seperti:

  • Gangguan defisit perhatian (ADD)
  • ADHD
  • Dispraksia dan Disleksia
  • Depresi dan Skizofrenia
  • Sindrom Tourette dan Gangguan bipolar
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Gangguan makan dan intoleransi makanan

Namun, hingga saat ini, dukungan ilmiah terhadap klaim ini masih sangat terbatas. Belum ada bukti kuat yang menghubungkan usus bocor dengan gangguan mental atau neurologis secara definitif.

Pola Makan dalam Diet GAPS

Diet GAPS terbagi menjadi dua fase utama: diet pengantar dan diet lengkap. Diet pengantar memiliki enam tahap yang bisa berlangsung hingga enam minggu, yang bertujuan untuk menyiapkan pencernaan sebelum memasuki fase diet lengkap selama 18 hingga 24 bulan.

  1. Diet Pengantar: Pada tahap awal, konsumsi makanan yang mudah dicerna seperti kaldu tulang, sup berbasis kaldu, jus makanan fermentasi, dan daging rebus. Tahap berikutnya menambahkan kuning telur mentah organik, ghee, serta makanan fermentasi yang lebih banyak.
  2. Diet GAPS Lengkap: Fokus pada kaldu tulang, daging segar (bebas hormon), lemak hewani, ikan, telur organik, makanan fermentasi, sayuran, dan makanan panggang dari tepung kacang dan buah dalam jumlah sedang.

Selain itu, suplemen seperti probiotik, minyak hati ikan kod, vitamin A, dan enzim pencernaan juga dianjurkan sesuai kebutuhan individu.

Makanan yang Harus Dihindari

Selama menjalani diet GAPS, terdapat beberapa makanan yang wajib dihindari, terutama pada fase pengantar dan lengkap, antara lain:

  • Makanan olahan dan tinggi pengawet
  • Karbohidrat olahan dan gula serta pemanis buatan
  • Minuman beralkohol, bir, dan soda
  • Bahan kimia dan pewarna buatan

Risiko dan Kekurangan Diet GAPS

Walaupun diet GAPS diklaim bermanfaat, penting untuk memahami beberapa risiko dan kekurangan yang mungkin muncul:

  • Kekurangan nutrisi: Pembatasan biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran bertepung dapat menyebabkan kurangnya asupan kalsium dan vitamin D.
  • Risiko infeksi: Konsumsi kuning telur mentah dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri seperti Salmonella.
  • Tinggi lemak jenuh: Ketergantungan pada daging dan lemak hewani berpotensi menaikkan kadar kolesterol.
  • Minimnya riset ilmiah: Sedikit penelitian yang memvalidasi klaim manfaat diet GAPS terhadap hubungan usus dan otak.
  • Masalah psikologis: Diet ketat ini bisa memicu obsesi berlebihan terhadap makanan dan memperburuk gangguan makan.
  • Interaksi obat: Perubahan pola makan bisa memengaruhi efektivitas obat yang sedang dikonsumsi.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi atau profesional kesehatan sebelum memulai diet ini agar mendapatkan panduan yang aman dan tepat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, diet GAPS menawarkan pendekatan menarik dengan fokus pada hubungan usus dan otak yang memang sedang menjadi topik hangat dalam dunia kesehatan. Namun, klaim besar bahwa diet ini dapat menyembuhkan gangguan psikologis dan neurologis harus disikapi dengan hati-hati. Kurangnya bukti ilmiah yang kuat dan risiko kekurangan nutrisi menandakan bahwa diet ini belum pantas dijadikan solusi tunggal tanpa pendampingan medis.

Selain itu, pembatasan makanan yang ketat dan konsumsi makanan mentah dapat menimbulkan efek samping serius jika dilakukan tanpa pengawasan. Masyarakat sebaiknya tidak tergiur dengan janji instan, melainkan mengutamakan pola makan seimbang dan konsultasi medis untuk kondisi kesehatan khusus.

Ke depan, penting bagi dunia medis melakukan penelitian lebih dalam mengenai hubungan usus dan otak dan potensi diet seperti GAPS. Sementara itu, pembaca disarankan terus mengikuti informasi terbaru dan panduan resmi dari ahli kesehatan.

Informasi lebih lengkap tentang diet GAPS bisa dilihat pada sumber aslinya di Haibunda dan sumber terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad