IHSG Melesat 2%: 5 Rekomendasi Saham Potensial untuk Investor 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tanda pemulihan pada perdagangan Kamis (5/3/2026), setelah sebelumnya terkoreksi signifikan sebesar 4,57% ke level 7.577,06 pada Rabu (4/3). Pada sesi pagi hari ini, IHSG menguat tajam hingga 2%, menandakan sentimen positif mulai kembali mengisi pasar saham Tanah Air.
Pergerakan Saham Signifikan dan Sentimen Pasar
Meski penurunan kemarin melanda seluruh sektor dengan sektor Basic Industry mencatat koreksi terdalam sebesar 7,42%, sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan yang menjadi penggerak IHSG. Saham SGRO melonjak 7,81%, IFSH naik fantastis 25%, dan POLU menguat 9,68%. Sebaliknya, saham-saham seperti TLKM turun 7,25%, AMMN melemah 10,62%, dan BRMS anjlok 13,27%, turut menekan indeks.
Investor asing masih tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp213,98 miliar di pasar reguler dan total Rp117,91 miliar di seluruh pasar, mencerminkan kewaspadaan terhadap ketidakpastian global dan domestik. Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru menguat dengan indeks Dow Jones naik 0,49%, S&P 500 bertambah 0,78%, dan Nasdaq menguat 1,29%, meredakan kekhawatiran atas dampak perang di Timur Tengah.
Prospek dan Rencana Strategis Emiten Unggulan
Bayan Resources (BYAN) menjadi sorotan dengan pengumuman alokasi belanja modal (capex) yang meningkat signifikan untuk 2026, yaitu sebesar US$200–300 juta atau setara Rp3,38–5,07 triliun. Anggaran ini lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai US$181,7 juta, menandakan ekspansi dan optimisme perusahaan terhadap prospek bisnis batubara. BYAN menargetkan pendapatan antara US$1,8–3,8 miliar dengan produksi batubara diproyeksikan antara 39–76 juta ton dan volume penjualan 39–78 juta ton. Perusahaan juga memperkirakan harga jual rata-rata (ASP) sebesar US$46–48 per ton dengan cash cost produksi US$36–42 per ton.
Meski ASP menurun dari US$61,3 per ton pada 2024 menjadi US$48,4 per ton pada 2025, BYAN mencatat kenaikan volume penjualan sebesar 25,97% menjadi 70,8 juta ton serta produksi naik 19,5% menjadi 68 juta ton, menunjukkan daya tahan bisnis di tengah fluktuasi harga global.
Di sektor perbankan, Bank Negara Indonesia (BBNI) menyiapkan dana maksimal Rp905,48 miliar untuk aksi buyback saham yang bertujuan mendongkrak nilai saham dan meningkatkan kepercayaan investor. Program ini masih menunggu persetujuan RUPST pada 9 Maret 2026 dan direncanakan berlangsung selama 12 bulan. Buyback tersebut bersumber dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya, dan secara proforma diperkirakan akan meningkatkan laba bersih per saham sebesar Rp3 menjadi Rp540 per lembar.
5 Rekomendasi Saham yang Bisa Dilirik Investor
- ELSA - Buy di harga 850-860 dengan target harga 900-935 dan stop loss di 800
- ANTM - Buy di harga 3930-3950 dengan target harga 4120-4220 dan stop loss di 3680
- BMRI - Buy di harga 4950-4970 dengan target harga 5075-5200 dan stop loss di 4700
- DEWA - Buy di harga 450-456 dengan target harga 476-488 dan stop loss di 432
- TINS - Buy di harga 3720-3740 dengan target harga 3990-4110 dan stop loss di 3500
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, rebound IHSG sebesar 2% pada perdagangan pagi ini menandakan momentum recovery yang penting setelah koreksi signifikan yang dialami sehari sebelumnya. Namun, kondisi pasar masih dipengaruhi oleh sentimen negatif global seperti ketegangan geopolitik dan revisi outlook negatif dari lembaga pemeringkat Fitch terhadap Indonesia. Oleh karena itu, pemilihan saham yang memiliki fundamental kuat dan rencana korporasi yang jelas menjadi sangat krusial.
Perhatian terhadap emiten seperti BYAN dan BBNI menunjukkan dua sektor yang terus berpotensi, yaitu pertambangan dan perbankan. BYAN dengan capex besar dan target produksi tinggi menunjukkan strategi ekspansi yang berani, sementara BBNI dengan rencana buyback saham menandakan kepercayaan internal terhadap nilai sahamnya. Investor disarankan untuk memantau perkembangan rencana tersebut serta data makroekonomi domestik dan global yang dapat mempengaruhi IHSG ke depan.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia masih menawarkan peluang investasi menarik dengan risiko yang tetap harus dikelola secara cermat. Update berkala dan analisis mendalam tetap diperlukan untuk mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah dinamika pasar yang cepat berubah.
Selamat berinvestasi secara bijak dan terus pantau perkembangan pasar saham melalui sumber terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0