Bros Antik Senilai Rp500.000 Ini Tiba-Tiba Terjual Rp189 Juta, Begini Ceritanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah tak terduga datang dari dunia barang antik, ketika sebuah bros perak langka yang dibeli hanya dengan harga Rp500.000 pada 30 tahun lalu kini terjual dengan harga fantastis, mencapai Rp189 juta. Flora Steel, seorang sejarawan seni asal Inggris, adalah pemilik keberuntungan ini setelah menemukan nilai sesungguhnya dari bros yang selama ini disimpannya.
Bros yang Dibeli Murah, Kini Bernilai Miliaran Rupiah
Flora Steel membeli bros tersebut pada awal 1990-an di sebuah pameran barang antik di English Midlands dengan harga sekitar 20 pound sterling atau setara Rp553.495 pada waktu itu. Bros itu terbuat dari perak, lapis lazuli, perunggu, dan karang merah muda, dan awalnya hanya dipakai sebagai perhiasan sederhana di kerah mantel favoritnya.
Setelah beberapa tahun pemakaian, bros tersebut disimpan di lemari dan tidak disentuh selama dua dekade. Namun, pada tahun lalu, secara kebetulan Steel menemukan video BBC tahun 2011 tentang bros serupa yang tampil di acara televisi Antiques Roadshow. Presenter Geoffrey Munn dalam klip tersebut menunjukkan sketsa bros yang dirancang oleh arsitek dan seniman era Victoria terkenal, William Burges.
"Saya berpikir, 'Astaga, saya punya bros itu!" kata Steel kepada The New York Times.
William Burges sendiri dikenal luas sebagai seniman yang mendesain Kastil Cardiff di Wales dan karya-karya bergaya Gotik Victoria. Bros ini awalnya dibuat untuk pernikahan dua teman Burges pada tahun 1864, dan desain aslinya tersimpan di Museum Victoria dan Albert di London.
Nilai Historis dan Estetika yang Meningkat Drastis
Bros milik Steel memiliki inisial "JCG," yang merupakan singkatan dari Pendeta John Gibson dan Caroline Bendyshe, keponakan Laksamana Lord Nelson. Penemuan ini bukan hanya soal nilai material, melainkan juga nilai sejarah yang luar biasa karena menghubungkan karya seni dengan konteks sosial dan budaya pada era Victoria.
Pada tahun 2024, bros ini berhasil dilelang di Gildings Auctioneers, Market Harborough, Inggris dan terjual seharga £9.500 atau sekitar Rp189,76 juta. Steel menjadi orang ketiga yang menjual bros William Burges melalui rumah lelang tersebut. Dua penjual sebelumnya juga baru sadar akan nilai bros mereka setelah menonton Antiques Roadshow.
- Salah satu bros Burges pernah terjual seharga £31.000 (sekitar Rp790 juta) pada 2011.
- Desain bros ini sangat langka dan dianggap sebagai "cawan suci zaman Victoria abad ke-19" oleh para ahli.
- Material batu lapis lazuli yang digunakan dalam bros ini menjadi daya tarik utama kolektor.
Manfaat Penjualan dan Rencana Flora Steel
Setelah mengetahui nilai dan sejarah bros miliknya, Flora Steel merasa sangat beruntung. Selain kegembiraan menemukan barang seni bernilai tinggi, bros tersebut memberikan harapan baru setelah perjuangannya melawan kanker payudara selama dua tahun.
Steel berencana untuk menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan bros tersebut untuk penelitian kanker payudara dan sebagian lain akan diberikan kepada putranya. Dia juga mempertimbangkan untuk menggunakan sebagian uang tersebut untuk liburan impian, termasuk perjalanan menunggang kuda di Tuscany dan kunjungan ke gedung opera San Carlo di Naples.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kisah bros ini bukan hanya soal keberuntungan individu, melainkan juga cerminan pentingnya kesadaran nilai sejarah dan seni dalam benda-benda sehari-hari. Banyak kolektor maupun masyarakat umum yang belum menyadari bahwa barang-barang antik yang tampak biasa saja bisa menyimpan nilai fantastis, baik dari segi ekonomi maupun budaya.
Fenomena penemuan nilai tersembunyi di balik barang antik ini juga menunjukkan peran penting media seperti Antiques Roadshow yang mampu mengedukasi publik tentang sejarah seni dan mempertemukan pemilik barang dengan ahli yang kompeten. Ke depan, kami memperkirakan tren peningkatan minat kolektor terhadap karya-karya seni era Victoria dan benda-benda dengan nilai historis kuat akan terus meningkat.
Untuk pembaca, ini adalah pengingat agar selalu menilai ulang koleksi pribadi dan tidak meremehkan potensi nilai barang antik yang dimiliki, terutama yang memiliki latar belakang sejarah atau artis ternama. Terus ikuti perkembangan lelang dan berita seni untuk mendapatkan wawasan dan peluang serupa di masa depan.
Kisah ini juga menegaskan bahwa apresiasi terhadap seni dan sejarah tidak hanya soal estetika, tapi bisa menjadi sumber berkah finansial dan inspirasi bagi banyak orang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0