Fakta Sepekan Perang Iran vs AS: Kurdi Bantu AS, Konflik Meluas ke Asia

Mar 6, 2026 - 07:00
 0  5
Fakta Sepekan Perang Iran vs AS: Kurdi Bantu AS, Konflik Meluas ke Asia

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel secara resmi memasuki pekan kedua pada Jumat, 6 Maret 2026. Konflik yang awalnya terpusat di Timur Tengah ini kini menunjukkan eskalasi serius dengan berbagai serangan dan respons dari berbagai negara serta kelompok militan, termasuk keterlibatan pasukan Kurdi yang membantu AS, dan perluasan dampak perang hingga ke Asia.

Ad
Ad

Korban Tewas dan Dampak Serangan AS-Israel di Iran

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel telah mencapai 1.045 jiwa. Jurnalis Al Jazeera, Mohamed Vall, mengabarkan dari Teheran bahwa di antara korban luka terdapat sekitar 200 anak dan remaja yang kini dirawat di rumah sakit, dengan total korban luka mencapai lebih dari 6.000 orang.

"Ada serangan berkelanjutan dan terus-menerus di seluruh negeri, yang tidak menyisakan wilayah, kota, atau daerah mana pun," ujar Mohamed Vall.

Serangan yang terus menerus ini mengindikasikan eskalasi sengit yang melumpuhkan banyak wilayah Iran, menimbulkan trauma dan kerusakan besar pada infrastruktur vital.

Pasukan Kurdi Mulai Bantu AS Melawan Iran

Salah satu perkembangan signifikan adalah keterlibatan ratusan milisi Kurdi yang mulai bergerak membantu pasukan AS menyerang wilayah barat Iran. Informasi ini dikonfirmasi oleh sumber-sumber dari Israel dan AS kepada The Jerusalem Post, menyatakan bahwa pasukan Kurdi telah memulai operasi darat.

Menurut sumber Kurdi, persiapan milisi ini telah dilakukan beberapa hari sebelumnya, dibantu oleh Badan Intelijen Pusat AS (CIA). Namun, Wakil Kepala Staf Perdana Menteri Kurdistan, Aziz Ahmad, membantah laporan tersebut.

Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menghubungi Kepala Persatuan Patriotik Kurdistan di Irak, Bafel Talabani, untuk membahas "pergerakan teroris" di sepanjang perbatasan kedua negara.

Ketegangan Regional dan Klaim Drone di Siprus

Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa drone yang menyerang Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris di Akrotiri, Pulau Siprus, bukan berasal dari Iran. Ini menepis klaim awal yang menyebutkan drone tersebut milik Teheran.

"Kementerian Pertahanan dapat memastikan bahwa drone yang menyerupai jenis Shahed yang menargetkan AU Inggris di Akrotiri, Siprus, pada tengah malam 2 Maret tidak diluncurkan dari Iran," ujar pernyataan resmi Kemhan Inggris.

Serangan ini terjadi di tengah operasi jet tempur Inggris yang terus melindungi kepentingan negaranya dan sekutu di Timur Tengah.

Jaminan Iran terhadap Kapal China dan Rusia di Selat Hormuz

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan menyerang kapal-kapal China dan Rusia yang melintas di Selat Hormuz. Pihak IRGC menegaskan hanya akan menarget kapal-kapal komersial milik AS, Israel, dan negara-negara Eropa pendukung mereka.

"Jika mereka teramati, mereka pasti akan terkena serangan," tegas IRGC sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Ini menunjukkan fokus Iran pada musuh utama dalam konflik, sekaligus berusaha menghindari konfrontasi dengan kekuatan besar lain yang beroperasi di kawasan strategis Selat Hormuz.

Spanyol Kirim Fregat ke Siprus Setelah Ancaman Trump

Menanggapi tekanan dari Presiden AS Donald Trump, Spanyol memutuskan mengirimkan kapal fregat Christopher Columbus ke Siprus. Kapal ini akan bergabung dengan kapal induk Prancis Charles de Gaulle dan kapal-kapal Yunani untuk berjaga setelah insiden serangan drone pada 1 Maret di pulau tersebut.

Kementerian Pertahanan Spanyol menyatakan fregat tersebut akan memberikan perlindungan dan pertahanan udara serta mendukung evakuasi warga sipil jika diperlukan. Langkah ini diambil usai Trump mengancam memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol jika menolak penggunaan pangkalan militernya untuk operasi serangan terhadap Iran.

Biaya Besar Perang bagi Israel

Laporan The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Israel menghabiskan hingga US$200 juta (sekitar Rp3,38 triliun) setiap hari dalam konflik melawan Iran. Angka ini berasal dari pengalaman perang pada Juni 2025 lalu, khususnya biaya berat untuk mencegat rudal dan serangan drone Iran yang terus menerus.

Biaya tinggi tersebut menunjukkan betapa mahal dan melelahkannya pertahanan Israel terhadap ancaman rudal dan drone yang semakin canggih dari Iran.

Perang Meluas ke Asia: Serangan Drone di Azerbaijan

Konflik yang awalnya terfokus di Timur Tengah kini mulai merembet ke wilayah Asia. Pada 5 Maret, drone Iran dilaporkan menyerang Bandara Internasional Nakhchivan di Azerbaijan, sebuah republik pecahan Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan utara Iran dan selatan Rusia.

Menurut sumber pemerintah Azerbaijan yang diwawancarai Euronews, drone menghantam terminal penumpang bandara, menyebabkan kerusakan signifikan dan setidaknya dua orang terluka. Video yang beredar memperlihatkan asap mengepul dari bangunan bandara setelah serangan drone yang diduga jenis Shahed tersebut.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan telah mengirimkan protes resmi ke Kedutaan Besar Iran di negara itu sebagai tanggapan atas insiden ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, eskalasi konflik Iran vs AS dan Israel selama sepekan terakhir bukan sekadar pertarungan militer biasa, melainkan sebuah peperangan proxy yang melibatkan kelompok-kelompok militan dan negara-negara sekutu dalam medan yang semakin luas. Keterlibatan pasukan Kurdi yang dibekali oleh AS menandai perubahan signifikan pada taktik peperangan, di mana konfrontasi tidak hanya dilakukan oleh negara-negara besar, tetapi juga oleh aktor non-negara yang memiliki agenda regional tersendiri.

Selain itu, perluasan perang hingga ke wilayah Asia, khususnya serangan drone di Azerbaijan, menandakan bahwa konflik ini bisa menyebar lebih jauh dan mengancam stabilitas kawasan yang selama ini relatif aman. Ini menjadi peringatan bagi negara-negara tetangga untuk meningkatkan kewaspadaan dan diplomasi guna menghindari keterlibatan langsung yang lebih luas.

Yang juga layak dicermati adalah dampak ekonomi yang sangat besar dari perang ini, terutama bagi Israel yang mengeluarkan biaya miliaran rupiah per hari untuk mempertahankan diri. Jika konflik berlanjut, tekanan ekonomi dan sosial bisa meningkat, memengaruhi stabilitas politik di kawasan.

Oleh karena itu, publik dan pengamat internasional perlu terus memantau dinamika yang berkembang, khususnya kemungkinan negosiasi diplomatik atau intervensi internasional untuk meredam ketegangan yang kian membahayakan ini.

Perang Iran vs AS dan Israel masih jauh dari kata usai; langkah selanjutnya dari semua pihak akan menentukan apakah konflik ini akan mereda atau justru meluas ke skala yang lebih berbahaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad