IHSG Turun 2% ke Level 7.500-an, Dipicu Perang AS-Israel dan Lonjakan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam pada sesi perdagangan Jumat pagi, 6 Maret 2026, dengan penurunan sebesar 2,02% yang membuatnya kembali ke level 7.500-an. Tekanan ini dipicu oleh eskalasi konflik perang antara AS dan Israel serta lonjakan harga minyak dunia, yang berdampak negatif pada sentimen pasar global, termasuk Bursa Efek Indonesia.
IHSG Anjlok 156 Poin di Awal Perdagangan
Pada pukul 09.45 WIB, IHSG tercatat merosot sebanyak 156,10 poin atau -2,02%, menyentuh angka 7.554,44. Dari total 958 saham yang diperdagangkan, hanya 126 saham yang menguat, sementara 533 saham melemah, dan 299 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 4,46 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 8,68 miliar saham dalam 580.200 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut tergerus menjadi Rp 13.452 triliun.
Di antara saham-saham yang menjadi pemberat utama IHSG adalah saham-saham emiten besar seperti Sinar Mas, Bakrie, dan Prajogo. Selain itu, saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Renewables Energy (BREN), dan Bumi Resources Minerals (BRMS) termasuk dalam daftar teratas saham yang mengalami penurunan tajam pagi ini.
Sentimen Negatif: Perang, Harga Minyak, dan Ekonomi China
Tekanan pasar keuangan Indonesia hari ini tidak lepas dari sentimen negatif global yang cukup berat. Konflik yang semakin memanas antara AS, Israel, dan Iran menjadi penyebab utama ketidakpastian di pasar. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia yang mencapai level tertinggi sejak Juli 2024 juga memperparah kondisi pasar.
Berdasarkan data dari Refinitiv, harga minyak Brent ditutup di posisi sekitar US$84 per barel, naik hampir 4%, sementara minyak WTI melonjak 8,5% ke posisi US$81,01 per barel. Kenaikan ini merupakan harga tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir. Gangguan pasokan energi global diperparah dengan situasi di Selat Hormuz yang sebagian besar lalu lintas kapal tankernya terhenti, serta klaim Iran yang menyatakan telah menembak jatuh kapal tanker minyak dengan rudal.
Selain itu, kebijakan pemerintah China yang memerintahkan kilang-kilang besar untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin menambah tekanan pasar. Proyeksi ekonomi China yang melambat juga menjadi faktor yang memperberat sentimen investor global dan domestik.
Pasar Asia Ikut Melemah Ikuti Bursa Global
Penurunan IHSG pagi ini juga mengikuti tren negatif di bursa saham Asia lainnya. Bursa Korea Selatan (Kospi) turun 0,87% setelah sebelumnya mencatat kenaikan terbesar sejak 2008. Bursa Jepang juga melemah dengan indeks Nikkei 225 turun 0,24% dan Topix turun lebih tajam hingga 0,42%. Bursa Australia (S&P/ASX 200) anjlok 1,09%, terutama terseret oleh pelemahan saham material dasar.
Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong juga melemah ke level 25.037, lebih rendah dari penutupan terakhir di 25.321,34, mencerminkan tekanan serupa di pasar keuangan Hong Kong akibat ketidakpastian geopolitik dan kondisi pasar global.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penurunan tajam IHSG ke level 7.500-an ini bukan sekadar koreksi pasar biasa, melainkan refleksi langsung dari gejolak geopolitik yang kini berimbas serius pada pasar keuangan global dan domestik. Eskalasi perang antara AS dan Israel serta ketegangan dengan Iran tidak hanya memicu kekhawatiran pasokan energi, tapi juga menimbulkan ketidakpastian yang berpotensi memicu volatilitas lebih tinggi di pasar saham, termasuk Indonesia.
Lonjakan harga minyak yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun ini juga memperburuk prospek inflasi dan biaya produksi di berbagai sektor industri. Hal ini dapat mempengaruhi laba perusahaan dan menjadi tekanan tambahan bagi investor untuk melepas aset berisiko seperti saham. Ditambah lagi, kebijakan China yang membatasi ekspor energi menandakan adanya perlambatan permintaan global yang lebih luas, yang berpotensi menekan pemulihan ekonomi Indonesia.
Ke depan, investor dan pelaku pasar perlu mencermati perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan energi global secara lebih detail, karena faktor-faktor tersebut akan menentukan arah pergerakan pasar saham dalam jangka menengah. IHSG kemungkinan akan menghadapi volatilitas tinggi sampai ada kejelasan lebih lanjut dari situasi geopolitik dan penyesuaian kebijakan ekonomi global.
Untuk itu, tetaplah mengikuti perkembangan terbaru dan mengambil keputusan investasi dengan mempertimbangkan risiko yang semakin kompleks di tengah ketidakpastian global saat ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0