Waspada Takjil Berbahaya: Kenali Ciri Makanan Mengandung Formalin dan Boraks
Menjelang waktu berbuka puasa, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap takjil dan jajanan yang dijual di pasaran. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali mengingatkan agar konsumen hati-hati karena masih ditemukan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil. Penggunaan zat-zat ini sangat membahayakan kesehatan jangka panjang.
Ciri-ciri Makanan Mengandung Formalin yang Perlu Diketahui
Formalin adalah zat kimia yang sebenarnya digunakan untuk pengawet kayu, tekstil, dan bahan biologis, bukan untuk makanan. Namun, secara ilegal formalin kerap disalahgunakan untuk membuat makanan tahan lama dan terlihat segar. BPOM menjelaskan beberapa ciri makanan yang mengandung formalin:
- Tekstur makanan tidak mudah putus atau hancur saat digigit atau dipotong.
- Bau khas formalin yang menyengat dan menyolok.
- Makanan dapat bertahan lebih dari satu hari dalam suhu ruang tanpa membusuk.
Contoh makanan yang sering ditemukan mengandung formalin adalah mi basah, tahu, dan ikan. Konsumsi formalin secara terus-menerus bisa memicu gangguan kesehatan serius, termasuk kerusakan organ dan risiko kanker.
Kenali Tanda Makanan yang Mengandung Boraks
Selain formalin, boraks juga sering disalahgunakan dalam makanan. Boraks, yang dikenal juga sebagai bleng atau pijer, biasanya dipakai untuk membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan tahan lama. Berikut ciri-ciri makanan yang mengandung boraks menurut BPOM:
- Tekstur sangat kenyal, berbeda dari tekstur alami makanan.
- Tidak mudah hancur dan tidak lengket saat digigit.
- Pada beberapa produk seperti kerupuk gendar, boraks dapat menimbulkan rasa getir yang tidak biasa.
Jenis pangan yang kerap tercemar boraks antara lain bakso, mi basah, siomay, lontong, dan kerupuk gendar. Penggunaan boraks bisa menyebabkan gangguan pencernaan, kerusakan ginjal, hingga efek toksik lain jika dikonsumsi jangka panjang.
Waspadai Pewarna Tekstil dalam Makanan
BPOM juga memperingatkan penggunaan pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan methanyl yellow yang disalahgunakan dalam makanan. Pewarna ini sebenarnya untuk industri kertas dan tekstil, bukan untuk pangan. Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna tekstil meliputi:
- Warna merah muda atau pink yang sangat mencolok dan tampak berpendar (Rhodamin B).
- Warna kuning sangat mencolok dan tidak homogen (methanyl yellow).
- Adanya titik-titik warna yang tidak merata pada makanan.
Makanan yang sering tercemar seperti ini adalah kerupuk, kue lapis, tahu kuning, dan minuman warna-warni. Paparan pewarna tekstil berbahaya dapat meningkatkan risiko kanker dan gangguan kesehatan lain.
Tips Memilih Takjil dan Jajanan yang Aman
Untuk menghindari risiko kesehatan akibat konsumsi makanan berbahaya, BPOM mengimbau masyarakat agar:
- Memilih makanan dari penjual terpercaya yang jelas keamanannya.
- Menghindari makanan dengan tekstur terlalu kenyal atau terlalu keras secara tidak wajar.
- Mencium aroma makanan untuk mendeteksi bau kimia mencurigakan seperti formalin.
- Memperhatikan warna makanan, hindari warna mencolok yang tidak alami.
- Mengonsumsi makanan segar dan olahan sendiri jika memungkinkan.
Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, konsumen dapat menjadi lebih cerdas dan menjaga kesehatan jangka panjang keluarga.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, peringatan BPOM ini sangat penting mengingat masih banyaknya pelaku usaha yang nekat memakai bahan kimia berbahaya demi keuntungan sesaat. Fenomena penggunaan formalin, boraks, dan pewarna tekstil dalam makanan mengindikasikan lemahnya pengawasan dan kesadaran konsumen akan bahaya kesehatan yang mengancam.
Lebih jauh, hal ini juga mencerminkan tantangan besar dalam menjaga keamanan pangan di Indonesia, terutama di pasar tradisional dan bazar takjil yang menjadi pusat keramaian saat Ramadan. Pemerintah dan BPOM perlu memperkuat pengawasan rutin dan edukasi publik agar praktik berbahaya ini bisa diminimalisir.
Kedepannya, masyarakat disarankan untuk selalu kritis dalam memilih makanan, tidak mudah tergiur dengan tampilan menarik yang berlebihan, serta aktif melaporkan jika menemukan indikasi makanan berbahaya. Pengetahuan dan kesadaran konsumen adalah kunci utama dalam memutus rantai peredaran pangan berbahaya.
Dengan demikian, menjaga kesehatan keluarga khususnya saat bulan suci Ramadan dapat terlaksana dengan lebih optimal. Tetap ikuti informasi terbaru dan waspada terhadap pangan demi keamanan bersama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0