Korban Banjir Bandang Nagan Raya Jalani Ramadhan Tanpa Listrik hingga Bulan Keempat
Masyarakat korban banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh masih menghadapi tantangan besar dengan tidak adanya akses listrik hingga memasuki bulan keempat pascabanjir yang terjadi akhir November 2025 lalu. Kondisi ini membuat mereka harus menjalankan ibadah puasa Ramadhan dalam keadaan gelap gulita dan mengandalkan penerangan seadanya.
"Tidak hanya pascabanjir, memasuki hari ke-17 bulan suci Ramadhan, kami bersama masyarakat makan sahur dan berbuka puasa dalam kondisi gelap. Hanya penerangan seadanya yang ada," ungkap Samsuardi, salah satu warga Beutong Ateuh Banggalang, kepada ANTARA pada Jumat malam.
Kondisi Pengungsi Tanpa Listrik di Ramadhan
Ratusan warga yang terdampak banjir dan kini mengungsi di tenda darurat terpaksa mengandalkan lilin dan lampu tradisional seperti lampu panyet yang menyala dengan api manual untuk penerangan saat sahur dan berbuka puasa. Kondisi ini sangat menyulitkan dan mengurangi kekhusyukan dalam menjalankan ibadah.
Samsuardi menegaskan pentingnya penerangan listrik selama Ramadhan, terutama saat berbuka dan sahur. Ia menambahkan, "Coba dibayangkan, gimana nasib masyarakat berbuka dan makan sahur dalam gelap gulita di tenda pengungsian, apalagi masyarakat yang tinggal jaraknya jauh dengan tetangga."
Sudah Empat Bulan Berjuang Tanpa Listrik
Hingga saat ini, hampir empat bulan setelah bencana banjir bandang melanda wilayah Beutong Ateuh, banyak warga masih tinggal di tenda pengungsian tanpa akses listrik. Kondisi ini menjadi beban tambahan di tengah pemulihan pascabencana.
Warga berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah listrik ini, agar masyarakat bisa kembali menikmati fasilitas dasar terutama di bulan suci Ramadhan.
Harapan dan Tindakan Pemerintah
- Pemerintah diharapkan mempercepat pemulihan listrik di kawasan terdampak.
- Pengadaan fasilitas penerangan sementara di tenda pengungsian menjadi prioritas selama pemulihan berlangsung.
- Dukungan tambahan dari pusat dan daerah perlu agar korban banjir tidak terus menderita dalam kegelapan.
Berbagai program pemulihan dan bantuan bencana telah direncanakan oleh pemerintah, termasuk target untuk mengurangi jumlah pengungsi yang masih tinggal di tenda darurat menjelang Lebaran mendatang, sebagaimana dilaporkan Satgas PRR dan Bupati Nagan Raya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kondisi masyarakat korban banjir bandang di Nagan Raya yang masih bertahan tanpa listrik hingga bulan keempat pascabanjir menunjukkan bahwa proses pemulihan infrastruktur dasar berjalan lambat dan belum menyentuh kebutuhan mendesak warga. Keterbatasan akses listrik tidak hanya soal kenyamanan, tetapi berdampak langsung pada kualitas hidup dan kelancaran ibadah selama Ramadhan, yang seharusnya menjadi momen penuh keberkahan.
Lebih dari itu, situasi ini mengindikasikan perlunya koordinasi lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana, khususnya mempercepat rehabilitasi listrik dan fasilitas penunjang lainnya. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini berpotensi memperburuk trauma korban, menghambat pemulihan sosial-ekonomi, dan menimbulkan ketidakpuasan publik yang dapat berdampak pada kepercayaan terhadap pemerintah.
Kedepannya, kita perlu mengawasi progres pemulihan listrik dan infrastruktur secara transparan serta memastikan bantuan sampai tepat sasaran. Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas dan kemanusiaan, bukan justru menambah penderitaan akibat minimnya akses dasar seperti listrik.
Warga dan pemangku kepentingan diharapkan terus mengadvokasi percepatan pemulihan ini agar korban banjir bandang di Nagan Raya dapat segera kembali menjalani kehidupan normal dengan fasilitas yang layak.
Terus ikuti perkembangan berita ini untuk informasi terbaru terkait pemulihan pascabanjir di Nagan Raya dan bantuan yang diberikan pemerintah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0