Sampah di TPS Kalibaru Menumpuk, Pramono Ungkap Dampak Longsor Bantar Gebang
Jakarta – Penumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kalibaru yang belum terangkut selama hampir satu bulan menjadi perhatian serius Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini adalah dampak berkelanjutan dari longsor yang terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
"Memang dampak dari longsor Bantar Gebang sampai hari ini masih terasa, tetapi sudah relatif tertangani karena di beberapa titik sudah bisa kita atasi," kata Pramono saat memberikan keterangan di Balai Kota Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, proses pengangkutan sampah di Jakarta belum sepenuhnya kembali normal pasca kejadian longsor tersebut. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya keras agar penumpukan sampah tidak meluas dan dapat segera diatasi.
Longsor Bantar Gebang dan Dampaknya pada Pengangkutan Sampah
TPST Bantar Gebang merupakan pusat pengelolaan sampah terbesar di Jakarta yang berperan krusial dalam sistem pengelolaan limbah kota. Longsor yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan gangguan signifikan terhadap distribusi sampah, termasuk pengangkutan dari berbagai TPS di Jakarta, salah satunya TPS Kalibaru.
Gangguan ini berimbas pada penumpukan sampah di beberapa titik strategis di Jakarta, yang tidak hanya menimbulkan masalah kebersihan, tetapi juga risiko kesehatan dan estetika lingkungan. Pramono menegaskan bahwa meskipun sudah ada penanganan di beberapa titik, kondisi ini masih memerlukan perhatian khusus agar segera pulih.
Program Pemilahan Sampah Massal di Rasuna Said
Untuk mengatasi persoalan penumpukan sampah secara berkelanjutan, Pemprov DKI akan meluncurkan program pemilahan sampah secara resmi yang akan dimulai pada 10 Mei 2026 di Jalan Rasuna Said. Program ini dirancang sebagai gerakan massal untuk mengurangi volume sampah yang harus diolah di TPST Bantar Gebang.
Pramono menjelaskan bahwa hampir 50 persen sampah di Jakarta adalah sampah organik yang potensial untuk diolah langsung di tingkat lingkungan, sehingga pemilahan sampah menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan pada TPST Bantar Gebang.
"Besok tanggal 10, Jakarta akan memulai program yang secara resmi pemilahan sampah. Dan ini menjadi gerakan masif karena memang hampir 50 persen sampah kita itu sebenarnya sampah organik," ujar Pramono.
Pemberdayaan Pengelola Sampah Mandiri
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga memberikan kewenangan lebih luas kepada pengelola sampah mandiri di tingkat wilayah agar penanganan sampah dapat dilakukan lebih efisien dan cepat. Kebijakan ini telah mulai diterapkan di wilayah seperti Kramat Jati dengan dukungan fasilitas alat transportasi dan pengolahan sampah mandiri.
Langkah ini bertujuan meminimalisir ketergantungan sepenuhnya pada TPST Bantar Gebang dan meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah di setiap lingkungan.
- Pengelola sampah mandiri dapat memiliki alat transportasi sendiri.
- Dilengkapi alat pengolahan sampah di tingkat wilayah.
- Mempercepat proses pengangkutan dan pengolahan sampah lokal.
Menurut laporan Metrotvnews.com, langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kompleks.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penumpukan sampah di TPS Kalibaru yang terjadi akibat longsor Bantar Gebang merupakan cermin nyata betapa pentingnya diversifikasi strategi pengelolaan sampah di Jakarta. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu lokasi TPST membuat sistem pengelolaan sampah kota rentan terhadap gangguan seperti bencana alam.
Program pemilahan sampah massal yang akan dimulai pada 10 Mei menjadi langkah tepat untuk mengurangi beban TPST Bantar Gebang sekaligus mendorong kesadaran masyarakat agar lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Inisiatif pemberdayaan pengelola sampah mandiri juga menjadi terobosan yang memungkinkan pengelolaan sampah lebih efektif dan cepat di tingkat wilayah.
Ke depan, Pemprov DKI perlu terus mengawal dan mengembangkan program ini dengan dukungan teknologi dan edukasi yang masif agar sistem pengelolaan sampah Jakarta menjadi lebih resilient dan berkelanjutan. Warga pun harus aktif berpartisipasi agar target pengurangan sampah organik dan non-organik bisa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menikmati lingkungan yang bersih dan sehat tanpa harus menghadapi masalah penumpukan sampah kembali.
Terus ikuti perkembangan berita terkait pengelolaan sampah di Jakarta untuk mengetahui langkah-langkah terbaru yang diambil pemerintah dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0