Meta Bocorkan Data Karyawan Lewat Program Pelacakan Kontroversial AI
Meta secara tidak sengaja mengekspos data sensitif karyawan yang dikumpulkan lewat laptop mereka kepada seluruh staf perusahaan, menurut laporan WIRED dan tiga sumber internal yang mengetahui masalah tersebut.
Data yang bocor tersebut berasal dari inisiatif kontroversial perusahaan dalam mengumpulkan data ketikan tombol keyboard, klik mouse, hingga konten yang muncul di layar laptop karyawan di AS untuk melatih model kecerdasan buatan (AI).
Juru bicara Meta, Tracy Clayton, mengonfirmasi kepada WIRED bahwa pihaknya tengah menyelidiki masalah keamanan ini. Dia juga menyatakan bahwa program pengumpulan data ini dihentikan sementara waktu sampai penyelidikan selesai. "Kami telah merancang program ini dengan berbagai perlindungan privasi dan sejauh ini tidak ada indikasi data diakses secara tidak sah oleh karyawan Meta, namun kami akan menghentikan program ini selama proses investigasi," kata Clayton.
Data Karyawan Terbuka untuk Seluruh Karyawan
Catatan keamanan internal yang diterima WIRED menyebutkan bahwa data karyawan yang tersebar melibatkan "45.000 tabel Hive" yang berisi aktivitas karyawan, termasuk "prompt dan transkripsi lengkap, percakapan privat, data orang, dan kinerja".
Sejumlah karyawan Meta segera menanggapi kebocoran ini di forum internal, menganggapnya sebagai bukti bahwa kekhawatiran mereka sejak awal tentang program pelacakan laptop itu memang beralasan. Program ini dikenal dengan nama Model Capability Initiative (MCI) dan sudah berjalan sejak April 2026.
Reaksi Karyawan dan Kekhawatiran Privasi
Dalam forum internal yang biasa dipakai karyawan untuk bercanda, seorang staf mengunggah meme karakter Jim Halpert dari serial The Office dengan tulisan "0 hari sejak kebodohan terakhir kami," mengekspresikan frustrasi terhadap kebocoran tersebut.
Beberapa postingan lain mempertanyakan bagaimana proses tinjauan privasi Meta gagal mencegah kebocoran dan apakah seluruh karyawan yang datanya terekspos akan diberikan kesempatan untuk mengikuti pertemuan terkait penyebab masalah.
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta, dalam posting internalnya mengakui bahwa pelaksanaan program pelacakan ini tidak memenuhi standar yang ditetapkan dalam tinjauan privasi. Dia menjanjikan transparansi terkait hasil investigasi. "Kami menemukan konfigurasi daftar kontrol akses (ACL) yang salah dan perlu memeriksa setiap akses data serta pemicunya," tulis Bosworth.
Petisi dan Protes Karyawan
Bulan lalu, lebih dari 1.600 karyawan Meta menandatangani petisi internal yang menentang program pelacakan laptop ini. Mereka memperingatkan bahwa pengumpulan data semacam ini berisiko menimbulkan pelanggaran keamanan dan masalah regulasi, serta menyoroti minimnya perlindungan yang diterapkan.
Salah satu insinyur menulis catatan internal yang viral menyatakan bahwa pengambilan data layar laptop tanpa persetujuan adalah pelanggaran privasi dan eksploitasi terhadap karyawan.
Namun, para eksekutif Meta membela proyek ini dengan alasan bahwa data tersebut diperlukan untuk melatih AI agar dapat menggunakan perangkat lunak seperti manusia. Dalam rekaman rapat internal yang bocor bulan lalu, CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyebut bahwa "model AI belajar dengan mengamati orang-orang yang sangat pintar," dan rata-rata kecerdasan karyawan Meta jauh lebih tinggi daripada kontraktor yang bisa disewa untuk mengumpulkan data serupa.
Langkah Terbaru dan Tekanan Regulasi
Setelah protes meluas, Meta mulai memberikan pengecualian lebih banyak kepada karyawan dalam pengawasan ini, termasuk opsi untuk mematikan pelacakan sementara saat melakukan tugas sensitif seperti membuat janji pribadi. Namun, beberapa karyawan masih menuntut program ini dihentikan sepenuhnya.
Meta juga menghadapi pengawasan ketat dari regulator AS, khususnya Komisi Perdagangan Federal (FTC) yang memberlakukan perjanjian kepatuhan hingga tahun 2040 untuk memastikan keamanan data dan mencegah pelanggaran. Meski begitu, beberapa mantan dan karyawan aktif Meta menyebut aturan ini sudah usang dan tidak memadai.
Selain itu, Meta juga mulai menggunakan AI untuk sebagian tugas peninjauan risiko privasi dan keamanan program, walaupun belum jelas apakah AI berperan dalam masalah kontrol akses data MCI.
Dampak pada Moril dan Organisasi
Kebocoran ini berpotensi memperburuk krisis moril di Meta yang sudah terdampak oleh pemecatan massal, reorganisasi besar, dan tekanan pengembangan AI. Pada Maret 2026, Meta membentuk tim AI terapan baru dan memindahkan sekitar 6.500 karyawan ke peran baru yang fokus pada pengembangan model AI, namun beberapa staf mengeluhkan pekerjaan mereka menjadi monoton dan melelahkan secara mental.
Bosworth baru-baru ini mengirim memo permintaan maaf atas komunikasi yang buruk terkait reorganisasi AI dan menjanjikan perbaikan dalam komunikasi serta pengembalian beberapa fasilitas kantor.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, insiden kebocoran data ini bukan hanya soal kegagalan teknis, tapi juga mencerminkan ketegangan mendalam antara kebutuhan perusahaan mengembangkan teknologi AI canggih dan hak privasi karyawan. Program pelacakan yang mengumpulkan data pribadi secara intensif tanpa persetujuan penuh karyawan menimbulkan dilema etis yang serius dan berpotensi merusak kepercayaan internal.
Lebih jauh, kebocoran ini mengindikasikan bahwa meskipun perusahaan teknologi besar seperti Meta memiliki sumber daya untuk menjaga keamanan data, kompleksitas dan skala pengumpulan data AI dapat membuka celah besar dalam kontrol akses dan perlindungan privasi. Hal ini harus menjadi peringatan bagi industri teknologi untuk meninjau ulang kebijakan pengumpulan data internal mereka, terutama yang berkaitan dengan data karyawan.
Ke depan, publik dan regulator wajib mengawasi ketat bagaimana Meta dan perusahaan teknologi lain menyeimbangkan inovasi AI dengan hak privasi individu. Karyawan pun perlu diberikan suara lebih besar dalam menentukan batas pengawasan yang dapat diterima di lingkungan kerja mereka.
Simak terus perkembangan terbaru terkait isu ini, karena keputusan-keputusan Meta dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi tolok ukur penting bagi standar privasi dan keamanan data di industri teknologi global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0