Pertahanan Perimeter Perusahaan Membaik, Tapi Keamanan Interior Justru Runtuh
Keamanan siber perusahaan kembali mengalami pemulihan di lapisan tepi (perimeter), namun kerentanan serius terjadi di dalam jaringan internal. Laporan Blue Report 2026 dari Picus Labs mengungkapkan bahwa meskipun pencegahan serangan secara umum meningkat menjadi 69% dari lebih 338 juta simulasi serangan nyata, pencegahan setelah titik kompromi hanya mencapai 37%.
Pemulihan Pertahanan di Perimeter, namun Interior Rentan
Menurut laporan tersebut, pertahanan perusahaan saat ini lebih efektif menangkal serangan yang bersifat berisik dan jelas terdeteksi di perimeter jaringan. Pencegahan meningkat dari 62% pada tahun sebelumnya menjadi 69%, menyamai puncak performa pada tahun 2024, sementara logging mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yaitu 58%.
Namun, kondisi justru berbalik saat penyerang berhasil melewati perimeter. Pertahanan internal yang tampak kuat dari luar ternyata melemah, terutama terhadap serangan yang bersifat diam-diam seperti pengintaian dan pencurian kredensial yang menjadi tahap awal setiap pelanggaran serius.
Pencegahan Pasca-Kompro, Garis Kritis yang Terungkap
Ini menjadi temuan baru karena untuk pertama kalinya Picus Labs mengukur pencegahan pasca-kompromi melalui pengujian penetrasi otonom. Hasilnya sangat memprihatinkan: kontrol yang mampu memutus rantai serangan setelah penyerang mendapatkan akses sebagai pengguna terautentikasi hanya 37%.
Artinya, perimeter mampu menghentikan sekitar dua dari tiga serangan, namun di dalam jaringan pertahanan hanya berhasil menghentikan satu dari tiga serangan.
Akan tetapi, kerentanan di interior tidak merata. Serangan yang berisik seperti eksekusi kode berbahaya dan lateral movement melalui teknik seperti Sharp-ServiceExec dan SMBExec sering kali berhasil dihentikan, dengan tingkat pencegahan mencapai 85-90%. Ini menandakan teknologi EDR dan investasi keamanan dengan asumsi pelanggaran mulai menunjukkan hasil.
Sementara itu, aktivitas yang tenang seperti pengintaian (reconnaissance), pemetaan domain, dan enumerasi sesi hampir tidak terdeteksi. Pencegahan terhadap aktivitas ini hanya sekitar 10%, pencurian kredensial secara diam-diam dari memori dihentikan sekitar 22%, dan pencurian dari registry bahkan kurang dari 1%.
Serangan Sunyi, Pertahanan yang Mudah Dilanggar
Laporan tersebut juga menyoroti bagaimana alat pencuri kredensial terkenal, Mimikatz, diuji dengan tiga metode berbeda menghasilkan tingkat pencegahan yang sangat bervariasi. Metode klasik yang menggunakan signature untuk mendeteksi pembacaan memori proses LSASS hampir selalu dihentikan, tetapi metode lain yang lebih halus seperti pembacaan registry hampir tidak terdeteksi sama sekali.
"Jalur LSASS memang berisik dan mudah dideteksi karena membuka handle ke proses lsass.exe, sedangkan pembacaan registry tampak seperti aktivitas biasa dengan hak istimewa sehingga kontrol keamanan tidak bereaksi," ujar Sıla Özeren Hacıoğlu, Security Research Engineer di Picus Security.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan yang mengandalkan signature hanya efektif melawan serangan yang sudah dikenali, bukan perilaku berbahaya yang mendasarinya.
Penurunan Efektivitas Pencegahan Malware dan Deteksi
Selain itu, pertahanan terhadap malware juga melemah. Tingkat pencegahan berbasis Indicator of Compromise (IOC) turun menjadi 50% pada 2026 dari 60% tahun sebelumnya dan 71% pada 2024. Hal ini karena metode signature mudah dihindari dengan modifikasi kecil pada malware.
Sementara itu, meskipun logging meningkat menjadi 58%, tingkat alert tetap stagnan di angka 14%, artinya kurang dari satu dari tujuh serangan yang disimulasikan menghasilkan peringatan. Ini mengindikasikan masalah besar dalam proses deteksi dan respons, bukan hanya pengumpulan data.
Perubahan Drastis di Berbagai Sektor
Laporan juga menunjukkan dinamika menarik antar sektor. Misalnya, sektor pendidikan turun drastis 30 poin dan menjadi sektor dengan pertahanan terlemah, sedangkan sektor yang terlemah tahun sebelumnya justru mengalami kenaikan signifikan. Hal ini menegaskan bahwa kinerja keamanan bersifat sementara dan bergantung pada validasi terus-menerus.
Selain itu, meskipun rata-rata pertahanan membaik, pencegahan terhadap kelompok ancaman khusus dan ransomware justru menurun, dengan rata-rata pencegahan di bawah 38%, bahkan untuk beberapa ransomware teratas seperti Play yang turun drastis dari 50% menjadi 13%.
Strategi Keamanan yang Harus Diadopsi
Berdasarkan temuan ini, laporan merekomendasikan tiga langkah utama:
- Validasi eksposur secara nyata dengan menguji mana eksposur yang benar-benar dapat dieksploitasi, bukan hanya menginventarisasi risiko teoretis.
- Memperkuat pertahanan interior terhadap aktivitas sunyi seperti pengintaian dan pencurian kredensial, dengan deteksi yang fokus pada perilaku bukan hanya signature.
- Mengelola aturan deteksi sebagai proses rekayasa dengan terus memperbarui, menguji, dan menyaring peringatan agar log yang dikumpulkan dapat menjadi alert yang berguna.
Laporan ini menegaskan bahwa pertahanan yang kuat muncul setelah pengujian dan validasi yang konsisten. Serangan yang lolos biasanya adalah yang paling sunyi dan sulit dideteksi.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, laporan Blue Report 2026 ini membuka mata tentang jurang besar antara pertahanan perimeter dengan pertahanan internal perusahaan. Banyak organisasi yang merasa aman hanya karena perimeter terlindungi dengan baik, padahal serangan canggih yang dimulai dengan pengintaian dan pencurian kredensial dapat dengan mudah menembus pertahanan dalam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa paradigma keamanan siber harus bergeser dari hanya mengandalkan signature dan pencegahan berbasis IOC, menuju pendekatan yang lebih proaktif dan berfokus pada perilaku serta validasi berkelanjutan. Selain itu, rendahnya tingkat alert menunjukkan perlunya investasi lebih besar pada deteksi dan respons insiden, bukan hanya pengumpulan data.
Kedepannya, perusahaan harus menerapkan pengujian penetrasi otonom dan simulasi serangan secara rutin untuk memastikan pertahanan tidak hanya kuat secara teori, tetapi efektif dalam praktik. Perubahan cepat teknik serangan juga mensyaratkan adaptasi sistem deteksi, agar dapat menghadirkan peringatan yang relevan dan actionable.
Untuk informasi lebih lengkap dan detail temuan, unduh Blue Report 2026 dari Picus Labs dan lihat bagaimana posisi pertahanan organisasi Anda terhadap ancaman-ancaman terkini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0