Krisis Iklim Dorong Lonjakan Risiko Penyakit Akibat Panas Ekstrem di Indonesia

Jun 25, 2026 - 15:40
 0  3
Krisis Iklim Dorong Lonjakan Risiko Penyakit Akibat Panas Ekstrem di Indonesia

Krisis iklim semakin memperparah risiko kesehatan masyarakat di Indonesia akibat meningkatnya frekuensi hari dengan kondisi panas dan kelembapan ekstrem. Fenomena ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius hingga kematian, terutama di kota-kota besar yang padat penduduk.

Ad
Ad

Peningkatan Signifikan Hari Panas dan Lembap Berbahaya di Indonesia

Laporan Climate Central berjudul Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change mengungkapkan bahwa jumlah hari dengan suhu panas dan kelembapan berbahaya di Indonesia telah meningkat drastis. Pada dekade 1970-an, rata-rata hari seperti ini hanya sekitar 82 hari per tahun, namun pada periode 2016-2025 naik menjadi 174 hari. Dari jumlah tersebut, 68 persen atau 118 hari dipicu langsung oleh krisis iklim.

Secara global, jumlah hari panas lembap ekstrem juga meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1970-an, dengan 78 persen hari panas ekstrem pada periode 2016-2025 disebabkan oleh perubahan iklim.

Ancaman Kesehatan dari Suhu Bola Basah yang Meningkat

Climate Central menggunakan indikator temperatur bola basah (wet-bulb temperature) sebesar 256C sebagai ambang batas untuk mengukur kondisi panas lembap berbahaya. Pada suhu tersebut, kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan diri lewat penguapan keringat menjadi sangat terbatas, yang meningkatkan risiko:

  • Dehidrasi
  • Gangguan pernapasan
  • Penyakit kardiovaskular
  • Kelelahan akibat panas
  • Serangan panas (heat stroke)

Ilmuwan iklim terapan Climate Central, Kaitlyn Trudeau, menegaskan bahwa kondisi ini bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan sudah menjadi kenyataan sehari-hari di beberapa wilayah.

Sepuluh Kota Indonesia Masuk Daftar Panas Lembap Ekstrem Terbanyak

Indonesia memiliki setidaknya 10 kota yang masuk dalam daftar 50 kota dunia dengan jumlah hari panas lembap ekstrem terbanyak di dunia selama 2016-2025. Kota-kota tersebut antara lain:

  1. Pekanbaru dengan 353 hari
  2. Medan sebanyak 342 hari
  3. Surabaya dengan 313 hari
  4. Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang mengalami sekitar 210 hari panas lembap ekstrem akibat krisis iklim, mencapai 72 persen dari total 290 hari panas ekstrem di kawasan tersebut.

Risiko Kesehatan Meningkat di Kawasan Perkotaan

Bondan Andriyanu, Manager Outreach dan Advokasi CERAH, mengingatkan bahwa peningkatan kejadian panas ekstrem ini berpotensi mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, polusi udara yang juga tinggi di kota-kota besar memperparah risiko gangguan kesehatan.

"Risiko kesehatan akibat panas ekstrem semakin besar di kawasan perkotaan yang juga menghadapi persoalan polusi udara," ujar Bondan.

Menurutnya, pengurangan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil menjadi langkah krusial tidak hanya untuk mengendalikan krisis iklim, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman panas ekstrem yang semakin sering terjadi.

Upaya Mitigasi dan Perlindungan Masyarakat

Lisa Patel, Clinical Associate Professor of Pediatrics di Stanford Children’s Health dan Direktur Eksekutif Medical Society Consortium on Climate and Health, menekankan pentingnya data peningkatan panas lembap ekstrem sebagai dasar penguatan upaya mitigasi dan adaptasi. Data ini dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan mengidentifikasi wilayah dan kelompok masyarakat yang paling rentan agar langkah antisipasi bisa dilakukan lebih awal.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, data ini menegaskan bahwa krisis iklim sudah masuk ke ranah kesehatan masyarakat secara nyata, bukan sekadar isu lingkungan. Lonjakan hari panas lembap ekstrem yang didorong oleh perubahan iklim menuntut pemerintah untuk segera mengintegrasikan kebijakan iklim dengan sistem kesehatan nasional.

Selain itu, kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya harus menjadi fokus utama mitigasi karena kombinasi panas ekstrem dan polusi udara meningkatkan risiko penyakit kronis dan kematian. Langkah pengurangan emisi fosil dan peningkatan ruang terbuka hijau adalah solusi jangka panjang yang tidak bisa ditunda lagi.

Ke depan, masyarakat juga perlu diberdayakan melalui edukasi kesiapsiagaan menghadapi gelombang panas, dan pemerintah harus meningkatkan sistem peringatan dini serta layanan kesehatan khusus untuk kasus panas ekstrem. Perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, tetapi ancaman langsung bagi kesehatan seluruh bangsa.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di situs resmi Republika dan mengikuti perkembangan terbaru di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad