Bahaya Inflamasi Tak Terlihat yang Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
JAKARTA – Inflamasi atau peradangan kronis pada pembuluh darah ternyata menjadi faktor risiko utama yang sering terlupakan dalam penyakit jantung dan stroke. Studi global POSEIDON yang melibatkan hampir 19.000 pasien dari 18 negara menemukan bahwa sekitar dua dari lima pasien penyakit kardiovaskular masih memiliki inflamasi pembuluh darah yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke meskipun sudah menjalani terapi standar.
Inflamasi Kardiovaskular: Faktor Risiko yang Sering Tak Terlihat
Selama ini, perhatian medis lebih banyak tertuju pada faktor risiko klasik seperti kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes sebagai penyebab utama penyakit jantung dan stroke. Namun, inflamasi kardiovaskular yang berlangsung tanpa gejala jelas ternyata menjadi silent killer yang mempercepat pembentukan plak aterosklerosis dan penyumbatan pembuluh darah.
Studi observasional POSEIDON yang dipaparkan dalam Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) di Athena, Yunani, mengungkap bahwa inflamasi masih tinggi pada pasien penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA), penyakit ginjal kronis (CKD), dan gagal jantung. Hal ini menjelaskan mengapa risiko serangan jantung dan stroke tetap tinggi meski pasien telah mendapat pengobatan sesuai pedoman klinis.
Data dan Temuan Studi POSEIDON
- Melibatkan 18.904 pasien dari 18 negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia Pasifik pada 2023-2025.
- Inflamasi diukur menggunakan biomarker high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP).
- Pasien dengan kadar hsCRP ≥ 2 mg/L dikategorikan memiliki inflamasi kardiovaskular.
- Ditemukan bahwa pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah belum cukup menghilangkan risiko jika inflamasi tetap ada.
Menurut Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk,
"Inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko signifikan yang tetap berlanjut pada pasien meskipun telah menerima terapi standar."Temuan ini menandai adanya kebutuhan medis yang belum terpenuhi dalam penanganan penyakit jantung.
Inflamasi: Bukan Masalah Sekunder
Profesor Carolyn S.P. Lam dari National Heart Centre Singapore menegaskan bahwa inflamasi harus dipandang sebagai faktor utama risiko penyakit jantung, bukan sekadar masalah tambahan.
"Studi POSEIDON menunjukkan inflamasi adalah faktor utama yang meningkatkan risiko komplikasi pada jutaan pasien meskipun telah mendapat terapi terbaik saat ini,"ujarnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, temuan studi POSEIDON ini merupakan peringatan penting bagi dunia kesehatan bahwa fokus pengobatan penyakit jantung perlu diperluas, tidak hanya pada pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah saja, tetapi juga harus menargetkan inflamasi pembuluh darah sebagai faktor risiko yang berdampak besar.
Ketidaktahuan dan minimnya pemeriksaan inflamasi kardiovaskular selama ini menyebabkan banyak pasien tetap berada dalam risiko tinggi serangan jantung dan stroke. Pemeriksaan biomarker seperti hsCRP seharusnya menjadi bagian dari evaluasi rutin pasien berisiko kardiovaskular.
Ke depan, inovasi terapi yang dapat mengatasi inflamasi kardiovaskular akan menjadi game-changer dalam penanganan penyakit jantung dan stroke, mengurangi angka kematian dan komplikasi. Masyarakat dan tenaga medis harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya inflamasi ini dan mendukung penelitian serta pengembangan terapi baru.
Untuk informasi lebih lengkap dan update studi ini, Anda dapat membaca langsung sumbernya di Harian Disway dan mengikuti perkembangan riset dari European Atherosclerosis Society.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0