UGM dan WorldVeg Tingkatkan Kapasitas Global Diagnostik Penyakit Tanaman Hortikultura

Jul 21, 2026 - 23:30
 0  4
UGM dan WorldVeg Tingkatkan Kapasitas Global Diagnostik Penyakit Tanaman Hortikultura

Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan kiprahnya di level internasional dengan menggandeng World Vegetable Center (WorldVeg) untuk memperkuat kapasitas diagnostik penyakit tanaman hortikultura secara global. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan intensif bertajuk Advanced Training in Plant Health: From Field Surveillance to Molecular Technologies yang digelar pada 22–27 Juni 2026 di Yogyakarta.

Ad
Ad

Pelatihan tersebut diikuti oleh 18 peneliti dan praktisi dari berbagai negara, antara lain Perancis, Afrika Selatan, India, Sri Lanka, Papua Nugini, dan Indonesia. Fokus utamanya adalah memperkuat kemampuan diagnostik penyakit tanaman hortikultura, yang tidak hanya bernilai strategis secara ekonomi, tetapi juga ikut berkontribusi pada isu inflasi pangan global.

Kompleksitas Penyakit Tanaman di Wilayah Tropis

Prof Ani Widiastuti dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM menegaskan bahwa kompleksitas penyakit tanaman terus meningkat, terutama di kawasan tropis yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Fenomena ini memicu munculnya penyakit tanaman baru atau emerging plant diseases yang menuntut penanganan lebih serius dan inovatif.

“Perubahan iklim menjadi kendala besar dalam produktivitas tanaman yang memicu adaptasi patogen atau hama. Karena itu, kolaborasi internasional sangat penting untuk menemukan solusi,”

– Prof Ani Widiastuti

Menurutnya, perguruan tinggi dan lembaga riset harus aktif menjalin kerja sama internasional mengingat tanaman hortikultura dan pangan merupakan sumber utama ketahanan pangan di tengah krisis global yang semakin kompleks.

Pelatihan Berbasis Teori dan Praktik Lapangan

Pelatihan yang difasilitasi bersama WorldVeg ini memadukan teori dengan praktik langsung. Pada hari pertama, peserta belajar tentang proses diagnostik hama, jamur, bakteri, dan virus mulai dari observasi lapangan hingga konfirmasi melalui laboratorium.

Para ahli dari WorldVeg, Dr. Lourena Maxwell dan Dr. Ram Khadka, memaparkan metode diagnostik mutakhir, sementara Dr. M. Iqbal Maulana dari UGM memperkenalkan peran nematoda parasit dalam sistem produksi sayuran. Sesi praktikum ekstraksi DNA dan teknik PCR untuk identifikasi nematoda menjadi momen penting yang membuka wawasan baru bagi peserta mengenai pendekatan molekuler dalam diagnosa penyakit tanaman.

Fokus Diagnostik dan Teknologi Molekuler

Hari kedua pelatihan menitikberatkan pada diagnostik hama serangga dan resistance screening. Peserta belajar mengenali hama utama sayuran seperti kutu kebul, thrips, dan aphid, serta praktik inokulasi penyakit bakteri dan jamur pada cabai. Pemahaman mendalam tentang siklus hidup hama dan patogen sangat ditekankan sebagai dasar strategi pengendalian efektif.

Di hari ketiga, fokus bergeser ke teknologi deteksi molekuler virus sayuran menggunakan teknik PCR, qPCR, dan CRISPR. Praktikum pemurnian RNA dan DNA dari tanaman terinfeksi serta pemanfaatan aplikasi bioinformatika seperti Geneious memperkaya kemampuan analisis data genetik peserta.

Peran Diagnostik dalam Pemuliaan Tanaman dan Pengelolaan Hama

Hari keempat membahas pemuliaan tanaman dan Marker-Assisted Selection (MAS). Dr. Derek Barchenger dari WorldVeg menjelaskan bagaimana diagnostik penyakit berperan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama untuk menghadapi resistensi penyakit pada cabai.

Hari kelima menyoroti pentingnya kesehatan benih dan strategi pengelolaan hama terpadu (Integrated Pest Management/IPM). Peserta diajak memahami deteksi patogen yang terbawa benih serta mengenal agen hayati seperti Trichoderma, Bacillus, Beauveria, dan Metarhizium yang menjadi solusi ramah lingkungan untuk pengendalian hama.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pelatihan ini bukan hanya sekadar transfer ilmu teknis, tetapi menjadi game-changer dalam menghadapi tantangan penyakit tanaman di era perubahan iklim. Kolaborasi UGM dan WorldVeg menunjukkan pentingnya sinergi internasional dalam riset dan pengembangan pertanian berkelanjutan, terutama untuk komoditas hortikultura yang rentan terhadap berbagai serangan organisme pengganggu.

Di tengah dinamika global, kemampuan diagnostik yang akurat dan cepat akan menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan dunia. Pelatihan ini juga menandai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia Indonesia agar dapat bersaing sekaligus berkontribusi aktif di panggung internasional.

Ke depan, pembaruan teknologi molekuler dan bioinformatika yang terus berkembang harus diintegrasikan dalam program pelatihan lanjutan. Pembentukan jejaring antarnegara juga menjadi hal yang krusial agar informasi tentang penyakit baru dapat segera direspon secara kolektif.

Untuk informasi lebih lanjut, baca artikel asli di VIVA Jogja dan pantau terus perkembangan riset pertanian melalui situs resmi World Vegetable Center.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad