Seniman AI Malik Afegbua Hidupkan Warisan Afrika Lewat Teknologi Canggih

Mar 17, 2026 - 22:20
 0  4
Seniman AI Malik Afegbua Hidupkan Warisan Afrika Lewat Teknologi Canggih

Malik Afegbua, seorang seniman dan pembuat film asal Nigeria, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melestarikan cerita dan warisan budaya Afrika yang hampir terlupakan. Melalui proyek inovatif bernama LegacyLink, ia berambisi agar kisah dan pengalaman para tetua Afrika dapat "hidup selamanya".

Ad
Ad

Melestarikan Cerita Para Tetua dengan Teknologi AI

Di seluruh benua Afrika, ada pepatah yang berbunyi: "Ketika seorang tetua meninggal, sebuah perpustakaan terbakar habis." Bagi Malik Afegbua, ini bukan sekadar metafora. "Saya tidak tahu seperti apa wajah kakek buyut saya," ujarnya kepada CNN. "Saya tidak punya cerita tentang dia."

Kurangnya data dan arsip sejarah membuat warisan lisan dan budaya menjadi rentan hilang. Untuk mengatasi hal itu, Afegbua meluncurkan LegacyLink, sebuah proyek yang mengumpulkan cerita para tetua, merekam video, dan memindai benda-benda pusaka seperti topeng dan drum dalam bentuk 3D.

Dengan data tersebut, ia menciptakan "kembaran digital" para tetua yang kemudian akan ditampilkan sebagai hologram di ruang publik seperti bandara. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan sosok digital tersebut, dengan AI yang mampu menjawab pertanyaan berdasarkan wawancara asli yang telah dilakukan Afegbua.

"Rasanya seperti seseorang benar-benar berdiri di depanmu, berbicara dan berbagi cerita," kata Afegbua. "Pengguna bisa bertanya tentang kehidupan dan pengalaman mereka, dan AI akan merespons berdasarkan wawancara yang sudah saya rekam."

Selain itu, ia juga merencanakan pembuatan chatbot online untuk memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya ini.

Meski masih dalam tahap awal, Afegbua telah mewawancarai 15 orang di Nigeria dan berencana menambah 30 wawancara lagi, termasuk di Kenya dan Kamerun. Targetnya adalah mengumpulkan 1.000 cerita pada tahun 2028.

Untuk memastikan akurasi dan kedalaman budaya, ia mengandalkan penerjemah manusia karena AI masih sulit memahami bahasa dan nuansa lokal tertentu.

Ketika pertama kali melakukan wawancara di Ikorodu, Lagos, beberapa tetua sempat ragu karena tradisi leluhur mereka melarang cerita tersebut disebarluaskan. Namun, dengan presentasi dan edukasi tentang teknologi AI, mereka kemudian antusias dan ingin belajar.

Afegbua mengenalkan mereka pada model bahasa besar untuk menunjukkan bagaimana AI dapat membantu mengingat cerita, menyusun narasi, dan memperluas ingatan menjadi dokumentasi tertulis yang bisa dibagikan secara luas.

Wawancara awal fokus pada kehidupan sehari-hari, kemudian berlanjut ke pengalaman pribadi, termasuk topik sensitif seperti Perang Saudara Nigeria (1967-1970). Banyak yang enggan membicarakannya karena trauma yang masih membekas, sehingga Afegbua berhati-hati tidak memaksa mereka.

Menghidupkan Kembali Kota-kota dan Situs Bersejarah dengan AI

Selain LegacyLink yang melestarikan cerita hidup, Afegbua juga mengerjakan proyek visual bernama ReMemory yang bertujuan merekonstruksi situs-situs warisan Afrika yang hilang atau rusak dengan bantuan AI.

Proyek ini didasarkan pada catatan sejarah dan studi akademis untuk menciptakan versi digital situs bersejarah yang dapat dijelajahi melalui ponsel, komputer, atau virtual reality (VR).

Inspirasi ReMemory muncul dari film VR yang dibuat Afegbua tentang lubang pewarna Kofar Mata di Kano, yang telah beroperasi selama lima abad. Karena ketidakamanan di kawasan itu, banyak orang enggan berkunjung, sehingga film VR ini berfungsi sebagai arsip digital agar tradisi tersebut tidak punah.

Langkah awal Afegbua adalah merekonstruksi tembok kota bersejarah Benin, yang dibangun antara abad ke-7 dan ke-14. Tembok setinggi 18 meter ini dulu mengelilingi kota dan membentang sepanjang 1.200 kilometer, namun kini banyak bagian yang rusak atau hilang.

Meski dokumentasi sejarah tidak lengkap, Afegbua berusaha mendekati rekonstruksi yang akurat agar pengguna bisa merasakan pengalaman berinteraksi langsung dengan warisan budaya yang hidup kembali.

Melalui kedua proyek ini, Afegbua berusaha menggunakan AI untuk memulihkan bahasa, artefak, dan simbol budaya Afrika agar generasi sekarang dan masa depan dapat merasakannya secara nyata.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah Malik Afegbua merupakan terobosan penting dalam pelestarian budaya Afrika di era digital. Dengan menggunakan AI, proyek-proyek seperti LegacyLink dan ReMemory tidak hanya menyimpan warisan sejarah dalam bentuk statis, tetapi menghidupkannya kembali secara interaktif dan imersif. Ini menjadi solusi inovatif menghadapi tantangan hilangnya sumber daya sejarah akibat keterbatasan dokumentasi dan trauma masa lalu.

Selain itu, inisiatif ini menunjukkan bagaimana teknologi tinggi dapat dipadukan dengan kearifan lokal dan tradisi lisan untuk menciptakan pengalaman budaya yang lebih inklusif dan mudah diakses. Namun, kita harus tetap waspada terhadap risiko distorsi sejarah yang mungkin timbul dari keterbatasan data dan interpretasi AI.

Ke depan, yang paling menarik untuk diikuti adalah bagaimana proyek ini berkembang hingga mencakup lebih banyak bahasa dan wilayah Afrika, serta bagaimana masyarakat menerima dan memanfaatkan teknologi ini untuk memperkuat identitas dan kebanggaan budaya mereka.

Dengan komitmen Malik Afegbua, warisan budaya Afrika berpeluang "hidup selamanya" dalam bentuk yang belum pernah ada sebelumnya—sebuah jembatan antara masa lalu dan masa depan yang sarat arti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad