Mengapa Kecerdasan Buatan Belum Bisa Menulis dengan Baik seperti Manusia
- Perjalanan AI dari GPT-2 hingga Model Terbaru
- Kenapa Model Bahasa Besar Sulit Menulis dengan Baik?
- Proses Pelatihan AI dan Dampaknya pada Kreativitas
- Kesulitan Mengukur dan Menciptakan Karya Sastra Berkualitas
- Apakah AI Akan Selamanya Terjebak di Tulisan yang Biasa Saja?
- Suara Manusia yang Tidak Bisa Ditiru AI
- AI sebagai Editor, Bukan Penulis
- Analisis Redaksi
Kecerdasan buatan (AI), khususnya model bahasa besar (Large Language Models/LLM), telah mengalami kemajuan luar biasa dalam berbagai bidang teknis. Namun, ketika berbicara soal menulis dengan kualitas sastra dan gaya yang menarik, para model ini masih jauh dari kata sempurna. Mengapa kemampuan menulis yang memikat dan berjiwa masih sulit dicapai oleh AI?
Perjalanan AI dari GPT-2 hingga Model Terbaru
GPT-2, yang diluncurkan tujuh tahun lalu oleh OpenAI, menjadi puncak awal kreativitas AI dalam menulis. Model ini mampu menghasilkan jawaban yang tak terduga dan kreatif. Katy Gero, seorang penyair sekaligus ilmuwan komputer yang telah bereksperimen dengan model bahasa sejak 2017, mengungkapkan, “Anda bisa memberi perintah seperti, ‘Lanjutkan cerita: Pria itu memutuskan untuk mandi,’ dan GPT-2 akan menjawab, ‘Dan di dalam mandi, dia memakan lemon sambil memikirkan istrinya.’ Model-model sekarang tidak lagi melakukan hal seperti itu.”
Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, meyakini bahwa di masa depan, model bahasa besar akan bisa menyelesaikan masalah kompleks seperti perubahan iklim, eksplorasi antariksa, bahkan penemuan fisika secara keseluruhan. Namun, dalam wawancara dengan ekonom Tyler Cowen, Altman juga mengakui bahwa mungkin model-model ini hanya akan mampu menghasilkan "puisi yang cukup bagus dari seorang penyair sejati," bukan karya sastra yang luar biasa.
Kenapa Model Bahasa Besar Sulit Menulis dengan Baik?
Walaupun model AI telah "memahami" ragam karya sastra selama berabad-abad, tulisan yang dihasilkan sering kali penuh dengan kesalahan. Chatbot menghasilkan metafora yang tidak bermakna, kalimat yang berputar-putar, dan nada yang terlalu memuji atau berlebihan. Bahkan penggunaan tanda baca seperti tanda hubung (em dash) sering disalahgunakan, meski sejak GPT-5.1 sudah ada peningkatan dalam mengikuti instruksi untuk membatasi penggunaannya.
Saat saya berbicara dengan para ahli dari perusahaan pengembang LLM, vendor data AI, dan akademisi komputer, saya menemukan bahwa model-model ini justru dibangun dengan pendekatan yang bertentangan dengan seni menulis yang baik. Mereka didesain agar menjadi "murid teladan" yang selalu mengikuti aturan dan memberikan jawaban yang benar. Itu berarti mereka kehilangan sifat bebas dan spontan yang membuat tulisan lebih menarik.
Proses Pelatihan AI dan Dampaknya pada Kreativitas
Model bahasa besar memulai pelatihan dengan menyerap berbagai data dari internet, mulai dari unggahan Reddit hingga transkrip YouTube dan konten SEO yang sering berkualitas rendah. Dalam fase ini, mereka mempelajari asosiasi kata dan tata bahasa melalui proses "prediksi token berikutnya." Namun, kualitas tulisan bukanlah fokus utama, melainkan kuantitas data.
Setelah itu, dalam fase post-training, model dibentuk untuk mengikuti kepribadian tertentu seperti "berguna, jujur, dan tidak berbahaya," serta diberi filter keamanan untuk mencegah penggunaan ilegal. Metode seperti "reinforcement learning with human feedback" melibatkan manusia untuk menilai keluaran AI berdasarkan kriteria tertentu. Hal ini membuat model cenderung kaku dan kurang spontan.
Menurut James Yu, salah satu pendiri Sudowrite, asisten AI untuk penulis fiksi, "Menulis novel adalah salah satu aktivitas kognitif manusia yang paling intens." Banyak orang di industri AI mengagumi karya sastra yang baik, seperti penulis fiksi ilmiah Ted Chiang, meski Chiang sendiri kritis terhadap generatif AI.
Kesulitan Mengukur dan Menciptakan Karya Sastra Berkualitas
Berbeda dengan ilmu yang bisa diukur secara empiris, seni menulis tidak bisa dinilai dengan aturan pasti. Tidak ada standar objektif yang mengatakan bahwa karya Pablo Neruda lebih baik dari Gabriela Mistral. Penulis hebat justru menciptakan aturan baru, bukan hanya mengikuti konvensi. Model AI yang hanya meniru selera orang lain pasti terbatas.
Para evaluator di perusahaan AI harus mengubah aspek yang sangat subjektif seperti "nada tulisan" menjadi kriteria yang bisa dinilai, misalnya "jawaban harus menggunakan maksimal dua tanda seru." Hal ini menyebabkan penilaian kadang aneh dan tidak sesuai dengan rasa seni manusia. Bahkan ada kasus penilaian fan fiction berdasarkan "faktualitas," yang sebenarnya bertentangan dengan esensi fiksi itu sendiri.
Seorang penulis yang bekerja dengan tim riset teknis mengatakan bahwa menguraikan elemen yang membuat karya sastra bagus sangat sulit. Misalnya, soneta Inggris sangat terstruktur, tapi karya Shakespeare tetap berbeda karena ia sering melanggar dan merevolusi aturan tersebut. "Saya tidak tahu apa yang membedakan penyair yang menulis sesuai aturan dan Shakespeare. Tapi saya yakin keduanya tidak bisa disamakan." katanya.
Apakah AI Akan Selamanya Terjebak di Tulisan yang Biasa Saja?
Salah satu teori menyebutkan bahwa keterbatasan ini berkaitan dengan prioritas pengembangan. Kreativitas seringkali bertentangan dengan tujuan utama perusahaan AI, seperti menghindari misinformasi, bias politik, konten ilegal, dan pelanggaran hak cipta. Model juga dikaji berdasarkan tolok ukur teknis yang membuat para pengembang lebih fokus pada kinerja ketimbang kreativitas.
Nathan Lambert, pemimpin pelatihan lanjutan di Allen Institute for AI, menjelaskan, "Semakin Anda mengontrol model agar sesuai dengan kriteria tersebut, semakin Anda menekan kreativitas." Model yang harus sekaligus menjadi ahli matematika, penulis yang sopan, dan bebas dari masalah hukum akan menjadi kaku dan takut berimprovisasi. Sebaliknya, sifat unik dan spontan GPT-2 dulu yang membuatnya segar juga membuatnya rentan terhadap perilaku yang tidak terduga dan berisiko.
Suara Manusia yang Tidak Bisa Ditiru AI
Saya sempat berpikir bahwa mungkin AI bisa menulis karya sastra hebat jika dilepas dari batasan pasca-pelatihan dan dibuat model khusus untuk menulis kreatif. Namun, penulis favorit saya mengingatkan saya bahwa suara penulis muncul dari pengalaman hidup unik dan perspektif pribadi yang tak bisa ditiru mesin.
Model AI memang mahir secara teknis dan tata bahasa, tapi mereka tidak hidup, tidak merasakan, tidak mencium, tidak mengalami. Mereka tidak bisa menuangkan emosi mentah atau menghadirkan konsep abstrak dalam latar fisik yang kaya. Metafora yang mereka hasilkan sering terasa aneh dan jauh dari pengalaman biologis seperti darah, seks, dan kematian. Karya mereka kurang memiliki "taruhan" emosional yang membuat pembaca terpikat.
James Yu mengungkapkan, "Cerita pertama yang bagus kebanyakan bersifat autobiografi. Mungkin Anda butuh model yang juga menjalani kehidupan, bahkan hampir merasakan kematian." Ini menunjukkan batas mendasar AI dibanding manusia dalam seni menulis.
AI sebagai Editor, Bukan Penulis
Meskipun AI sulit menjadi penulis yang hebat, teknologi ini tidak harus dianggap gagal. Saya sendiri menggunakan AI sebagai editor pribadi dalam menulis di Substack. Alih-alih menulis bersama AI, saya memberikan naskah saya dan catatan tentang gaya dan perspektif saya untuk mendapatkan masukan agar saya bisa menulis lebih baik sesuai suara saya sendiri.
Saya menggunakan chatbot Claude yang diberi arsip tulisan saya dan panduan khusus untuk mengenali suara saya. Claude memberikan kritik yang membangun, seperti menyuruh saya berhenti menulis akhir cerita sebagai tesis dan menulisnya sebagai adegan. Meskipun kadang terasa memalukan mendapat koreksi dari mesin, saya harus mengakui kritiknya adil dan membantu saya memperbaiki tulisan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kegagalan AI dalam menghasilkan karya tulis yang benar-benar bermakna dan bernyawa bukan semata soal teknologi yang belum cukup canggih, melainkan karena keterbatasan mendasar AI yang tidak memiliki pengalaman hidup dan emosi. Kecerdasan buatan didesain untuk mengikuti aturan dan mengoptimalkan output berdasarkan data, bukan untuk berimajinasi atau melanggar konvensi seperti seniman manusia.
Kendati demikian, AI bisa menjadi alat bantu revolusioner untuk penulis manusia, membantu mengasah gaya dan mempercepat proses kreatif tanpa menggantikan suara unik sang pengarang. Di masa depan, kolaborasi manusia dan mesin dalam menulis dapat membuka babak baru kreativitas, di mana AI berperan sebagai asisten yang meningkatkan kualitas tulisan tanpa menghilangkan keaslian dan kedalaman emosional.
Perkembangan AI menulis juga penting untuk terus dipantau karena akan memengaruhi dunia literasi, pendidikan, dan industri konten secara luas. Para pembaca dan penulis harus tetap kritis dan selektif dalam menggunakan teknologi ini agar tidak kehilangan nilai seni dan kemanusiaan dalam proses berkarya.
Jasmine Sun, penulis artikel ini, dikenal lewat newsletter Substack yang membahas budaya AI dan Silicon Valley.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0