Kenapa Iran Lebih Dekat ke China dan Rusia Dibanding Negara Arab di Timur Tengah?
Hubungan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026. Kejadian ini memicu banyak analisis mengenai mengapa Iran lebih mesra dengan China dan Rusia dibandingkan negara-negara Arab di sekitarnya, khususnya di kawasan Teluk.
Hubungan Strategis Iran dengan China dan Rusia
Sejak revolusi Iran tahun 1979, Israel dan Amerika Serikat menjadi dua musuh utama Iran. Namun, yang menarik adalah kedekatan Iran dengan China dan Rusia, dua kekuatan besar yang menjadi penyeimbang dominasi AS di dunia internasional. Selama konflik yang disebut sebagai perang Ramadan baru-baru ini, dukungan dari Rusia dan China kepada Iran menjadi sorotan, meskipun Beijing secara resmi menyatakan sikap netral.
Sementara itu, negara-negara Teluk yang berbatasan langsung dengan Iran justru cenderung menghindari keterlibatan dalam konflik tersebut, menunjukkan sikap yang lebih hati-hati dan kurang mendukung Iran secara langsung.
Latar Belakang Kerjasama Nuklir dan Energi
Menurut Dr. Bichara Khader, Profesor Emeritus dari Université Catholique Prancis yang mengkaji dunia Arab kontemporer, awal mula hubungan erat Iran dengan China dan Rusia berakar dari program nuklir Iran yang dilanjutkan pada awal 1990-an. Saat itu, Iran mengalami kekurangan dana dan gagal mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat.
"Saat itulah Iran beralih ke China, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi," ujar Bichara.
Kerja sama ini menghasilkan sejumlah proyek penting, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Bushehr yang ditandatangani pada tahun 1999 dengan Rusia. Sementara dengan China, kerja sama dimulai lebih awal, yakni pada tahun 1990, dengan fokus pada transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir.
Sanksi AS dan Dampaknya terhadap Iran dan Eropa
Kerjasama Iran dengan China dan Rusia memicu kemarahan Amerika Serikat, yang kemudian memberlakukan sanksi berat pada tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran. Sanksi ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga menjadi pukulan bagi kepentingan Eropa yang banyak berinvestasi di negara tersebut.
Hal ini menimbulkan sentimen anti-Amerika yang kuat di kalangan warga Iran, sekaligus menimbulkan dilema bagi negara-negara Eropa yang merasa kedaulatan mereka terancam oleh kebijakan ekstrateritorial AS. Ekstrateritorialitas hukum AS memungkinkan negara tersebut untuk melarang negara lain berdagang dengan Iran, meskipun bertentangan dengan kepentingan negara-negara Eropa.
Ketegangan Regional dan Peran Negara Arab
Dalam konteks ini, Israel secara terbuka mengancam dan mengecam aktivitas nuklir Iran, menyebutnya sebagai ancaman eksistensial. Namun, meskipun Iran diduga mendukung beberapa serangan terhadap Israel, negara ini tidak pernah melakukan konfrontasi langsung.
Di sisi lain, negara-negara Arab, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, melihat program nuklir Iran sebagai ancaman serius yang dapat mendestabilisasi kawasan dan memicu proliferasi nuklir. Kekhawatiran ini menjadi salah satu alasan utama di balik normalisasi hubungan baru-baru ini antara Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, yang difasilitasi oleh upaya diplomatik Amerika Serikat di bawah Presiden Trump dan Jared Kushner.
Daftar Faktor Mengapa Iran Lebih Mesra ke China dan Rusia
- Dukungan teknologi nuklir yang tidak didapat dari negara-negara Barat maupun Arab.
- Kebutuhan ekonomi China terhadap minyak dan gas Iran.
- Peranan strategis Rusia sebagai penyeimbang kekuatan Barat di Timur Tengah.
- Sanksi AS yang membuat Iran semakin bergantung pada China dan Rusia.
- Kepentingan politik dan militer yang sejalan antara Iran, China, dan Rusia.
- Kekhawatiran negara Arab terhadap potensi kekuatan nuklir Iran.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kedekatan Iran dengan China dan Rusia bukan sekadar hubungan ekonomi atau teknis, melainkan juga merupakan strategi geopolitik yang cerdas untuk mengatasi tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan bersekutu pada dua kekuatan besar dunia ini, Iran memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional dan mengurangi ketergantungannya pada negara-negara Arab yang kini lebih condong ke barat.
Lebih jauh, hubungan ini mengindikasikan perubahan pola aliansi di Timur Tengah yang bisa berdampak luas pada dinamika politik dan keamanan kawasan. Negara-negara Arab yang selama ini menjadi mitra utama AS mungkin perlu meninjau ulang strategi mereka, mengingat pengaruh China dan Rusia yang kian menguat.
Ke depan, penting untuk terus memantau bagaimana ketegangan ini akan berkembang, termasuk potensi negosiasi baru dalam program nuklir Iran dan pergeseran aliansi di kawasan. Sikap negara-negara Teluk, khususnya dalam menghadapi tekanan Iran, akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas regional maupun hubungan internasional mereka.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0