Optimisme Terhadap AI: Siapa yang Paling Percaya dan Siapa yang Meragukan?
Orang-orang di Afrika Sub-Sahara dan Asia menunjukkan optimisme terbesar terhadap kecerdasan buatan (AI) dibandingkan dengan mereka di Eropa Barat dan Amerika Utara, menurut laporan terbaru dari Anthropic yang melibatkan survei sekitar 81.000 responden dari 159 negara.
Penelitian yang dipublikasikan pada Maret 2026 ini menemukan bahwa keuntungan ekonomi menjadi harapan utama masyarakat terhadap AI. Namun, para analis juga mengingatkan bahwa tidak semua orang akan merasakan manfaat yang sama dari perkembangan AI di seluruh dunia.
Harapan Ekonomi dan Manfaat AI di Tempat Kerja
Menurut laporan tersebut, responden melaporkan memiliki harapan tertinggi dan merasakan manfaat terbesar dari AI di lingkungan kerja mereka. Sekitar 18,8% responden menganggap AI membantu mereka mencapai "keunggulan profesional", sementara 32% merasa AI paling berguna untuk meningkatkan produktivitas.
Manfaat produktivitas ini sebagian besar berasal dari kemampuan AI untuk mengambil alih tugas-tugas rutin dan membosankan, sehingga pekerja bisa lebih fokus pada masalah strategis dan tingkat tinggi. Beberapa responden bahkan menyebutkan bahwa AI membantu mereka membebaskan waktu untuk aktivitas di luar pekerjaan.
"Saat ini, AI paling cocok untuk tugas yang sangat berulang, fokus sempit, dan berorientasi pada tujuan, mirip seperti pekerjaan di jalur perakitan," ujar Lian Jye Su, analis utama di Omdia.
Contoh tugas tersebut termasuk pekerjaan administratif seperti sumber daya manusia, penagihan, dan fungsi backoffice lainnya, menurut Seema Shah, Wakil Presiden Insights di Sensor Tower.
Keuntungan finansial dari AI juga tampak lebih dirasakan oleh kelas pengusaha dan pekerja mandiri, dengan mereka yang memiliki usaha kecil atau pekerjaan sampingan merasakan lebih dari tiga kali lipat peningkatan pemberdayaan ekonomi dibandingkan karyawan bergaji tetap.
Kekhawatiran Tentang Penggantian Pekerjaan oleh AI
Namun, perkembangan AI yang semakin canggih juga menimbulkan kekhawatiran serius tentang penggantian pekerjaan, termasuk pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai "pekerjaan tingkat tinggi". Misalnya, peluncuran Cowork oleh Anthropic pada Februari 2026, sebuah varian Claude yang mampu menangani tugas kompleks seperti pemodelan keuangan dan manajemen data, menyebabkan saham berbagai perusahaan turun karena kekhawatiran investor.
AI yang semakin mampu bertindak secara otonom dengan pengawasan minimal berpotensi mengubah secara drastis cara kerja profesional, menurut Marc Einstein, direktur riset di Counterpoint Research.
"Agen-agen AI ini akan melakukan tugas yang semakin kompleks atas nama manusia, dan ini akan berdampak besar," kata Einstein.
Kekhawatiran tentang penggantian pekerjaan menjadi salah satu sumber utama kekhawatiran, dengan 22,3% responden menyebutnya sebagai kekhawatiran terbesar. Kekhawatiran ini tersebar merata di berbagai kategori pekerjaan.
Seorang insinyur perangkat lunak dari AS yang diwawancarai Anthropic mengatakan, "Saat saya melakukan coding sekarang, saya lebih banyak menjadi pengamat, bukan pencipta. Saya bisa melihat bahwa bahkan peran pengamat pun mungkin tidak lagi diperlukan."
Siapa yang Benar-Benar Mendapat Manfaat dari AI?
Meskipun optimisme tinggi, para analis masih terbagi pendapat mengenai siapa yang benar-benar akan mendapatkan manfaat ekonomi dari AI. Einstein melihat AI sebagai "penyamarataan besar" karena memberikan akses yang sama kepada orang di daerah terpencil seperti Indonesia atau Brasil dengan yang di AS atau Jepang.
Pengguna Claude dari negara berkembang, seperti Afrika Sub-Sahara dan Amerika Latin, menunjukkan tingkat sentimen negatif terhadap AI sekitar 10-12% lebih rendah dibandingkan pengguna dari Eropa Barat dan Amerika Utara. Mereka juga mengekspresikan harapan lebih besar untuk kewirausahaan dan kemerdekaan finansial.
Namun, cara penelitian ini dilakukan menimbulkan keterbatasan. Menurut Lia Raquel Neves, pendiri konsultan etika EITIC, sampel survei ini cenderung berasal dari pengguna yang sudah menggunakan AI dan kemungkinan memiliki pandangan lebih positif dibandingkan populasi umum.
"Hasil ini sebaiknya dianggap sebagai indikator bagaimana pengguna awal dan aktif menilai pengalaman mereka dengan AI, bukan sebagai gambaran umum yang sudah mapan," ujar Neves.
Selain itu, hampir setengah responden berasal dari Amerika Utara dan Eropa Barat, sehingga perspektif global bisa kurang seimbang.
United Nations Development Programme dalam laporan 2025 memperingatkan bahwa AI bisa memperburuk ketimpangan sosial-ekonomi yang ada, karena manfaat ekonomi biasanya lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dengan kapasitas dan akses infrastruktur digital yang lebih baik, biasanya di negara kaya.
"Tanpa kondisi yang memadai, AI dapat memperkuat kerentanan yang sudah ada, termasuk melalui eksklusi digital, bias algoritmik, atau ketergantungan pada sistem eksternal," kata Neves.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, riset Anthropic ini membuka mata kita tentang kesenjangan nyata dalam optimisme dan manfaat AI yang dirasakan di berbagai wilayah dunia. Meskipun AI menjanjikan peningkatan ekonomi dan produktivitas, kenyataannya manfaat tersebut kemungkinan besar akan terkonsentrasi pada kelompok tertentu, terutama mereka dengan akses teknologi dan modal yang memadai.
Fenomena ini menegaskan kekhawatiran lama tentang ketimpangan digital yang semakin melebar, terutama di era transformasi teknologi canggih seperti AI. Negara-negara berkembang yang sangat berharap pada AI sebagai alat pemberdayaan harus waspada agar tidak justru semakin tertinggal akibat keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Ke depan, penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk memastikan akses yang adil dan inklusif terhadap teknologi AI, serta mengantisipasi dampak sosial-ekonomi yang mungkin muncul, terutama terkait penggantian tenaga kerja. Program pelatihan ulang dan regulasi yang adaptif bisa menjadi kunci menjaga keseimbangan antara inovasi dan keadilan sosial.
Dengan demikian, kita harus terus memantau perkembangan AI dengan kritis dan proaktif agar teknologi ini benar-benar menjadi alat yang memberdayakan seluruh lapisan masyarakat, bukan memperlebar jurang ketimpangan.
Simak terus perkembangan terkini di bidang AI dan dampaknya bagi masyarakat global hanya di sumber berita terpercaya Anda.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0