CIA dan Mossad Bingung Cari Keberadaan Mojtaba Khamenei Setelah Nowruz
Keberadaan Mojtaba Khamenei, pengganti Ayatollah Ali Khamenei yang wafat akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, kini menjadi misteri yang membingungkan badan intelijen dunia, termasuk CIA dan Mossad. Pada perayaan Nowruz, tahun baru Iran yang biasanya menjadi momen penting bagi pemimpin tertinggi Iran untuk tampil di depan publik, sosok Mojtaba justru tak terlihat sedikit pun.
Axios melaporkan bahwa berbagai badan intelijen global sedang berupaya keras menemukan jejak Mojtaba yang seharusnya muncul dalam perayaan tersebut. Namun, yang beredar hanya pesan tertulis di akun media sosial resmi Mojtaba yang menyerukan persatuan bangsa Iran, tanpa satu pun penampakan fisik.
Absen di Momen Penting Nowruz dan Kondisi Mojtaba
Pasca pengangkatan resmi sebagai pengganti ayahnya, Mojtaba belum pernah muncul di hadapan publik. Sejumlah laporan media bahkan menyebutkan bahwa Mojtaba mengalami cedera serius akibat serangan yang menewaskan ayahnya. Ia dikabarkan mengalami patah tulang kaki dan luka robek di wajah.
Menurut media Kuwait, Al Jarida, Mojtaba saat ini sedang menjalani operasi dan pemulihan di Rusia dengan menggunakan pesawat militer atas permintaan Presiden Vladimir Putin. Namun, klaim ini segera dibantah oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, yang menyangkal Mojtaba dirawat di Moskow.
Dengan bantahan tersebut, keberadaan dan kondisi Mojtaba menjadi kabur dan penuh teka-teki. Tidak ada kepastian lokasi maupun keadaan fisiknya saat ini.
Upaya Intelijen Dunia Melacak Mojtaba
CIA dan Mossad, bersama badan intelijen lain, melakukan berbagai langkah untuk mengidentifikasi keaslian dan waktu foto-foto Mojtaba yang tersebar di media sosial. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa mereka mencoba membedakan apakah foto-foto tersebut baru atau lama.
"Kami berharap bisa melihat Mojtaba dalam bentuk tertentu, namun dia tidak memanfaatkan kesempatan dan tradisi tersebut," ujar pejabat AS anonim tersebut, menambahkan, "Ini adalah pertanda buruk."
Raz Zimmt, Direktur Program Iran di Institut Studi Keamanan Nasional Tel Aviv, meyakini bahwa Mojtaba beroperasi secara di balik layar, namun perannya terbatas karena cedera dan alasan keamanan. Zimmt menyatakan, "Dalam kondisi luar biasa seperti ini, kita tidak dapat mengharapkan dia tampil di depan umum, bahkan mungkin dia tidak mampu merilis video agar publik tidak melihat seberapa parah kondisinya."
Krisis Kepemimpinan dan Kendali di Iran
Menurut tiga sumber AS yang mengetahui pengarahan CIA di Kongres, Direktur CIA John Ratcliffe dan Direktur Badan Intelijen Pertahanan Jenderal James Adams menyampaikan bahwa rezim Iran belum runtuh setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, namun terdapat krisis komando dan kendali yang serius.
Pejabat senior Israel menyatakan, "Kami tidak memiliki bukti bahwa Mojtaba benar-benar memberi perintah." Meski demikian, intelijen AS dan Israel yakin Mojtaba masih hidup karena adanya permintaan pertemuan tatap muka oleh sejumlah pejabat Iran yang sulit terlaksana karena alasan keamanan.
Selain mencari keberadaan Mojtaba, perhatian juga tertuju pada siapa sebenarnya yang memegang komando utama di Iran saat ini. Setelah pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran Ali Larijani pada 17 Maret oleh serangan AS-Israel, kekuasaan Iran diduga kuat berada di tangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pidato Publik dan Dugaan Manipulasi
Pada 12 Maret lalu, Mojtaba menyampaikan pidato publik pertamanya pasca pengangkatan melalui teks yang dibacakan di televisi pemerintah tanpa menampilkan sosoknya secara fisik. Laporan Al Jarida menyebut bahwa pidato tersebut kemungkinan besar bukan ditulis oleh Mojtaba sendiri, melainkan oleh Ali Larijani sebelum kematiannya.
Situasi ini menambah kesan ketidakpastian dan kaburnya kepemimpinan resmi di Iran saat ini, yang memberi peluang bagi IRGC untuk memperkuat kendali mereka atas negara tersebut.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, ketidakjelasan keberadaan Mojtaba Khamenei menandakan ketegangan serius dalam stabilitas politik dan keamanan Iran. Absennya sosok pemimpin tertinggi yang biasanya sangat simbolik pada momen Nowruz memperlihatkan gambaran ketidakpastian yang dapat memicu konflik internal atau perebutan kekuasaan di tubuh rezim.
Lebih jauh, fakta bahwa badan intelijen global seperti CIA dan Mossad kesulitan melacaknya mengindikasikan tingkat kerahasiaan dan perlindungan yang sangat tinggi terhadap sosok Mojtaba. Ini juga bisa menjadi taktik Iran untuk mengaburkan kekuatan sebenarnya yang mengendalikan negara, yang saat ini diyakini berada di tangan IRGC.
Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana dinamika internal Iran berkembang, terutama apakah IRGC akan semakin mendominasi atau ada figur pemimpin baru yang akan muncul. Situasi ini bisa berdampak pada kebijakan luar negeri Iran, terutama terkait ketegangan dengan AS dan Israel, serta stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Pengamat dan pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan intelijen dan laporan resmi guna memahami implikasi jangka panjang dari situasi genting ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0