Israel Mulai Pakai Amunisi Jadul Usia 50 Tahun karena Rugi Perang Lawan Iran
Militer Israel dikabarkan mulai menggunakan amunisi lawas berusia sekitar 50 tahun dalam konflik yang sedang berlangsung melawan Iran. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kerugian besar yang diderita akibat biaya perang yang terus membengkak sejak pecahnya pertempuran pada 28 Februari 2026 lalu.
Penggunaan Amunisi Jadul untuk Tekan Biaya Perang Israel
Lembaga siaran publik Israel, KAN, pada Minggu (22/3/2026) melaporkan bahwa militer Negeri Zionis beralih menggunakan jenis amunisi non-presisi yang selama ini tersimpan di gudang selama puluhan tahun. Amunisi ini diperkirakan telah berumur setengah abad dan sebelumnya tidak digunakan dalam operasi tempur modern.
Menurut KAN, keputusan ini bertujuan untuk menghemat pengeluaran perang sekaligus mengosongkan ruang penyimpanan persenjataan yang menumpuk. Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait isu ini.
Biaya Perang yang Membengkak Jadi Tekanan Utama Israel
Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat Israel atas potensi kerugian finansial dan material yang semakin besar akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Surat kabar Haaretz sebelumnya mengungkapkan bahwa selama 20 hari pertama perang, militer Israel telah menghabiskan dana sekitar US$6,4 miliar atau setara dengan Rp108,8 triliun.
Pemerintah Israel kemudian mengumumkan alokasi dana tambahan sebesar US$8,225 miliar (Rp14 triliun) untuk membeli perlengkapan keamanan penting, di tengah laporan bahwa Israel mulai mengalami kekurangan rudal pencegat yang vital untuk sistem pertahanan udara mereka.
Di sisi lain, Angkatan Darat Israel dikabarkan sedang mempersiapkan pengajuan permintaan tambahan anggaran ke parlemen di luar anggaran perang yang sudah mencapai US$12,5 miliar (Rp212,5 triliun).
Perang Berkepanjangan dengan Strategi Atrisi Iran
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, perang antara AS-Israel dan Iran telah meluas ke negara-negara Arab lainnya. Target serangan kini tidak hanya pangkalan militer saja, tetapi juga fasilitas energi penting, termasuk milik negara-negara Teluk.
Para pengamat menilai bahwa Iran menggunakan strategi perang atrisi yang bertujuan menguras kekuatan ekonomi Israel dan sekutunya. Strategi ini mengandalkan perang yang berlarut-larut dengan biaya ekonomi dan psikologis yang tinggi, namun menghindari konflik terbuka secara langsung.
Strategi tersebut melibatkan penggunaan proksi militer dan taktik asimetris yang mempersulit lawan untuk meraih kemenangan jelas dalam waktu singkat.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keputusan Israel menggunakan amunisi jadul merupakan indikator nyata dari tekanan finansial dan sumber daya yang sangat berat akibat perang yang berkepanjangan. Ini bukan hanya soal biaya, tetapi juga menunjukkan bahwa persediaan persenjataan modern Israel mulai menipis akibat intensitas pertempuran yang tinggi.
Langkah ini bisa berdampak pada efektivitas militer Israel dalam jangka menengah, karena amunisi lawas biasanya kurang presisi dan berpotensi menimbulkan risiko lebih besar di lapangan. Hal ini juga mencerminkan tantangan serius bagi aliansi AS-Israel dalam mempertahankan keunggulan militer mereka di Timur Tengah.
Ke depan, publik dan pengamat harus mencermati bagaimana konflik ini berkembang, apakah akan terjadi eskalasi yang lebih luas, atau adakah upaya diplomasi yang mampu menurunkan tensi. Penggunaan amunisi jadul oleh Israel menjadi sinyal bahwa perang ini mungkin akan berlangsung lebih lama dan lebih mahal dari perkiraan awal.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0