OpenClaw di Cina: Demam AI Otonom yang Memicu Kekhawatiran Keamanan

Mar 23, 2026 - 21:50
 0  4
OpenClaw di Cina: Demam AI Otonom yang Memicu Kekhawatiran Keamanan

OpenClaw, agen AI open-source yang sangat otonom, tengah menjadi fenomena di Cina. Namun, di balik popularitasnya yang pesat, muncul kekhawatiran serius terkait keamanan yang membuat para pengguna dan pemerintah setempat mempertimbangkan kembali penggunaan teknologi ini.

Ad
Ad

Popularitas OpenClaw di Cina

Di tengah perlambatan ekonomi Cina, mencari pekerjaan kini membutuhkan tenaga ekstra. Namun, bagi Hu Qiyun, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Shanghai, "lobster" miliknya menjadi penyelamat. OpenClaw yang dipasang di komputernya secara otomatis menghafal resume dan setiap hari memindai berbagai lowongan pekerjaan di bidang rekayasa perangkat lunak. Agen AI ini membantunya melamar pekerjaan, mempersiapkan wawancara, hingga melacak status aplikasi.

"Saya menganggap OpenClaw sebagai asisten pribadi saya," ujar Hu. "Ini menghemat waktu saya setidaknya tiga jam setiap hari."

Berbeda dengan AI lain yang mengharuskan pengguna menulis instruksi detail, OpenClaw dapat diberi izin untuk menjalankan tugas tanpa pengawasan ketat, termasuk mengelola email, menulis laporan, dan bahkan memesan restoran. Jensen Huang, CEO Nvidia, menyebutnya sebagai "ChatGPT berikutnya" dan menyatakan OpenClaw sebagai proyek open-source paling sukses dalam sejarah manusia.

Fenomena "Membesarkan Lobster" dan Penyebaran di Cina

Diciptakan oleh programmer Austria, Peter Steinberger, OpenClaw dirilis pada November lalu dan dengan cepat menyebar terutama di Cina. Pemerintah Beijing aktif mendukung teknologi AI generatif sebagai bagian dari persaingan strategis dengan Amerika Serikat.

Awal Maret ini, ratusan orang mengantri di markas Tencent di Shenzhen untuk mendapatkan instalasi gratis OpenClaw. Menurut perusahaan keamanan siber Amerika, SecurityScorecard, pengguna OpenClaw di Cina hampir dua kali lipat jumlahnya dibanding di AS.

Lebih dari 600 juta orang di Cina, sekitar sepertiga populasi, menggunakan AI generatif. Istilah "membesarkan lobster" menjadi populer di internet Cina untuk menggambarkan proses instalasi dan pelatihan OpenClaw, terinspirasi dari logo merah perangkat lunak tersebut.

Kekhawatiran Keamanan dan Respons Pemerintah

Namun, semarak OpenClaw di Cina mulai meredup akibat kekhawatiran keamanan yang serius. OpenClaw, yang baru-baru ini diakuisisi oleh OpenAI, perusahaan pembuat ChatGPT, memiliki akses penuh ke komputer pengguna dan bisa disusupi jika pengaturan keamanan tidak tepat. Ini menjadi tantangan besar bagi pengguna non-teknis.

Berbagai insiden telah dilaporkan, seperti OpenClaw yang secara sembarangan menghapus email atau melakukan pembelian kartu kredit tanpa izin. Selain itu, risiko hacking makin meningkat.

“Aset dari hampir 23.000 pengguna OpenClaw di Cina terpapar di internet dan sangat mungkin menjadi sasaran utama serangan siber,” ujar Pusat Peringatan Keamanan Siber Nasional Cina.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi melalui Akademi Informasi dan Komunikasi Cina sedang mengembangkan standar pengamanan untuk agen AI seperti OpenClaw. Ini termasuk pengelolaan izin pengguna, transparansi proses, risiko perilaku yang dapat dikendalikan, serta platform dan alat yang dapat dipercaya.

Database Kerentanan Nasional juga mengeluarkan pedoman praktik terbaik, seperti hanya memberikan izin minimum yang diperlukan.

Beberapa perusahaan, universitas, dan pegawai pemerintah di Cina mulai membatasi atau melarang penggunaan OpenClaw. Layanan instalasi berbayar yang sempat populer kini juga menawarkan layanan uninstall bagi pengguna yang khawatir.

Pengalaman Pengguna dan Reaksi Terhadap Risiko

Hu sendiri mengaku waspada terhadap kerentanan OpenClaw. Ia merasa tidak sepenuhnya memahami bagaimana AI ini memproses pertanyaan dan mengendalikan komputernya.

"Saya menulis beberapa pertanyaan dan mendapat jawaban, tapi saya tidak tahu bagaimana ia memahami pertanyaan saya atau mengontrol komputer," kata Hu.

Sky Lei, pembuat OpenClaw yang berbasis di Beijing, bahkan menghapus aplikasi itu setelah tiga hari karena merasa risiko keamanan tidak sebanding dengan manfaatnya.

"Saat ini, saya pikir risiko dan keuntungan tidak proporsional sama sekali," ujarnya.

Dukungan Pemerintah dan Masa Depan OpenClaw di Cina

Meskipun ada risiko, pemerintah dan perusahaan di Cina tetap berinvestasi besar dalam teknologi ini. Pemerintah Shenzhen menawarkan dana hibah hingga 5 juta yuan (sekitar 700 ribu dolar AS) untuk startup yang mengembangkan aplikasi berbasis OpenClaw.

Saham perusahaan AI Cina melonjak setelah pujian Huang terhadap OpenClaw. Alibaba, Baidu, dan ByteDance meluncurkan produk berbasis OpenClaw. Tencent juga merilis alat yang mengintegrasikan OpenClaw langsung ke aplikasi WeChat yang memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan.

Salah satu fitur khas OpenClaw adalah pengguna berinteraksi seolah berbicara dengan manusia yang mengingat percakapan sebelumnya dan diberi nama saat instalasi.

"Saya enggan menghapusnya sendiri karena terasa seperti membunuh sesuatu, jadi saya harus menguninstallnya dengan cepat," kata Lei.

Hu juga sempat menghapus OpenClaw, namun menginstalnya kembali karena melihat pembaruan yang cepat dan banyak pengembang yang berkontribusi membuatnya lebih pintar dan aman.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena OpenClaw di Cina menunjukkan bagaimana teknologi AI otonom dapat mendatangkan manfaat luar biasa sekaligus risiko yang kompleks. Popularitasnya yang cepat memperlihatkan kebutuhan masyarakat akan asisten digital yang cerdas dan serbaguna, terutama di era persaingan ekonomi dan teknologi global.

Namun, "demam lobster" ini juga memperingatkan kita tentang pentingnya keamanan siber dalam pengembangan dan penggunaan AI. Akses penuh yang diberikan kepada agen AI seperti OpenClaw tanpa pengawasan ketat berpotensi membuka pintu bagi serangan siber dan penyalahgunaan data pribadi. Ini bukan hanya masalah teknis, tapi juga sosial dan politik yang harus diatur dengan cermat.

Masa depan OpenClaw dan teknologi serupa di Cina bergantung pada kemampuan pemerintah dan industri untuk menyeimbangkan inovasi dengan regulasi yang efektif. Pengawasan, edukasi pengguna, serta standar keamanan yang ketat harus menjadi prioritas agar teknologi ini bisa bermanfaat luas tanpa menimbulkan bahaya baru.

Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan regulasi dan update teknologi OpenClaw, terutama jika mereka termasuk pengguna atau pelaku bisnis yang bergantung pada AI otonom. Perubahan cepat dalam ekosistem ini mengharuskan kesadaran dan adaptasi yang sigap agar tidak terjebak dalam risiko yang tidak diinginkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad