Mengapa Rusia dan China Enggan Menolong Iran Hadapi AS-Israel? Ini Analisis Lengkap

Mar 4, 2026 - 11:01
 0  2
Mengapa Rusia dan China Enggan Menolong Iran Hadapi AS-Israel? Ini Analisis Lengkap

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini telah memasuki hari keempat, namun Rusia dan China yang merupakan sekutu dekat Iran belum memberikan dukungan langsung. Kedua negara ini hanya merespons dengan kritik diplomatik yang lemah, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas dan batasan kemitraan strategis mereka dengan Teheran.

Ad
Ad

Respons Diplomatik Rusia dan China Terhadap Konflik

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam panggilan telepon dengan koleganya dari Rusia, menyatakan kecaman keras terhadap serangan yang dipimpin oleh AS. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut, yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, adalah "tidak dapat diterima". Wang Yi juga mengutuk upaya perubahan rezim secara terang-terangan yang dilakukan oleh AS dan Israel.

Sementara itu, Rusia, yang masih terfokus pada invasi ke Ukraina, mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa tindakan agresi AS dan Israel melanggar hukum internasional serta prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyoroti bahwa serangan ini mengancam stabilitas di kawasan.

Presiden Rusia dan China keduanya menyerukan gencatan senjata segera dan mengajak semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi guna menyelesaikan konflik ini secara damai.

Tekanan Politik dan Prioritas Strategis China

Menurut Gabriel Wildau, direktur pelaksana yang mengkhususkan diri dalam urusan China di firma penasihat Teneo, meskipun China mengecam serangan AS dan Israel secara verbal, belum nampak langkah konkret untuk mendukung Iran secara militer atau sipil.

Prioritas utama China saat ini adalah menjaga hubungan détente dengan AS, yang menjadi faktor kunci dalam strategi geopolitiknya. Rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini diperkirakan akan membahas beberapa isu penting, termasuk Iran.

"China kemungkinan akan mencari konsesi dalam isu-isu yang lebih dekat dengan kepentingannya seperti Taiwan dan perdagangan," kata Ahmed Aboudouh, peneliti di Chatham House. "Sebagai imbalan, China mungkin memberikan sinyal lebih lembut terhadap Iran."

Rusia dan China: Sekutu atau Pengamat Pasif?

Media sosial yang terkait dengan pemerintah China bahkan menyuarakan pandangan skeptis terhadap dukungan bagi Iran, menyatakan bahwa "Iran tidak memiliki sekutu sejati". Pernyataan ini menegaskan bahwa negara-negara, termasuk yang dekat dengan Iran, akan lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka sendiri dalam menghadapi krisis ini.

Fakta bahwa Rusia dan China belum memberikan dukungan nyata kepada Iran di tengah serangan AS dan Israel menunjukkan keterbatasan persekutuan mereka, yang lebih banyak berbasis retorika daripada aksi nyata. Ini juga menandai tantangan besar bagi Iran untuk menghadapi tekanan militer dan diplomatik dari kekuatan besar dunia secara sendirian.

Langkah AS dan Israel dalam Konflik

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa operasi militer AS di Iran akan berlanjut hingga semua tujuan strategis tercapai, dengan kemungkinan berlangsung selama empat minggu ke depan. Hal ini menunjukkan eskalasi konflik yang serius dan risiko destabilitas regional yang lebih luas.

Dalam konteks ini, dukungan langsung dari sekutu strategis seperti Rusia dan China menjadi sangat penting bagi Iran, namun kenyataannya mereka memilih untuk tetap berada di luar keterlibatan langsung, yang berimplikasi pada dinamika geopolitik global.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, ketidaksiapan Rusia dan China untuk menolong Iran secara langsung mencerminkan realitas politik internasional yang pragmatis. Meski memiliki hubungan dekat dengan Iran, kedua negara lebih memilih menjaga kepentingan nasional dan menghindari konfrontasi langsung dengan AS dan Israel yang bisa memperburuk posisi mereka di panggung global.

Ini juga mengindikasikan bahwa hubungan "kemitraan strategis" antara Iran, Rusia, dan China lebih bersifat simbolis dan politis daripada berwujud dukungan militer atau ekonomi yang signifikan di saat krisis. Dengan AS dan Israel yang semakin agresif, Iran menghadapi risiko isolasi yang intens, yang bisa mengubah peta kekuatan di Timur Tengah.

Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana dinamika pertemuan tingkat tinggi antara AS dan China akan mempengaruhi posisi Beijing terhadap Iran dan bagaimana Moskow mengelola konflik ini sambil tetap terlibat di Ukraina. Sikap mereka akan menjadi penentu besar bagi stabilitas regional dan global.

Masyarakat dan pelaku politik di seluruh dunia harus mewaspadai potensi eskalasi konflik yang lebih luas dan dampaknya terhadap perdamaian internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad