Ciri Makanan Mengandung Formalin dan Boraks yang Wajib Diketahui Konsumen

Mar 5, 2026 - 11:06
 0  3
Ciri Makanan Mengandung Formalin dan Boraks yang Wajib Diketahui Konsumen

BPOM kembali mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membeli takjil atau makanan siap santap tanpa mengenali ciri-ciri yang mengindikasikan adanya bahan berbahaya seperti formalin dan boraks. Makanan yang terlihat menarik dan tahan lama belum tentu aman untuk dikonsumsi, bahkan bisa membahayakan kesehatan jika mengandung bahan kimia berbahaya yang biasanya digunakan untuk keperluan industri.

Ad
Ad

Ciri-ciri Makanan Mengandung Formalin

Formalin adalah zat kimia yang secara resmi digunakan sebagai pengawet kayu, tekstil, dan organ tubuh, namun sering disalahgunakan secara ilegal untuk mengawetkan makanan agar terlihat segar lebih lama. BPOM menjelaskan ada beberapa ciri makanan yang mengandung formalin, yaitu:

  • Tekstur makanan tidak mudah putus atau hancur meskipun sudah lewat dari waktu biasa
  • Mengeluarkan bau khas formalin yang menyengat
  • Dapat bertahan lebih dari satu hari di suhu ruang tanpa terlihat rusak

Beberapa pangan yang sering ditemukan mengandung formalin adalah mi basah, tahu, dan ikan. Konsumsi formalin secara berulang dalam jangka panjang bisa memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari iritasi saluran pencernaan hingga risiko kanker.

Ciri-ciri Makanan Mengandung Boraks

Boraks, yang juga dikenal dengan nama bleng atau pijer, sering dipakai ilegal untuk membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan menarik. BPOM menyebutkan ciri makanan mengandung boraks sebagai berikut:

  • Mempunyai tekstur sangat kenyal dan elastis
  • Tidak mudah hancur dan tidak lengket saat disentuh
  • Untuk beberapa produk seperti kerupuk gendar, bisa menimbulkan rasa getir

Makanan yang sering mengandung boraks antara lain bakso, mi basah, siomay, lontong, dan kerupuk gendar. Sama seperti formalin, konsumsi boraks jangka panjang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, seperti kerusakan ginjal dan gangguan sistem saraf.

Pewarna Tekstil dalam Makanan yang Perlu Diwaspadai

Selain formalin dan boraks, BPOM juga menyoroti penyalahgunaan pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan Methanyl Yellow dalam makanan. Zat-zat ini sebenarnya digunakan untuk mewarnai kertas dan tekstil, namun kadang disalahgunakan untuk memberi warna mencolok pada makanan.

  • Rhodamin B biasanya menimbulkan warna merah muda sangat mencolok, berpendar, dan warna tidak merata dengan titik-titik pada makanan seperti kerupuk, jajanan pasar, dan minuman.
  • Methanyl Yellow digunakan pada makanan seperti tahu kuning dan kerupuk kuning, dengan warna kuning terang yang berpendar dan tidak homogen.

Konsumsi pewarna tekstil ini dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, termasuk kerusakan hati dan potensi kanker.

Tips Memilih Makanan Aman dari BPOM

BPOM mengimbau masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas dengan mengenali ciri-ciri makanan yang mengandung bahan berbahaya dan memilih produk yang jelas keamanannya. Beberapa tips yang bisa diterapkan antara lain:

  1. Perhatikan tekstur makanan; hindari yang terlalu kenyal atau terlalu tahan lama tanpa alasan jelas
  2. Cium aroma makanan, waspadai bau menyengat seperti formalin
  3. Perhatikan warna makanan, terutama warna mencolok yang berpendar dan tidak merata
  4. Beli makanan dari penjual terpercaya yang menerapkan standar keamanan pangan
  5. Jangan tergiur harga murah atau tampilan menarik tanpa memastikan keamanannya

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, peringatan BPOM ini sangat penting mengingat maraknya penyalahgunaan bahan kimia berbahaya dalam makanan siap santap, terutama saat bulan Ramadan ketika konsumsi takjil melonjak. Konsumen seringkali hanya terpaku pada tampilan menarik dan harga murah tanpa sadar risiko kesehatan jangka panjang yang mengintai. Praktik penggunaan formalin, boraks, dan pewarna tekstil ini bukan hanya masalah keamanan pangan, tapi juga cerminan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di lapangan.

Ke depan, pemerintah dan BPOM perlu memperkuat edukasi dan pengawasan secara rutin, termasuk penerapan sanksi tegas bagi pelaku penyalahgunaan bahan berbahaya. Di sisi lain, masyarakat harus lebih kritis dan selektif terhadap makanan yang dibeli, tidak hanya pada waktu tertentu tapi sepanjang tahun. Kesadaran konsumen adalah kunci utama untuk mencegah beredarnya pangan berbahaya yang dapat merusak kesehatan masyarakat secara luas.

Selain itu, perkembangan teknologi digital juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan informasi keamanan pangan secara cepat kepada masyarakat. Misalnya, aplikasi yang memudahkan pengecekan status keamanan produk atau sistem pelaporan penjualan pangan ilegal. Dengan kolaborasi berbagai pihak, diharapkan masalah bahan berbahaya dalam makanan bisa diminimalisasi secara signifikan.

Penting untuk selalu waspada dan memilih pangan yang aman demi kesehatan jangka panjang. Jangan sampai mengorbankan kesehatan hanya karena tergiur tampilan dan harga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad