Obesitas Berisiko Tinggi Picu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

Mar 5, 2026 - 11:42
 0  3
Obesitas Berisiko Tinggi Picu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

Obesitas tidak hanya soal kelebihan berat badan, tetapi menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan serius, termasuk gangguan reproduksi dan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Hal ini disampaikan oleh dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K, dokter spesialis penyakit dalam yang menekankan pentingnya kesadaran akan bahaya obesitas.

Ad
Ad

Obesitas dan Gangguan Sistem Reproduksi

Menurut dr. Vardian, obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon, terutama pada perempuan, sehingga memicu kondisi seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) dan endometriosis. Kondisi ini mengganggu kesuburan dan kualitas hidup perempuan.

“Obesitas itu banyak banget datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas. Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” ujar Vardian saat ditemui di Jakarta.

Lebih jauh, dr. Vardian menuturkan bahwa pada fase perimenopause di usia 45-50 tahun ke atas, kadar hormon perempuan mulai menurun dan risiko penyakit meningkat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat obesitas.

Definisi Obesitas yang Perlu Dipahami Lebih Dalam

Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa obesitas tidak bisa hanya diukur dari berat badan atau Body Mass Index (BMI) semata. BMI seringkali gagal menggambarkan distribusi lemak tubuh secara akurat.

“Banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” jelas dr. Vardian.

Pengukuran lingkar perut menjadi indikator penting karena lemak perut yang tinggi berhubungan erat dengan risiko berbagai penyakit kronis.

Obesitas Sebagai Penyakit Kronis dan Dampaknya pada Kesehatan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022 telah menetapkan obesitas sebagai penyakit kronis mengingat dampaknya yang luas terhadap kesehatan.

Dr. Vardian memaparkan bahwa obesitas tidak hanya meningkatkan risiko gangguan reproduksi, tetapi juga berbagai penyakit berat lain, seperti:

  • Stroke dan penyakit jantung: Penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung dan gagal jantung.
  • Diabetes tipe 2: Obesitas menjadi faktor risiko utama berkembangnya diabetes tipe 2.
  • Fatty liver yang dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
  • Batu empedu dan gangguan metabolik lainnya.
  • Gangguan tidur, seperti sleep apnea yang menyebabkan henti napas saat tidur.
  • Penurunan libido akibat perubahan hormon karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen.
  • Peningkatan risiko demensia dan Alzheimer, yang berkaitan dengan obesitas jangka panjang.

“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” tambahnya.

Penanganan Obesitas yang Komprehensif

Menurut dr. Vardian, penanganan obesitas tidak cukup hanya dengan niat mengurangi makan atau olahraga. Pendekatan yang efektif harus melibatkan:

  1. Peran dokter dan tenaga kesehatan dalam diagnosis dan pemantauan.
  2. Modifikasi gaya hidup secara berkelanjutan.
  3. Penggunaan farmakologi atau obat-obatan jika diperlukan.
  4. Operasi bariatrik sebagai pilihan untuk kasus berat dan sulit diatasi.

“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu,” ujar dr. Vardian.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan dr. Vardian membuka mata kita bahwa obesitas lebih dari sekadar masalah estetika atau berat badan. Ini adalah persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks dengan dampak jangka panjang yang serius, mulai dari gangguan reproduksi hingga penyakit degeneratif seperti Alzheimer. Seringkali masyarakat hanya melihat obesitas dari sisi penampilan, mengabaikan risiko penyakit yang mengintai di baliknya.

Selain itu, penting untuk memahami bahwa pengukuran obesitas harus lebih holistik. Pendekatan yang hanya mengandalkan BMI bisa menyesatkan karena tidak mencerminkan distribusi lemak tubuh. Oleh karena itu, edukasi tentang indikator lain seperti lingkar perut harus lebih digalakkan.

Kedepannya, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pemerintah dan tenaga medis memperkuat program pencegahan dan penanganan obesitas secara terintegrasi, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyediakan akses ke layanan kesehatan yang memadai. Tren obesitas yang terus meningkat harus menjadi alarm nasional agar tidak terjadi ledakan penyakit kronis yang membebani sistem kesehatan.

Memahami risiko obesitas dan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini menjadi kunci utama untuk menghindari komplikasi berat ini. Mari tetap update dengan informasi kesehatan terpercaya dan konsultasi ke dokter bila mengalami tanda-tanda obesitas berisiko.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad