Harga Emas 2026 Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Dolar AS

Mar 11, 2026 - 11:04
 0  5
Harga Emas 2026 Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Dolar AS

Harga emas dan perak kembali menunjukkan penguatan setelah mengalami tekanan cukup signifikan pada awal Maret 2026. Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh dua kekuatan besar di pasar global, yakni ketegangan geopolitik yang masih membayangi dan fluktuasi nilai dolar Amerika Serikat (AS) yang berperan penting dalam menentukan arah harga logam mulia.

Ad
Ad

Harga Emas Menguat Setelah Pelemahan Dolar AS dan Minyak

Merujuk data dari Refinitiv, harga emas ditutup pada level US$ 1.931,93 per troy ons pada perdagangan Selasa (10/3/2026), naik sebesar 1,06% setelah sebelumnya turun 0,64% pada Senin. Pada Rabu pagi (11/3/2026), harga emas masih menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,05% di kisaran US$ 1.933,93 per troy ons.

Peningkatan harga emas ini dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS yang tercermin dari indeks dolar turun dari 99,18 ke 98,89 pada Selasa. Penurunan indeks dolar ini sendiri terjadi seiring dengan meredanya harga minyak dunia yang sebelumnya melonjak akibat ketegangan geopolitik.

Dinamika Dua Kekuatan yang Memengaruhi Harga Emas

Harga emas sering dianggap sebagai safe haven saat terjadi krisis geopolitik, karena investor mencari aset yang lebih aman dibandingkan mata uang atau saham. Namun, harga emas juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS. Dolar yang menguat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan dan harga emas.

Pada Senin lalu, indeks dolar melonjak ke level 99, menyebabkan harga emas anjlok. Namun, pidato Presiden AS Donald Trump pada Selasa kemarin memberikan sinyal bahwa konflik geopolitik yang menekan pasar akan segera mereda. Pernyataan ini langsung menurunkan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi AS.

Pernyataan Trump tentang potensi akhir konflik menekan harga minyak dan memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed.

Dengan harga minyak yang melandai, tekanan inflasi di AS diharapkan menurun, sehingga bank sentral AS (The Fed) berpotensi memangkas suku bunga. Potensi penurunan suku bunga ini menyebabkan dolar AS melemah karena investor melepas aset dolar, sehingga harga emas kembali menguat.

Potensi Inflasi dan Dampaknya pada Harga Emas

Meskipun harga minyak turun, levelnya masih relatif tinggi dibandingkan sebelum konflik geopolitik, yang berarti risiko inflasi tetap ada. Analis mencatat bahwa inflasi kemungkinan masih tinggi, namun tidak cukup besar untuk menghalangi The Fed dalam menurunkan suku bunga pada tahun ini.

Menurut Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, "Harga minyak yang turun namun tetap tinggi berarti inflasi akan meningkat, tapi tidak cukup signifikan untuk mencegah penurunan suku bunga The Fed pada 2026". Hal ini memberikan sedikit ketenangan bagi investor yang mulai mempercayai bahwa nilai mata uang akan melemah secara bertahap, sehingga menjadi peluang bagi emas sebagai lindung nilai.

Namun, gangguan pada jalur pelayaran utama dan harga energi yang masih tinggi menjadi faktor risiko yang harus diwaspadai, karena dapat memicu volatilitas baru di pasar komoditas.

Perkembangan Harga Perak Seiring dengan Emas

Selain emas, harga perak juga mengalami kenaikan signifikan. Pada Selasa (10/3/2026), harga perak ditutup di posisi US$ 88,52 per troy ons, naik 1,6%. Pada Rabu pagi, harga perak kembali menguat 0,13%, mengikuti tren positif emas.

Kenaikan harga perak ini juga dipengaruhi oleh faktor serupa, yakni pelemahan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik yang mendorong permintaan logam mulia.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pergerakan harga emas sepanjang Maret 2026 mencerminkan pertempuran antara dua kekuatan pasar yang saling berlawanan: ketegangan geopolitik yang mendorong harga emas naik sebagai aset safe haven dan penguatan dolar AS yang cenderung menekan harga emas karena efek biaya bagi pembeli internasional.

Pidato Presiden Trump yang memberikan harapan meredanya konflik geopolitik menjadi momen krusial yang menurunkan harga minyak dan memperbaiki sentimen pasar. Dengan potensi pemangkasan suku bunga The Fed yang semakin nyata, ini bisa menjadi faktor pendorong utama bagi harga emas dan aset non-yield pada kuartal kedua tahun ini.

Namun, risiko ketidakpastian global dan harga energi yang masih tinggi harus terus diwaspadai. Investor disarankan untuk memantau data inflasi AS yang akan diumumkan, karena kenaikan inflasi dapat mengecilkan peluang pemangkasan suku bunga dan menekan harga emas kembali.

Ke depan, harga emas akan tetap menjadi barometer utama dalam mencerminkan ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus waspada dan mengikuti perkembangan situasi secara dinamis agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad