Trump Terjebak Jebakan Iran: AS Sulit Menang Perang di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini dinilai telah terperangkap dalam jebakan perang yang dibuat oleh Iran, tanpa memiliki strategi yang jelas untuk keluar dari konflik yang semakin pelik ini. Alih-alih mendapatkan kemenangan cepat, AS justru terseret dalam perang urat syaraf dan ekonomi yang dipasang oleh Iran, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz.
Trump dan Kegagalan Strategi di Timur Tengah
Menurut Tamer Ajrami, seorang akademisi ilmu politik, kegagalan Gedung Putih dalam merumuskan strategi menghadapi Iran sangat mencolok. Dalam pengamatannya, Trump tidak hanya gagal belajar dari sejarah, tetapi juga tidak memahami dinamika yang sedang berlangsung di lapangan.
"Presiden Trump tidak hanya gagal belajar dari sejarah. Ia juga gagal belajar dari apa yang terjadi saat ini," ujar Ajrami, dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (17/3/2026).
Kesalahan ini bukan sekadar kesalahan taktis kecil, melainkan sebuah kesalahan fatal karena Trump memasuki medan perang tanpa rencana keluar yang jelas. Iran justru berhasil mengatur medan tempur menjadi perang yang melelahkan dan berlarut-larut, bukan perang dengan kemenangan cepat.
Selat Hormuz: Titik Lemah AS
Salah satu titik lemah terbesar Trump dalam konfrontasi ini adalah Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak dunia yang sangat vital dan berada di bawah pengaruh kuat Iran. Ajrami menekankan bahwa AS salah besar jika mengira kekuatan militer saja bisa memaksa Iran menyerah dan mengontrol Selat Hormuz.
"Kendali atas selat itu bukanlah keputusan Amerika. Itu adalah keputusan Iran," tegas Ajrami.
Gangguan kecil yang dilakukan oleh pasukan Iran di Selat Hormuz, misalnya serangan dengan perahu motor bersenjata peluncur roket (RPG), sudah cukup untuk membuat pasar minyak global panik, harga minyak melonjak, dan biaya asuransi pengiriman membengkak. Kondisi ini menempatkan Washington dalam dilema:
- Jika AS menyatakan misi selesai dan mundur, AS akan terlihat kalah secara ekonomi karena ancaman di Selat Hormuz masih ada.
- Jika AS melakukan eskalasi militer untuk menjaga Selat tetap terbuka, AS berisiko memasuki perang lebih luas dengan biaya tinggi dan tanpa jaminan kemenangan.
Asumsi Intelijen Israel dan Tekanan Sekutu
Menurut Ajrami, jebakan ini sebagian besar berasal dari asumsi intelijen Israel yang memberi keyakinan kepada Trump bahwa serangan terhadap pejabat tinggi Iran akan mengguncang rezim dan memicu keruntuhan internal. Namun, asumsi tersebut meleset.
"Sistem tidak runtuh, dan jalanan tidak meledak seperti yang diharapkan. Iran cepat mengorganisir kepemimpinan dan menutup kekosongan politik yang diharapkan pihak luar," jelas Ajrami.
Situasi ini menimbulkan ketegangan dalam aliansi AS, Israel, dan negara-negara Teluk. Sementara Washington fokus menjaga Selat Hormuz, Israel ingin memperluas operasi hingga Lebanon, dan negara-negara Teluk mendesak kemenangan cepat demi stabilitas energi. Namun, kekuatan militer AS belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar secara instan.
Perang Biaya dan Kelelahan Strategi AS
Ajrami juga menyoroti ambiguitas tujuan AS yang berusaha mengamankan Selat Hormuz sekaligus menyelesaikan masalah nuklir Iran. Upaya mencari solusi cepat berpotensi menyeret AS ke dalam operasi darat yang panjang dan mahal.
Perang ini kini lebih diukur dari berapa banyak sumber daya yang terkuras setiap hari, mulai dari pertahanan udara hingga amunisi mahal. Iran bertaruh pada waktu dengan strategi menahan konflik agar menjadi beban global:
- Harga minyak yang terus tinggi
- Inflasi meningkat
- Investasi melemah
- Krisis politik di Washington yang makin sulit diatasi
Menurut Ajrami, Iran tidak perlu mengalahkan AS secara militer, cukup membuat perang berlangsung lama sehingga beban ekonomi dan politik AS makin berat.
"Ini bukan perang yang akan diputuskan oleh pidato-pidato keras. Ini akan ditentukan oleh siapa yang mampu menanggung biaya lebih lama," pungkas Ajrami.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, konflik yang melibatkan AS dan Iran di Selat Hormuz ini bukan sekadar persoalan militer, melainkan juga pertarungan strategi geopolitik dan ekonomi global. Trump yang memasuki medan ini dengan pendekatan konfrontasi militer langsung tanpa rencana jangka panjang, kini menghadapi realita pahit: ketergantungan dunia pada Selat Hormuz membuat Iran memiliki leverage yang kuat.
Konflik ini berpotensi menjadi contoh bagaimana perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengelola dampak ekonomi dan politik yang berkepanjangan. Kegagalan Trump dalam memahami dan mengantisipasi dimensi ini memperlihatkan pentingnya strategi yang komprehensif dalam menghadapi negara-negara dengan pengaruh regional kuat seperti Iran.
Ke depan, perhatian harus difokuskan pada bagaimana Washington akan merumuskan strategi baru untuk mengatasi dilema di Selat Hormuz tanpa memperburuk situasi, sembari mengelola tekanan aliansi dan menjaga stabilitas pasar energi global. Konflik ini juga memperingatkan bahwa pendekatan militer semata tidak cukup, dan solusi diplomatik harus menjadi bagian dari strategi AS guna menghindari perang berkepanjangan dan kerugian yang lebih besar.
Dengan situasi yang masih dinamis, publik dan pengamat internasional perlu terus memantau perkembangan ini, karena dampaknya bisa meluas pada stabilitas ekonomi dan politik global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0