Perang AS-Iran: Sejumlah Pejabat Tewas, Pemerintah Iran Tetap Kokoh
Perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dengan serangkaian serangan udara gabungan AS dan Israel yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kepala keamanan Ali Larijani. Meski begitu, pemerintah Iran tidak tumbang dan tetap berdiri kokoh, sebuah kondisi yang cukup unik dibandingkan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
Struktur Kekuasaan Iran yang Sulit Digoyang
Sejak menggulingkan monarki pada 1979, Republik Islam Iran membangun sistem politik yang dirancang untuk tahan banting terhadap berbagai guncangan eksternal maupun internal. Menurut Sébastien Boussois, peneliti Timur Tengah dari European Geopolitical Institute, sistem ini ibarat hidra: "Anda memotong satu kepala, kepala-kepala baru akan tumbuh."
Contohnya, setelah wafatnya Ali Khamenei, putranya, Mojtaba Khamenei, langsung ditunjuk sebagai penerus dalam waktu kurang dari dua minggu. Mojtaba diperkirakan akan melanjutkan garis kepemimpinan keras seperti pendahulunya.
Berbeda dengan negara-negara seperti Tunisia, Mesir, dan Suriah yang rezimnya mudah digulingkan, Iran memiliki sistem "polidiktator"—aliansi antara pendukung Islam politik dan nasionalisme kuat. Kekuasaan tersebar di berbagai lembaga, seperti Dewan Wali yang memiliki hak veto dan mengontrol kandidat pemilu, serta aparat keamanan dan sektor ekonomi besar yang terhubung dengan negara.
Peran Strategis Garda Revolusi Iran
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) adalah tulang punggung rezim Iran, bukan hanya sebagai kekuatan militer tetapi juga aktor politik dan ekonomi yang sangat berpengaruh. Jaringan bisnis IRGC, termasuk konglomerat Khatam al Anbia, mengendalikan banyak sektor, memperkuat sistem patronase dan loyalitas elite terhadap rezim.
Wakil Menteri Pertahanan, Reza Talaeinik, menyatakan setiap komandan IRGC memiliki penerus yang sudah ditunjuk hingga tiga tingkat di bawahnya demi menjaga kesinambungan kekuasaan. Hal ini membuat loyalitas aparat keamanan terhadap rezim sangat kuat, terutama karena ideologi kesyahidan yang diyakini sebagai tugas suci.
Ideologi, Oposisi Terpecah, dan Sistem Pengawasan Ketat
Republik Islam Iran didukung oleh ideologi Syiah yang telah membentuk jaringan keagamaan, politik, dan pendidikan yang kokoh sejak Revolusi 1979. Ideologi ini menjadi sumber persatuan dan rekrutmen yang kuat bagi rezim.
Namun, oposisi di Iran sangat terpecah-belah, mulai dari kelompok reformis, monarkis, kiri, hingga diaspora. Fragmentasi ini diperparah oleh tindakan keras rezim terhadap gerakan protes seperti Gerakan Hijau 2009 dan demonstrasi 2022 yang memicu kematian Mahsa Amini.
Selain itu, sistem pengawasan canggih menggunakan teknologi seperti kecerdasan buatan dan pemadaman internet berkala mempersempit ruang gerak aktivis dan oposisi, baik di dalam maupun luar negeri.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kekokohan pemerintah Iran di tengah konflik dengan AS dan Israel menunjukkan bahwa struktur politik yang dibuat sejak Revolusi 1979 memang sangat strategis dan tangguh. Sistem polidiktator yang tersebar di berbagai institusi membuat Iran sulit diguncang hanya dengan membunuh atau menggulingkan satu tokoh sentral.
Namun, tidak berarti rezim ini tidak memiliki titik lemah. Ketegangan sosial yang meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin menolak rezim, berpotensi menjadi bom waktu bagi stabilitas negara. Fragmentasi oposisi dan tekanan represif juga mengindikasikan bahwa perubahan bisa terjadi jika ada kombinasi mobilisasi massa, perpecahan elite, dan pembelotan aparat keamanan—meskipun saat ini hanya mobilisasi massa yang terlihat.
Selanjutnya, dunia perlu mengawasi perkembangan politik Iran pasca kematian Ali Khamenei dan dinamika kekuasaan yang akan dipegang Mojtaba Khamenei. Intervensi asing yang agresif juga berisiko memperburuk situasi, seperti yang terjadi di Korea Utara atau Kuba, di mana tekanan luar meningkatkan kekuatan kelompok garis keras.
Masa Depan Politik Iran dalam Konflik Regional
Meski rezim Iran saat ini masih bertahan kuat, para analis sepakat bahwa tidak ada rezim yang abadi. Pertanyaannya adalah kapan dan bagaimana perubahan itu akan terjadi. Dengan dukungan ideologi, struktur politik yang menyebar, dan kekuatan Garda Revolusi, Iran tetap menjadi kekuatan utama yang sulit diruntuhkan di Timur Tengah.
Perang dengan AS dan Israel mungkin akan berlanjut, tetapi pemerintah Iran tampaknya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi guncangan tersebut. Bagi dunia internasional, memahami kompleksitas struktur kekuasaan Iran menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang efektif dan mengantisipasi dampak konflik yang lebih luas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0